
Tangisan Khalisia semakin pecah saat Tania mencoba menenangkannya.
Julian pun menghampiri putrinya dan menggendongnya. Setelah menggendong putrinya, akhirnya tangis Khalisia berhenti. Ia memeluk sang daddy.
Bocah kecil itu menghentikan tangisannya. Ia memeluk erat leher daddynya. Lalu melihat kearah Tania dan menjulurkan lidahnya pada sang mommy.
Tania yang gemas dengan kelakuan sang putri malah memeluk Julian dari belakang dan gantian menjulurkan lidahnya pada Khalisa.
Seketika bocah kecil itu kembali menangis. Ia meronta-ronta, ia tak terima jika Julian di sentuh oleh Tania.
Julian hampir kewalahan karena Khalisia terus meronta-ronta, bocah kecil itu berusaha melepaskan tangan Tania yang berada di pinggang Julian.
"Sayang!" panggil Julian pada istrinya. Ia menyuruh Tania untuk melepaskan tanganya karena Khalisia terus meronta-ronta.
"Daddy, ayo ke kamarku!" Sekali lagi Khalisa menjulurkan lidahnya pada sang mommy, saat Julian mulai berjalan.
"Unnie, apa kau tidak sirik dengan putrimu. Dia tak memerbolehkan siapa pun untuk menyetuh oppa Jul?" tanya Alisia yang sedari tadi memerhatikan keluarga mereka.
"Tidak, sebentar lagi, ia akan dewasa Sebentar lagi ia pasti akan lebih menghabiskan banyak waktu bersama teman-temannya. Jadi biarkan saja jika dia ingin bersama Daddynya. Aku bisa menguasai kaka sepupumu jika malam, bukan maksudnya jika Khalisia sudah tertidur, "jawab Tania. Pipihnya langsung memerah ketika menyebut kata malam.
•••
" Daddy ayo bermain boneka," ucap Khalisia saat sudah berada di kamarnya.
"Oke!" jawab Julian. Ia menurunkan sang putri dari gendongannya dan berjalan kearah boneka yang terjajar.
Gadis kecil itu menurunkan semuanya dari tempat penyimpanan boneka dan menaruhnya di bawah.
Julian dengan telaten menaruh satu persatu boneka dan menatanya dengan rapih. Dia sudah hapal kebiasaan putrinya jika akan berpesta teh dengan para bonekanya.
"Daddy, kuncir rambutnya!" titah Khalisia saat dia melihat barbie yang tergeletak tak jauh dari boneka yang telah di susun. Ia masih sibuk mengeluarkan cangkir-cangkir untuk pesta teh bersama daddy dan para bonekanya.
"Khalisia, kita kan hanya berpesta teh dengan para boneka. Barbie kan tidak termasuk," jawab Julian. Setiap bermain dengan Khalisia, ia menempatkan dirinya sebagai teman sang putri dan berusaha masuk ke dunia khayalan Khalisia.
"No Daddy! Adelia sedang bertamu. Jadi kita harus menjamunya." Khalisia pun menaruh cangkir-cangkir yang baru saja di bawanya dan menaruhnya kedepan para boneka. Setelah itu ia mengambil barbie yang di beri nama Adelia dan memberikannya pada Julian, agar daddynya mengikat rambut berbie tersebut. Lalu, dia kembali sibuk memersiapkan alat alat untuk berpesta teh.
•••
"Daddy, dia sudah tidur?" tanya Tania saat masuk kedalam kamar. Seperti biasa, ia harus menina bobokan Khalisia sebelum masuk ke kamarnya.
Tania yang sedang duduk di ranjang sambil menyenderkan punggungnnya, manaruh ponsel yang sedang di mainkannya.
Julian langsung membuka bajunya, lalu ia ikut bergabung bersama Tania. Ia duduk dengan posisi yang sama.
Setelah Julian duduk, Tania pun bangkit, ia mendudukan dirinya di pangkuan sang suami.
"Daddy!" Tania mengecup bibir suaminya. Malam hari adalah malam ia dan Julian menikmati, momen-momen kebersamaan mereka, karena siang hari waktu suaminya diambil alih oleh Khalisia.
"Ya, Sayang!" Julian merasakan salah satu tubuhnya menegang saat istrinya duduk di pangkuanya.
Ia menarik tali gaun tidur istrinya, lalu menark tengkuk Tania untuk menciumnya.
Sebelum mereka melakukan hal yang lebih jauh. Pintu terbuka,
"Daddy!" teriak Khalisia sambil membawa boneka. Rupanya bocah cilik itu kembali terbangun.
Tania dan Julian langsung kelabakan, dengan cepat dia turun dari pangkuan suaminya. Lalu menutupi tubuhnya dengan selimut agar putrinya tak melihat dirimya yang hanya memakai gaun tidur.
°°°
Beberapa hari kemudian.
Tania terduduk lesu di toilet, ia menggenggam tespack dengan garis dua. Ia fositif hamil. Bukan ia tak senang dengan kehamilan keduanya. Tapi, ia takut.
Tania takut, jika suaminya lupa bahwa pernah menumpahkan di dalam, Tania takut suaminya tak mengakui anaknya dan kembali menghina dirinya seperti dulu. Tania takut jika suaminya akan kembali berlaku buruk padanya. Tania menangis tergugu saat membayangkan jika yang dia pikirkan akan terjadi saat suaminya tau tentang kehamilan keduanya.
°°°
Setelah suaminya pergi ke kantor, Tania terus dilanda kegelisahan. Haruskan dia langsung memberitau tengtang kehamilan keduanya.
Dan disinilah Tania sekarang. Ia berada di depan perusahaan milik suaminya. Setelah berpikir panjang. Tania pun memutuskan untuk jujur pada suaminya. Ia sengaja datang ke kantor Julian dan berniat memberitaukan kehamilannya pada suaminya. Ia tak berani memberi tau Julian di rumah. Sebab, ia takut Julian bersikap kembali seperti dulu dan takut jika Khalisia mendengarnya.
Tania menunggu Julian datang menjemputnya keluar, sudah 4 tahun berlalu, ia sama sekali tak pernah menginjakan kakinya di perusahaan suaminya. Rasanya ia masih trauma, masih teringat jelas di ingatannya saat dulu Julian mengusir Tania di hadapan karyawannya dan selalu menolak kehadiran Tania, hingga beberapa karyawan memandang Tania dengan tatapan sinis dan mengiba. Setiap Julian mengajak Tania ke kantornya, Tania selalu menolak. Al hasil hanya Khalisia saja yang sering mundar-mandi ke kantor Julian.
Julian keluar dengan tergesa-gesa saat istrinya memberitau kehadirannya di luar rumah sakit. Ia kaget, lantaran ini pertama kalinya lagi Tania datang ke perusahaan.
"Sayang kau sendirian, mana Khalisia. Kenapa kau tak menelponku jika kau ingin bermain disini?" tanya Julian, saat menghampiri Tania yang sedang berdiri.
"Daddy, kau sibuk?" Bukan menjawab ucapan Julian. Tania malah balik bertanya pada suaminya. Ia menatap Julian lekat-lekat. Tiba-tiba matanya mengembun saat membayangkan Julian akan kembali bersikap seperti dulu saat tau jika dirinya tengah mengandung kembali.
Julian menangkup kedua pipi istrinya "Sayang, ada apa? kenapa kau terlihat begitu cemas?" Julian bertanya saat melihat wajah istrinya yang berbeda.
"A-ayo berbicara di ruanganmu!"
Julian pun menggengam tangan sang istri dan mulai melangkah memasuki gedung perusahaan.
"Sayang, ada apa? ada yang ingin kau sampaikan?" tanya mereka saat sudah duduk di sofa. Julian bingung kenapa istrinya terus menunduk.
Tania berusaha menguatkan hatinya. Dengan tangan gemetar Tania mengeluarkan tespack dari saku dresnya. Ia menyodorkan tespack ke arah Julian, saat menyerahkan tespack tersebut Tania tak berani menatap suaminya.
Mata Julian membulat sempurna saat istrinya menyerahkan tespack kehadapannya. Ia langsung mengambil tespack tersebut.
Di luar dugaan, Julian bangkit dari duduknya. Ia bersujud di lantai, mengucapkan takbir berkali-kali, ia bersyukur karena istrinya tengah mengandung kembali.
Sedangkan Tania
Setelah Julian mengambil tespack dari tangannya. Ia langsung menutup kedua telinganya dan memejamkan matanya. Ia takut mendengar ucapan Julian setelah tau tentang kehamilannya.
Julian mengernyit heran saat melihat Tania menutup telinganya.
Dia pun bangkit dari bersujudnya dan kembali duduk di sisi istrinya. "Sayang kau kenapa?" tanya Julian sambil menarik tangan Tania yang sedang menutup telinganya.
Seketika Tania membuka matanya.
"Ka-Kau, tidak ma-marah padaku seperti dulu?" tanya Tania. Ia sudah mulai terisak kala menatap suaminya.
Sekarang Julian tau kenapa istrinya tiba-tiba datang ke kantornya hanya untuk memberitau tentang kehamilannya.
"Kau takut aku melakukan hal seperti dulu lagi?" tanya Julian. Sambil menghapus air mata istrinya.
Tania pun mengangguk.
Julian mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Aku tak akan mengulang kebodohanku yang kedua kalinya. Terimakasih, telah memberikanku kebahagian lagi."
"Ka-kau ingat, kau pernah melakukannya tanpa pengaman?" tanya Tania.
"Tentu, mana mungkin aku lupa, aku kan memang sengaja supaya ka ...." Julian mengigit bibir bawahnya. Ia keceplosan mengatakan rencanya. Ia memang sengaja tak memakai pengaman agar istrinya hamil kembali. Karena tau Tania belum siap mengandung lagi karena masih tak percaya padanya. Akhirnya Julian pun berpura-pura lupa dan menumpahkannya di dalam.
Mata Tania melotot galak pada suaminya dann....
perang dunia pun di mulai 🤣🤣🤣🤣
Ini udah ngetik panjang banget, Kalau ada yang bilang up nya dikit tak cubit ginjalnya 🤣🤣