
Seorang perempuan cantik, tinggi, putih dan sedang mengandung dengan menggunakan baju model babydoll ungu tua. Rambut hitam legam panjang terurai indah. Perempuan itu memandang Irene dengan tatapan nanar.
"Siapakah dia? Kenapa dengan wanita itu?" batin Irene sambil berjalan menghami perempuan itu.
"Assalamu'alaikum." lirih wanita itu setelah Irene berada di depannya.
"Wa'alaikumsalam. Silahkan duduk Mba. " kata Irene sambil menurunkan badannya ke sofa. Lalu wanita itu duduk di sofa yang berhadapan dengan Irene.
Hening seketika hanya adanya peraduan tatapan mata. Irene menatap penasaran ke wanita itu.
"Permisi Nona Irene. " kata bi Ijah sambil nampan yang diisi dengan dua gelas jus orange dan berjalan menghampiri mereka berdua. "Silahkan diminum." lanjut bisa Ijah setelah menaruh kedua gelas itu di atas meja ruang tamu, lalu bi Ijah balik lagi ke dapur.
"Maaf karena udah menunggu saya lama, soalnya tadi saya kelonin anak saya dulu." kata Irene sopan.
"Iya nggak apa - apa. "
"Maaf anda siapa ya? tanya Irene penasaran sambil melihat perempuan itu dengan serius, soalnya pas dia mau bertemu dengan Irene, dia bilang ke bi Ijah bahwa dirinya temannya Irene tanpa menyebutkan namanya hingga membuat Irene penasaran.
"Saya Claudia, maaf kalau malam ini saya mengganggu waktu anda." kata Claudia.
"It's ok. Ada keperluan apa anda mau ketemu sama saya? " tanya Irene penasaran.
"Saya tahu anda sudah dilamar sama Peter, sebentar lagi kalian menikah, tapi anda perlu tahu bahwa anak yang sedang kukandung adalah buah hatiku dengan Peter, dia anaknya Peter. " penjelasan Claudia sambil mengusap lembut ke perutnya.
Jegerrr ... seperti kilatan petir menyambar hatinya Irene sontak Irene terkejut dan sedikit menggeser tubuhnya. Aliran sengatan listrik menjalar ke seluruh tubuhnya Irene sampai membakar emosi jiwanya. Namun Irene berusaha sabar dan tenang dalam menghadapi masalah ini.
"Astaghfirullah. Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Mana mungkin aku bisa marah kepada wanita hamil.
" Berapa usia kandunganmu? Apakah kamu sudah memberi tahu masalah ini ke Peter?"
"Hampir enam bulan. Aku sudah memberi tahu ke Peter sejak usia kandunganku dua bulan lebih, tapi Peter tidak mengakui dan dia selalu menghindar dariku. Aku sudah berusaha untuk membicarakan hal ini dengan baik ke Peter. Namun dia selalu mengelak dan kekeh tidak mengakui anaknya." kata Claudia lirih.
"Kamu sejak kapan berhubungan sama dengan Peter?"
"Sudah dua tahun. "
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi semua ini? Apa aku harus egois, tidak memikirkan kehidupan seorang anak yang tidak diakui dengan tetap menikahi Peter atau aku harus rela berkorban untuk kebahagiaan seorang anak? Sedari tadi aku perhatikan sorot tatapan matanya Claudia, siapa mengatakan kejujuran." kata Irene dalam hati.
"Aku datang ke sini tidak ada niat untuk mengganggu hubungan kalian, yang aku inginkan adalah anda sebagai calon istrinya Peter harus tahu bahwa Peter tidak bertanggung jawab atas anak ini dan dia salah satu laki - laki brengsek." lanjut Claudia yang masih membelai lembut perutnya.
"Apakah anda ingin Peter bertanggung jawab atas anak yang kamu kandung?"
"Iya. Aku sebagai ibu dari anak ini pasti menginginkan Peter bertanggung jawab atas perbuatannya. Tapi apa dayaku, dia tetap tidak mau bertanggung jawab, tetap tidak mengakui, dan tetap tidak mempedulikan anak ini." lirih Claudia yang tak terasa air matanya mengalir pelan di wajahnya.
"Tenang Irene, kamu jangan egois kasihan tuch anak, kamu harus sabar, kamu harus ikhlas menerima takdir semua ini. Kamu harus kuat melepaskan Peter dari kehidupan mu. Semuanya pasti ada hikmahnya. " kata hati Irene yang menyemangati dirinya sendiri sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Tenang aja, nanti dia bertanggung jawab atas perbuatannya dan mengakui bahwa anak yang ada di dalam perut anda adalah anak kandungnya. Aku akan membicarakan hal ini kepada Peter. " kata Irene.
"Maaf aku telah merepotkan anda. Aku hanya ingin anda mengetahui siapa dia sebenarnya. Dia itu lelaki bejat." kata Claudia sambil menyeka air matanya. "Terima kasih atas kebaikan anda kepada saya." lanjut Claudia sambil menahan tangisnya.
"Iya sama - sama. Anda tidak perlu minta maaf ke saya karena anda tidak mempunyai kesalahan kepada saya. Silahkan diminum dulu airnya." kata Irene sambil mengambil salah satu gelas yang berisi jus orange.
Kemudian Irene dan Claudia meminum jus orange. Claudia menghabiskan jus itu. Irene menatap serius ke bola matanya Claudia untuk mencari lagi kebenaran dari sana dan hasilnya masih tetap sama, tidak ada kebohongan dari sorotan matanya.
"Aku pamit pulang dulu." kata Claudia sambil menaruh gelas bekas jus di atas meja, lalu Claudia ikutan berdiri.
"Sekali lagi terima kasih." kata Claudia sambil mengulurkan tangannya, lalu Irene membalas uluran tangan Claudia.
"Assalamu'alaikum." kata Claudia.
"Wa'alaikumsalam." balas Irene.
"Ya Allah kuatkan dan sabarkan aku dalam menghadapi semua masalah pada hari ini." kata Irene dalam hati sambil merunut semua kejadian yang membuat dirinya kecewa.
Flashback On
Brakkkk!!! Seorang cantik, putih, tinggi, dan berambut cokelat bergelombang memukul meja kantin.
"Siapakah dia? " tanya Irene dalam hati.
"Dasar wanita murahan, berani - beraninya kamu mendekati Ryan! Asal kamu tahu ya! Aku tunangannya Ryan! Jangan kau dekati Ryan! " bentak seorang wanita sambil menatap marah ke Irene.
"Hey!!! Kalau jadi orang sopan dikit dong!! Dasar cewek yang nggak punya adab, di tempat umum tiba - tiba datang sambil marah - marah. " kata Lily sambil berdiri mensejajarkan posisinya dengan posisi wanita itu yang sedang berdiri.
"Hahhh!! Elo nggak usah ikut campur!! Apa elo dapat suap dari tuch ***** sampai elo dukung dia untuk ngerebut Ryan dari gw!?
" Hey!!! Cewek nggak sopan, enak aja elo fitnah gw dan sahabat gw!! Elo tuch yang cewek yang nggak benar!! " bela Lily.
Ketika Wanita itu mau menampar Lily, Irene langsung berdiri dan menangkis tangan wanita itu. Lalu tangan itu dihempaskan oleh dirinya sendiri dari genggaman Irene.
"Jika anda perempuan yang terhormat tidak sepantasnya memfitnah saya dan teman saya dan marah kepada saya. Anda jangan asal menuduh tanpa penjelasan yang sebenarnya. Jika anda merasa wanita terhormat, anda tidak melakukan hal yang tercela seperti tadi yang anda lakukan. Jika anda wanita terhormat, selesaikanlah masalah dengan baik dan benar. " kata Irene tegas dan menatap tajam ke perempuan itu.
"Huh!! Elo nggak usah munafik dech!!! Gw udah tahu semua bahkan semua orang yang ada di sini sudah tahu kebusukan elo!! " teriak wanita itu.
"Ya Allah, tenangkanlah diriku. Ini pasti gara - gara foto aku dengan Pak Ryan saat di lokasi syuting yang sejak dari pagi sampai sekarang viral di group wa perusahaan." kata Irene dalam hati.
"Nona Shela? tanya pak Hengky tiba - tiba datang menghampiri mereka.
" Pak Hengky tolong jelaskan ke nona Shela tentang hubunganku dangan Pak Ryan dan jelaskan juga bahwa saya dengan Pak Ryan tidak punya hubungan yang spesial." kata Irene tegas sambil menatap tajam ke pak Hengky.
"Nona, sebaiknya anda masuk ke dalam kantor, nanti kita menjelaskan semuanya di dalam. Nanti di sana, anda bisa tanyakan langsung ke Pak Ryan." kata Pak Hengky serius sambil menatap ke Shela.
"Hmmm... baiklah, saya ke sana sekarang." kata Shela, lalu tanpa basa basi langsung berjalan ke dalam gedung kantor.
"Maafkan nona Shela ya Bu Irene." kata pak Hengky.
"Sudah saya maafkan Pak."
"Pak Hengky, siapa sich tuch cewek, ga punya etika banget. " gerutu Lily.
"Dia yang dijodohkan sama Pak Ryan oleh Mamanya Pak Ryan. " jawab pak Hengky. "Saya permisi dulu. " kata pak Hengky sambil menganggukkan kepalanya.
Irene, Lily, Dita, Siti, Mega, Susi dan Anis langsung membalas nganggukkan kepalanya pak Hengky dengan menganggukkan kepala mereka serempak. Lalu pak Hengky pergi meninggalkan mereka di kantin.
Flashback Off
"Nak kamu kenapa sayang? " tanya mamanya Irene yang membuyarkan lamunannya yang sudah duduk di samping Irene sambil mendekap Irene.
"Aku nggak kenapa - kenapa Mah. " kata Irene sambil menyeka air matanya.
"Kamu nggak usah menutup masalah kamu Nak, ceritakan saja." kata mamanya Irene sambil melepaskan pelukannya.
"Mama.... Peter telah mengecewakan aku. Dia lelaki bejat Ma. Dia telah menghamili seorang perempuan." kata Irene sambil menangis pelan.
"Memangnya dia hamil berapa bulan?" kata mamanya Irene sambil membelai lembut puncak kepala Irene.
"Hampir enam bulan Mah. "
"Dia hamil sebelum kalian pendekatan. Sudahlah, lepaskan orang seperti dia. Dia tidak pantas untuk mendapatkan kamu Nak. Kamu harus ikhlas, kuat dan sabar ya sayang. " kata mamanya Irene, lalu mamanya Irene memeluk sayang ke Irene.
"Iya Ma. " bisik Irene sambil sesenggukkan.