
"Bagaimana, Papih. Apa yang dokter katakan?" tanya Keinya saat Bram baru saja tiba setelah dari ruangan Dokter.
Bram berpiki sejenak, lalu dia menarik lembut tangan istrinya dan mengajak berbicara. Sebab, Bram tau bagaimana sifat istrinya.
"Sayang, jika kau menemui Tania. Tolong jangan mengatakan apapun tentang apa yang meninmpanya."
"Kenapa?"
Bram menghela napas sejenak. Dia pun bercerita semua yang dokter katakan.
Tangis Keinya pecah saat mendengar kondisi Tania. Ibu mana yang tak hancur saat melihat putri yang selama ini dia jaga dan dia rawat terbaring karena di siksa oleh orang lain.
"Seharusnya dulu kau tidak mengijinkan Tania untuk pergi. lihatkan sekarang Dia ...." Keinya tak mampu lagi meneruskan ucapannya dia memukul-mukul dada suaminya.
Sedangkan Bran dengan sigap membawa Keinya kedalam dekapannya, berusaha membuat istrinya tenang dengan terus mengelus punggung istrinya.
°°°
"Katakan, kenapa kau begitu bodoh!" teriak Joenathan dengan berapi-api.
"Maaf, Ka. Aku akui aku memang bodoh. Dan aku sungguh menyesal," lirih Julian sambil menunduk. Jujur saja, karena kesalahannya dia bahkan malu pada dirinya sendiri.
"Sekarang apa rencanamu. Bagaimana jika Tania meminta pisah denganmu?"
Seketika Julian memandang Joenathan.
"Tidak, Kak. Sampai kapanpun aku tak akan berpisah dengannya. Aku tau aku salah, tapi apakah aku tidak berhak mendapat kesempatan kedua dan memerbaiki kesalahanku?" jawab Julian. Sejujurnya dia pun takut jika Tania meminta berpisah dengannya. Dan yang lebih menakutkan lagi, jika kedua mertuanya membawa Tania pulang ke Indonesia.
"Lalu, kau bisa apa jika Tania tak bisa memaafkanmu. Kenapa kau begitu bodoh dan ceroboh. Apa selama ini kaka mengajarkanmu untuk tidak menghormati wanita? kau meninggalkan istrimu selama satu minggu dalam kondisi hamil, kau mengusir dia dari kantormu. Bukankah kau sangat kurang ajar, Julian?"
Julian kembali tertunduk saat kakanya mengungkit kesalahannya.
•••
Setelah Tania diperiksa lebih lanjut oleh dokter, Tania pun sudah mulai bisa ditemui. Tapi hanya satu orang saja yang boleh menemui Tania dan Keinya lah yang masuk.
Tania yang sedang menangis, melihat kearah pintu dengan ekor matanya.
"Tania!" lirih Keinya saat duduk di samping Tania. Dia menggengam tangan Tania yang terasa sangat dingin. Sekuat tenaga Keinya menahan tangisnya agar tidak pecah.
Tania terus menangis dalam diam saat Mamihnya menggegam tanganya. Dia merasa mendapat kekuatan baru di tengah luka yang sedang menderanya.
"Tenanglah, Sayang. kau tidak sendirian. Ada kami disini." Keinya mengelap air mata putrinya yang sedari tadi tak berhenti menangis.
"Mamih, ini sangat menyakitkan. Seandainya aku bisa mengulang waktu, aku tak akan membantah semua ucapanmu," lirih Tania dalam hati saat Keinya mengelap air matanya.
Saat sudah lama Keinya menemani Tania di ruangan, seseorang masuk dan orang itu adalah Julian.
Saat Julian masuk, Keinya akan bangkit dari duduknya untuk memaki Julian atau menamparnya. Namun, dia teringat bahwa dia sedang berada diruang rawat.
Julian masuk dengan menunduk, dia terlalu malu untuk menatap mertuanya.
"Kei, bisakah tinggalkan kami berdua." Dengan menahan malu, Julian berbicara pada Keinya. Tapi dia tak punya pilihan selain meminta mertuanya agar memberikan ruang supaya dia bisa menemani Tania ....
hai Gays, berhubung Uncle Julian bentar lagi tamat tentu aja akan ada pelajaran bagi Julian sebelum tamat.
dan aku bikin cerita baru lagi. Dan pastinya menguras air mata. Dan disana sudah ada 5 bab. Cus kepoin kesana kalau vote kenceng, nanti malem aku up 3 bab langsung. Tenang aja, Uncle Julian, Istri di atas kertas dan Lihat aku, suamiku! aku up tiap hari. Cus kesana dan geber Vote ,Ya.