Uncle Julian

Uncle Julian
Bab 47



"Arghhhhh!" teriak Julian saat memacu mobilnya dengan cepat. Sudah 3 rumah sakit yang dia kunjungi. Namun naas, tak ada catatan pasien atas nama Tania.


Julian meminggirkan mobilnya, dia menaruh kepalanya ke stir.


Lagi-lagi Julian menangis mengingat betapa kejamnya dia pada istrinya yang bahkan tengah mengandung kedua darah dagingnya. Tapi sekarang, penyesalan tinggal penyesalan. Ia tak bisa memutar waktu, nyawa janin yang telah hilang tak bisa ia kembalikan.


Julian ber'istigfar berkali-kali. Dadanya tersa sesak saat mengingat dirinya sudah melukai Tania. Bahkan sacara tidak langsung dirinyalah penyebab Tania kehilangan satu janin di perutnya.


"Ampuni aku, Ya Allah," lirih Julian. Penyesalannya semakin bertambah saat dia seminggu tak pulang ke penthouse membiarkan Tania sendiri. Dan dengan teganya dia memecat Maid karena tau Tania tak bisa memasak.


Julian menghapus air matanya dia pun kembali memajukan mobilnya untuk mencari Tania.


°°°


Mendengar kabar dari Malik menantunya. Seketika Bram menjatuhkan ponselnya kelantai. Dia masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. Tubuh Bram bergetar hebat saat mengetahui putri bungsunya sedang kritis dan kehilangan satu janinnya.


"Papih, ada apa?" tanya Keknya yang menghampiri Bram diruang kerjanya.


"Ta-tania sedang kritis," ucap Bram terbatas-bata.


Tubuh Keinya menegang, dia maju kearah suaminya. "Kau bohong, kan, ba-bagaimana bisa ...." keinya berteriak histeris.


Bram membawa Keinya kepelukannya. "Tenang sayang ... tenang. Tania pasti akan baik-baik saja," ucap Bram menenangkan Keinya padahal dirinya pun dilanda kecemasan yang luar biasa.


Keinya melepaskan pelukannya dan menatap suaminya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Tania, Papih. Kenapa dia bisa ...." Keinya tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Suaranya hilang terganti oleh tangisan.


"Kita bahas ini nanti. Sebaiknya kita segera bersiap untuk terbang ke Swiss!"


Keinya pun mengangguk. Dia bahkan berlari kekamarnya untuk segera mempersiapkan semuanya.


•••


Sudah 5 rumah sakit yang Julian datangi. Namun, tak ada satu pun pasien atas nama Tania. Dia tak menyerah. Julian kembali memacu mobilnya untuk mencari istrinya kerumah sakit lain.


Keberuntungan sedikit berpihak padanya. Saat dia mendatangi rumah sakit HIlls Hospitas nama Tania terdaftar sebagai pasien.


Setelah mengetahui di mana ruangan istrinya. Julian dengan cepat berlari ke ruangan yang di tempati istrinya.


"Malik!" ucap Julian dengan napas tersenggal-senggal karena berlari.


Malik yang sedang duduk di kursi tunggu memandang Julian dengan sinis. Dia pun bangkit dari duduknya dan langsung memegang kerah jas Julian dan menyudutkan Julian ke din-ding.


"Untuk apa kau kesini! Apa kau hanya ingin memastikan dan tertawa karena melihat Tania kritis dan kehilangan satu janinnya!" ucap Malik sambil menatap tajam Julian.


Julian menghempaskan tangan Malik dengan kasar. "Jaga ucapanmu!" Julian sedikit mendorong tubuh Malik. Dia pun masuk kedalam ruangan tempat Tania di rawat.


Lutut Julian melemah saat melihat istrinya terbaring dengan beberapa selang yang terpasang. Terlihat jelas perban di kepala Tania masih mengeluarkan darah.


"Maafkan aku, Sayang. Ampuni aku," lirih Julian sambil terisak. "Ampuni aku. Bangunlah! kau bisa menghukumku. Aku akan melakukan apapun untukmu," ucap Julian lagi dengan isakan yang lebih kencang.


"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh disini. Pasien masih dalam pengawasan dokter," ucap perawat yang baru saja masuk kedalam ruangan. Rupanya Malik melapor pada perawat jika ada orang lain di ruangan Tania.


"Saya akan menemani istri saya disini!" jawab Julian dengan tegas.


"Jangan membuat masalah, Tuan. Ini demi kesembuhan istri anda," jawab perawat tak mau kalah.


Julian menghela napas sejenak, dia pun mau tak mau menuruti perintah suster.


Keesokan harinya.


Malik, Julian dan Raffael sedang duduk di kursi tunggu. Mereka sama sekali tak beristirahat semalaman.


Mereka masih harap-harap cemas karena kondisi Tania sama sekali belum ada perubahan. Tania masih dalam masa kritis bahkan jika Tania masih tak sadarkan diri, Tania akan dinyatakan koma.


Julian yang sedang duduk langsung bangkit dari duduknya saat Dokter keluar dari ruangan Tania.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Julian.


Dokter itu hanya menggeleng lemah menandakan bahwa Tania masih dalam keadaan kritis.


Dokter pun pergi meninggalkan Julian yang masih terpaku. Saat Julian sedang melamun di dekat pintu ...


Bugh seseorang meninju pipi Julian hingga Julian tersungkur.


Raffael dan Malik yang sedang duduk langsung melihat kearah Julian. Mereka kaget saat Bram baru saja tiba dan langsung menghajar Julian.


Tak cukup membuat Julian tersungkur. Saat Julian akan bangkit Bram kembali menghajar menantunya.


"Karena mu putriku ada didalam sana! karena mu putriku harus mengalami hal buruk. Aku mempercayakan putriku padamu tapi karena mu putriku hampir meregang nyawa!" teriak Bram sambil memegang kerah jas Julian.


"Papih, tenanglah ini rumah sakit!" ucap Malik yang mencoba menarik tubuh Bram agar tak terus mengahajar Julian.


"Arghhh!" teriak Bram yang masih merasa kesal pada menantunya.


Raffael bergidik melihat amarah Bram. pasalnya dia tak pernah melihat kaka ipar sekaligus mertuanya semarah ini.


Julian hanya bisa menunduk, dia menyeka sudut bibirnya yang berdarah karena di hajar Bram. Saat dia mengangkat wajahnya.


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya.