
"Papih!" panggil Keinya. Ia mensejajarkan langkahnya dengan langkah sang suaminya.
"Tidak! aku tidak akan lagi tergoda," jawab Bram tanpa melepaskan tangannya dari telinga.
Keinya mencebik, dengan cepat, Keinya memeluk Bram dari belakang hingga Bram menghentikan langkahnya.
"Kau yakin, kau takan tergoda? padahal aku tak akan mengerjaimu."
Bram memejamkan matanya saat tangan Keinya tak bisa diam.
"Kau tak menggodaku, kan?" tanya Bram memastikan.
Keinya tersenyum licik, "Tentu saja, kali ini aku serius," jawab Keinya sambil menahan tawa.
Bram melepaskan tangan Keinya dari pinggangnya. Kemudian beralih menggandeng tangan sang istri.
"Kalau begitu, ayo!" ajak Bram pada istrinya. Dia tak melihat diam-diam Keinya sedang menahan tawa.
"Sayang!" teriak Bram. Ia menggeram kesal. Keinya berlari saat dirinya sedang berada di ambang batas. Ternyata dirinya di kerjai lagi oleh istrinya.
"Papih, maaf. Sepertinya aku sedang datang bulan!" teriak Keinya saat berada di kamar mandi. Ia terbahak membayangkan ekpresi suaminya saat ini. Keusilan Keinya tak berubah walau tak lagi muda.
••
Setelah merenung di ruang kerja mertuanya. Julian pun keluar, melangkahkan kakinya menuju kamar yang istrinya tempati sebelum menikah. Ia duduk di sofa, melihat-lihat sekeliling kamar istrinya. Rindu semakin menjalar di hatinya. Bayangan Tania kembali datang. Ia mengurut kening, kepalanya berdenyut nyeri.
Dua minggu kemudian.
Hari ini, Tania memantapkan langkahnya untuk meninggalkan Swiss dan menuju Istanbul Turki. Lila sudah kembali ke Indonesia dua hari lalu, dan kini ia akan pergi menyembuhkan lukannya.
Awalnya Tania akan menaiki pesawat Komersial untuk terbang ke Turki. Namun, Joenathan menyiapkan jet pribadi untuk adik iparnya. Tak tanggung-tanggung, Joenathan bahkan memberi fasilitas mewah bagi adik iparnya, Ia juga sudan menyiapkan rumah mewah yang akan Tania tinggali selama di Turki. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalahnya, walau bagaimana pun Julian adalah adiknya dan tanggung jawabnya. Kesalahan Julian adalah kesalahannya juga.
"Grandad, terimakasih," ucap Tania. Ia masih belum terbiasa memanggil Joenathan kaka.
"Pergilah! pulanglah pada kami setelah kau tenang," ucap Julian sambil mengelus rambut sang adik ipar.
"Aku titipkan Tania pada kalian," ucap Joenathan pada Ahsam dan Sarah.
Mereka berdua, tersenyum dan menangguk.
Setelah itu, Tania, Ahsam dan sarah pun menaiki pesawat.
Sedangkan Julian
Setelah menghabiskan waktu dua hari di Indonesia, Julian pun berusaha menelusuri jejak Tania dia Spanyol. Ia sama sekali tak berusaha datang ke Mansion Aysel dan Aska Ia masih malu dan takut menghadapi kakek dan nenek dari istrinya. Dia menyuruh anak buahnya mencari jejak Tania di Spanyol. Namun sayang, dia dan anak buahnya sama sekali tak menemukan anak Tania.
Setelah 4 hari berada di Spanyol. Ia pun kembali ke Swiss, dan setelah tiba di Swiss, ia pun harus menghadapi sang kaka, Joenathan Kim.
Ia di tegur sang kaka karena dianggap lalai menjalankan tugasnya sebagai pemimpin perusahaan, dimana puluhan ribu karyawan bergantung padanya.
Setelah seminggu berlalu.
Saat ini, Julian memakai pakaian serba hitam, tak lupa dia memakai topi, kacamata dan masker.
Dan disinilah Julian berdiri. Ia berdiri di koridor yang menghadap langsung ke landasan pacu. Lewat kaca, ia bisa melihat semua aktivitas yang sedang terjadi di landasan.
Ia melihat istrinya yang sedang mengobrol dengan kakanya. Matanya mengembun. Julian menangis saat kembali melihat istrinya. Feelingnya selama ini benar, Tania masih berada di Swiss. Seandainya bisa, Julian ingin berlari kearah Tania, memeluknya, menghujani istrinya dengan ciuman dan mengucapkan beribu-ribu kata maaf. Tapi, Julian tak bisa. Ia menghormati keputusan sang istri.
Julian merasa bersyukur saat malam kemarin , ia mendengar kakanya menelpon Tania, dan hari ini ia mengikuti Joenathan hingga akhirnya ia bisa menemukan istrinya.
"Pergilah sayangku! sembuhkan lukamu. Tunggu aku, aku akan menjemputmu dan anak kita. Kali ini biarkan aku berjuang untuk kalian," lirih Julian saat pesawat yang ditumpangi istrinya sudah terbang. Ia merasa, jiwanya pun melayang bersama kepergian istrinya.
Julian sudah banyak berpikir, ia menghormati keputusan sang istri karena ia sadar, pasti berat berada di posisi istrinya.
Julian melepaskan kacamata yang di pakainya karena akan menghapus air mata, setelah itu ia berbalik untuk melangkahkan kakinya untuk pulang.
Namun, ketika ia berbalik, ternyata, Joenathan sedang berdiri tak jauh darinya.
Joenathan sadar bahwa sang adik mengikutinya. Bahkan semalam, ia sengaja menelpon Tania dengan suara keras agar Julian bisa mendengarnya. Dan saat tadi Julian mengikutinya, ia sengaja memperlambat mobilnya agar Julian tak kehilangan jejaknya. Setidaknya ini yang bisa Joenathan lakukan sebagai kaka. Ia ingin adiknya melihat Tania sebelum Tania pergi meninggalkan Swiss.
°°°
"Kau tidak ingin bertanya apa-apa pada kaka?" tanya Joenathan. Saat ini mereka sedang berada di Restoran. Sebelum pulang, ia mengajak sang adik untuk makan siang bersama.
Julian menggeleng, ia mengehela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan kakanya.
"Aku tau kalian melakukan ini untuk menghukumku, dan aku memang pantas untuk di hukum, aku rasa jika aku jadi kalian aku akan melakukan hal yang sama. Terimakasih, Kak. Sudah memberi yang terbaik untuk istriku."
"Kau tau, kan, semenjak Appa dan Eomma meninggal, kau dan Diana adalah tanggung jawab kaka. Ketika kau atau Diana melakukan kesalahan, kaka pun harus ikut bertanggung jawab atas apa yang kalian lakukan. Jadikan semua pembelajaran. Jangan khawatir, kaka akan memastikan istrimu pasti akan baik-baik saja."
Istanbul Turki ....
Bisa nebak apa yang Julian lakuin buat dapet maaf dari Tania.
Kalau Aska nyulik Aysel biar di maafin.
Bram sabar selama didiemin biar dapet maaf dari Keinya
Raffael pura-pura ketabrak biar dapet maaf juga dari Lila.
Terus Julian gimana ya. Ada yang bisa nebak ? wkwkwk .
Kenapa aku jadi sedih ya pas si panjul ngeliatin Tania pas mau pergi. wkwkwkwk
Extra part malik dan Vania juga udah ada ya. Cus ke lapak cinta suci Zalila.