
Gundah gulana di diri Peter sejak peristiwa yang terjadi di rumah Irene tiga hari yang lalu. Sampai hari ini, dia belum bisa membuktikan kalau dia dijebak oleh Claudia ke Irene.
Ditambah lagi berita bahwa Irene diopname di rumah sakit yang membuat dirinya tambah tidak tenang. Dari kemarin, dia kurang fokus dalam bekerja. Otak dan hatinya selalu tertuju ke Irene.
Tok... tok... tok...
"Masuk." kata Peter sambil memandang situasi ibu kota Jakarta dari lantai dua puluh satu.
"Siang Pak Peter. " sapa Roni sahabat sekaligus rekan kerjanya Peter sambil berjalan ke meja kerjanya Peter.
"Siang juga. Ada apa Ron? " kata Peter sambil menoleh ke Roni yang sedang berjalan cepat ke meja kerjanya dan membawa binder merah di tangannya.
"Ini berkas kerjasama kita dengan Pertamina soal kilang minyak dan gas yang harus dicheck terlebih dahulu sama Anda Pak. " kata Roni sambil menaruh berkas satu binder di atas meja kerja Peter, lalu Roni duduk.
"Udah jam dua belas siang. " kata Peter sambil berjalan ke meja kerjanya.
"Waktunya makan siang dan kita ngobrol sepuasnya sebagai sahabat." kata Roni semangat. "Elo mau makan di mana bro?" kata Roni sambil melihat Peter dengan raut wajah gelisah.
"Nasi rendang padang." jawab Peter datar sambil menduduki badannya di atas kursi mejanya.
"Mau makan di sini atau kita ke rumah makan sederhana? "
"Kita makan di sini, tolong pesanin lewat gofood. " kata Peter sambil duduk lemas di kursi kerjanya.
"Ok." ucap Roni, lalu ia mengambil handphonenya dari saku sebelah kanan celana panjangnya dan menyentuh beberapa ikon di layar handphonenya.
"Huhh... " Peter menghela nafas panjang yang kesekian kali di hari ini untuk menghilangkan rasa frustasi di dalam dirinya.
"Elo kenapa bro? Dari kemarin, muka elo kusut melulu, nggak enak dipandang. Nanti kalau kelihatan sama klien kita jadi berabe." komen Roni.
"Gw belum mendapatkan bukti kalau gw dijebak ama Claudia." jawab Peter datar.
"Tenang aj, nanti juga elo dapat buktinya kalau elo benar - benar dijebak sama Claudia." kata Roni yang berusaha menguatkan sahabatnya.
"Nunggu sampai kapan? Gw dari kemarin bawaannya nggak tenang melulu, semua yang gw lakukan serba salah. Gw frustasi dengan semua ini Ron!! " kata Peter marah.
"Istigfar Peter." ujar Roni serius.
"Tanpa elo ngomong, gw udah sering melakukan itu. " kata Peter sambil mengusap kasar wajahnya.
"Pasrah dan ihklas menjalankan ini semua Peter. " saran Roni.
"Pasrah dan ihklas? Gw nggak ngebayangin bagaimana hidup gw tanpa Irene. Gw nggak ihklas jika harus kehilangan Irene." kata Peter kesal sambil mengusap mukanya dengan kasar.
"Gw yakin elo bisa menghadapi masalah ini Peter. " kata Roni yakin.
"Semoga aja. " ujar Peter datar.
Drrrtttt
Drrrtttt
Drrrtttt
Handphonenya Peter bergetar menandakan panggilan masuk. Kemudian Peter mengambil handphonenya itu yang berada di atas meja kerjanya.
Dia melihatmu nomor asing lagi yang menghubungi dirinya. Lalu di menyentuh ikon hijau untuk menerima panggilan itu.
"Hallo siapa ini? " tanya Peter.
"Gw Ale."
"Apakah sudah dapat buktinya?" tanya Peter to the point.
"Udah."
"Benar kan kalau gw dijebak? "
"Iya. Bukan hanya itu aja. "
"Lalu apa lagi selain dijebak? "
"Adanya penipuan, pemerasan dan rencana pembunuhan. "
"Hah?? Yang benar Le?" tanya Peter kaget.
"Iya. Claudia dibantu oleh Kevin, kevin itu adalah ayah kandung dari anak itu. Elo kenal kevin? "
"Iya, Kevin teman kecilnya Claudia, itu juga gw tahu Kevin dari Claudia."
"Kevin bukan hanya teman kecilnya Claudia tapi juga pacarnya selama enam tahun. "
"Hah? Berarti selama gw jadian ama gw, dia telah berbohong sama gw. Dasar wanita ******! kata Peter kesal.
" Iya, dia telah menipu elo Peter."
"Dia menginginkan uang elo yang bisa menghidupi dirinya beserta keluarganya yang high class, dan rencana pembunuhan dikarenakan dia ingin balas dendam sama elo yang memutuskan hubungan asmara elo sama dia."
"Benar - benar wanita ******! Amarah Peter.
" Mau elo apakan wanita ini? "
"Gw mau memenjarakan dia bersama si Kevin. "
Ok. Tapi menurut gw, wanita itu dan si Kevin itu dibunuh aja."
"Alasan apa sampai elo punya saran seperti itu? "
"Karena mereka telah membuat Irene sedih sampai Irene diopname di rumah sakit. Gw nggak tega melihat Irene seperti itu dan gw nggak sudi lihat mereka hidup."
"Tapi mereka kan manusia yang masih punya hak untuk hidup. Gw nggak sekejam seperti itu walaupun keadaannya memang seperti ini dan walaupun mereka berencana ingin membunuh gw. Gw harus melaporkan semua ini ke pihak berwajib. "
"Baiklah."
"Elo udah ngumpulin bukti banyak? "
"Udah."
"Ada berapa bukti? "
"Dua puluh chat wa, sepuluh hubungan telepon dan lima belas percakapan mereka di studio apartementnnya Claudia."
"Itu sebenarnya bukan apartementnya dia, tapi apartement gw." ujar Peter.
"Kapan mau elo ambil semua bukti ini?"
"Pengennya sekarang. Tapi ... nanti sore ada rapat dengan klien gw. Bagaimana kalau besok pagi? Besok gw ambil cuti kerja gw." kata Peter semangat.
"Besok jam berapa? Ketemuannya di mana? "
"Besok jam delapan pagi di apartement gw. "
"Ok, nanti yang datang ke apartement elo anak buah gw yang bernama Boby. Elo tinggal minta nomor handphonenya Boby sama Roni."
"Ok. Thank ya. Gw minta nomor rekening elo bro."
"Elo nggak usah bayar untuk hal ini, anggap aja bonus dari seorang sahabat." kata Ale santai.
"Nggak bisa gitu dong, bisnis ya tetap bisnis, sahabat ya tetap sahabat." kata Peter sedikit kesal.
"Kalau gw nggak punya istilah seperti itu bro. Kalau gw nolong sahabat nggak pakai nanggung."
"Tapi kan kita dari kemarin bukan sahabat."
"Mulai hari ini kita sahabat."
"Kenapa elo anggap gw sahabat elo?"
"Pertama elo anaknya William Pattinson dan kedua elo... orang yang sangat dicintai oleh Irene. Irene itu sudah gw anggap sebagai adik gw."
"Benarkah?"
"Iya." kata Rogen yakin.
"Tapi soal perasaan hati elo ke Irene, gw yakin elo masih punya perasaan cinta ke Irene." ujar Peter.
"Untuk apa gw memupuk perasaan cinta gw ke Irene yang jelas - jelas Irene sudah tidak mencintai gw lagi sejak lama. Gw sudah berusaha menghilangkan perasaan cinta gw sama Irene walaupun itu sangat sulit dilakukan. Gw mikir secara realita memandang perasaan cinta gw terhadap Irene. Gw nggak akan merebut Irene dari elo. Dan satu lagi, jangan sampai elo melukai dirinya, kalau elo sampai melukai dirinya, nyawa elo melayang. Camkan itu." kata Ale serius.
"Tanpa elo ngomong seperti itu, gw nggak akan melukai Irene karena gw sangat mencintai Irene." kata Peter yakin. "Ok. besok gw tunggu anak buah elo di apartement gw jangan sampai telat." lanjut Peter tegas.
"Baiklah, see you again." kata Ale, lalu dia mengakhiri hubungan telepon itu.
Kemudian Peter menaruh handphonenya di atas meja. Peter tersenyum sumringah setelah mendapatkan informasi seperti itu.
"Ada berita yang menyenangkan? " tanya Roni.
"Iya. Dugaan gw benar, bahwa Claudia telah menipu gw, bahkan dia ingin merampas uang gw dan mempunyai rencana ingin membunuh gw." kata Peter sambil menyandarkan badannya di kursi kerjanya yang empuk.
"Gila benar itu perempuan, gw nggak habis pikir. " kata Roni sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. Elo tahu penyebabnya dia melakukan semua itu?"
"Tahu."
"Lalu apa penyebabnya? "
Dia balas dendam sama gw karena gw udah mutusin dia sebelah pihak, dan dia menginginkan uang gw yang bisa menghidupi dirinya beserta keluarganya yang bergaya high class."
"Dasar cewek matre."
"Kita lihat aja Claudia, semua perbuatan kamu harus dipertanggung jawabkan. Sekarang gundah gulana telah berakhir pada diriku ini." kata Peter serius di dalam hati sambil menarik sudut bibir sebelah kanannya.