
Florida, Amerika Serikat.
7:00 a.m
Aby terbangun dari tidurnya dengan mata sembab. Semalaman ia tidak bisa tidur karena menangis. Ia teringat adegan Chris yang berciuman dengan wanita lain. Aby merasa seperti anak remaja yang tengah putus cinta.
"Sarapan sudah siap, sayang." Sophie mengetuk pintu kamar Aby, memberitahu bahwa dia sudah menyiapkan sarapan.
Setelah kejadian Chris yang berciuman dengan wanita lain, Aby langsung melarikan diri ke Florida, rumah neneknya. Ia tidak mau bertemu dengan Chris dulu, ia takut jika mereka bertemu Chris akan mengatakan bahwa ada wanita lain yang dia cintai. Aby belum siap untuk mendengar itu dari mulut Chris. Ia akan berada di rumah neneknya sementara waktu, hingga ia siap untuk menerima penjelasan dari Chris. Dan Aby sudah mewanti-wanti Carla agar tidak memberi tahu Chris dimana ia berada.
Awal Aby datang ke Florida, Shopie tentu sangat kaget. Terlebih terakhir kali Aby ke Florida, ia malah di culik. Meskipun dulu Aby sudah menjelaskan lewat telepon, tetap saja Shopie tidak puas jika tidak bercerita langsung. Namun, Shopie menahan diri untuk tidak bertanya perihal itu dulu. Ia tahu Aby sedang tidak baik-baik saja.
Aby berguling-guling di kasur. Malas rasanya untuk bangkit dari posisinya sekarang. Apalagi matanya yang sembab membuat ia berat untuk terjaga. Ia juga tidak merasa lapar. Hanya badannya terasa lemas. Mungkin karena sejak kemarin ia tidak tidur dan tidak makan. Hanya minum, itupun sedikit dan di paksa oleh neneknya. Beginilah Aby jika patah hati. Tapi patah hatinya kali ini jauh lebih sakit daripada ketika ia mengetahui Alex tidur dengan ibunya. Entah mengapa, mungkin karena ia sudah terlanjur jatuh cinta mendalam dengan Chris. Dan terlalu percaya bahwa Chris hanya mencintainya seorang.
Memikirkan itu membuat ia kembali ingin menangis. Tapi ketukan di pintu membuat ia urung untuk meneteskan kembali air matanya. Ia merasa malu kepada neneknya. Ia sudah dewasa tapi menangis tersedu ketika patah hati. Akhirnya dengan malas-malasan Aby bangun dan membuka pintu kamarnya.
Sophie tersenyum melihat Aby yang sangat berantakan, ia rapikan rambut Aby yang acak-acakan, "kau cantik, kau sangat menarik, kenapa menangis hanya karena kehilangan satu laki-laki? Ayo sarapan, lalu Daren akan mengajakmu jalan-jalan."
Aby memeluk neneknya, "jangan mengejekku! Dulu Gramma juga pasti begitu. Daren? Tumben sekali dia mengajakku duluan."
"Tentu saja! Dan kau menuruninya! Gramma yang memintanya. Karena Emily dan Brandon sedang sibuk, hanya tersisa dia seorang. Jadi berdua saja tidak apa-apa bukan?" Sophie tertawa lalu mencolek hidung Aby.
Aby berpikir mungkin berjalan-jalan ke pantai dengan Daren bisa mengurangi kesedihannya, "baiklah." Lalu mereka turun ke lantai bawah untuk sarapan. Ronie-- kakek Aby sudah menunggu mereka di meja makan.
Ketiganya makan dengan khitmat. Aby yang memang tidak selera makan, akhirnya hanya makan beberapa suap, sisanya hanya ia mainkan. Nenek dan kakeknya saling pandang ketika melihat Aby yang terus menghela napasnya.
"Grappa jadi ingat, dulu kata mendiang buyutmu, Gramma uring-uringan persis seperti kamu ketika Grappa tidak sengaja mencium wanita masa lalu Grappa. Padahal hanya melihat, tidak tahu apa yang terjadi, tidak tahu apa cerita di baliknya, tapi sudah berasumsi bahwa Grappa selingkuh dengan wanita lain. Akhirnya setelah tahu kebenaran dan ceritanya, Gramma-mu yang malu sendiri. Padahal dia cinta, tapi gensi segede jagat raya." Ucap Ronie menceritakan cerita masa lalunya dengan Shopie.
"Kau juga membalas ciuman dia! Jadi mana aku tahu jika itu hanya salah paham!" Sanggah Shopie. Ia tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang bersalah.
Ronie tersenyum, "lihat, sampai sekarang pun Gramma-mu egonya masih tinggi. Dia lupa dulu sampai menangis meminta maaf ketika Grappa menjelaskan apa yang terjadi."
Aby mendengarkan, tapi sulit untuk melaksanakan apa yang kakeknya ucapkan. Namanya juga wanita, terkadang bebal untuk namanya mentoleransi sakit hati. Pada intinya, jika sudah melihat, maka itulah yang memang di perbuat. Mungkin suatu saat nanti, Aby bisa mengerti dan melakukan apa yang kakeknya ucapkan tadi. Untuk saat ini, tidak dulu. Aby belum siap untuk bertemu dan mendengar jika ucapan pamitlah yang keluar dari mulut Chris.
Aby kembali menunduk dan mengaduk-aduk makanan yang tersisa setengah, ia kembali menghela napasnya. Ronie yang melihat itu pasrah. Sepertinya memang sulit menasihati wanita yang sedang patah hati. Telinganya seolah tuli. Matanya seolah buta. Dan hatinya seolah mati. Tak tergerak barang sedikit dengan wejangan yang ia berikan. Tapi, ya sudahlah, jika sudah begini maka hanya bisa menunggu sampai Aby sadar bahwa yang kakeknya ucapkan adalah benar.
Tok tok tok
"Sepertinya Daren sudah datang," ujar Shopie bangkit dari duduknya membukakan pintu untuk Daren.
"Matamu sudah seperti maling yang habis di gebukin. Bengkak dan hitam. Berapa hari kau begadang dan menangis?" Daren yang baru masuk tiba-tiba saja sudah bawel ketika melihat kondisi Aby. Dan Aby yang mendengar itu kembali menghela napasnya. Sepertinya Daren tidak berubah, tetap peduli kepadanya. Tapi ia tidak butuh itu sekarang. Ia hanya butuh ketenangan. Sepertinya keputusan Aby mengiyakan permintaan neneknya salah. Ia kira Daren akan cuek dan irit bicara dengannya, jadi Aby bisa menikmati udara luar dengan tenang tanpa ocehan sana-sini. Ternyata baru juga bertemu kembali, Daren sudah mengomel.
"Sana siap-siap!" Perintah Shopie yang melihat Aby seperti ogah-ogahan untuk pergi keluar.
"Sepertinya aku batalkan saja acara jalan-jalan hari ini," ujar Aby.
Daren berjalan mendekat, lalu menariknya untuk berdiri, "sepertinya tidak usah siap-siap, yang terpenting kau tidak telanjang! Ayo jalan, atau mau ku gendong?"
"Aku sangat malas," ucap Aby yang berusaha menolak Daren yang terus menariknya. Namun karena terlalu lemas, Aby bahkan tak bisa melepaskan cekalan tangan Daren pada lengannya.
"Baiklah, aku gendong!" Tanpa menunggu lama, Daren mengangkat Aby dan menggendongnya ala bridal style. Lalu berpamitan kepada Shopie dan Ronie. Mengabaikan Aby yang meronta dalam gendongannya.
"Turunkan aku!" Aby berontak. Ia bahkan memukul dada dan lengan Daren agar mau menurunkannya. Tapi itu tak terasa apa-apa bagi Daren. Ia terus berjalan menuju mobilnya yang terpakir di halaman rumah Shopie. Kemudian mendudukkan Aby di kursi penumpang.
"Kau harus keluar! Jangan terus mengurung diri di kamar hingga menjadi mayat! Hidupmu bukan hanya soal kau dan laki-laki itu! Masih banyak yang peduli denganmu, jadi stop hanya memikirkan laki-laki ber*engsek itu!" Daren mulai menyalakan mesin mobilnya, kemudian melajukannya menyusuri jalanan.
Aby sebenarnya tahu yang ia lakukan sekarang itu salah. Tapi biarlah. Ia ingin menenangkan hatinya yang terluka. Ia juga ingin istirahat dari kejamnya dunia kepada dirinya. Baru saja ia kembali merasakan indahnya mencinta dan dicinta, tapi semesta tega merenggut kebahagiaannya dan malah menambah luka yang ada di hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Next.