
Julian memper'erat pelukannya. Ia tersenyum. Dia menyangka istrinya akan marah karena diam-diam berada di sisinya
Ia pikir, ia harus kembali membujuk istrinya tapi semua diluar dugaanya.
Dia terus mengelus punggung istrinya, tapi bukannya mereda, tangis Tania semakin pecah.
"Sayang, jika kau terus menangis, mamihmu akan datang dan kemari lalu dia menyalahkanku," ucap Julian, saat Tania tak berhenti menangis.
Mendengar nama mamihnya, Tania pun menghentikan tangisannya.
"Kau jahat ... kau jahat," ucap Tania lagi setelah melepaskan pelukannya. Ia terus terisak. Tania menangis bagai anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Tania dengan terisak. Tangisan yang kencang berubah menjadi isakan.
Julian mengahapus air matanya Tania. "Tak penting sejak kapan aku di sini, yang terpenting aku selalu disini, menjagamu dari dekat."
"Da-dari siapa kau tau aku di Turki?"
Julian kembali mengusap air mata istrinya.
"Dari pesawat yang kau tumpangi."
"Kau melihat saat aku menaiki pesawat?" tanya Tania. Julian pun mengangguk.
"Huaa." tangis Tania kembali pecah saat tau bahwa suaminya mengetahui keberadaannya.
Julian kembali membekap mulut istrinya, karena Tania kembali lagi menangis.
"Aku akan melepaskanmu tapi kau janji takan menangis lagi, Oke?" ucap Julian lagi saat Tania berusaha melepaskan tangannya dari mulutnya. Tania pun menangguk.
"Jika kau tau aku saat aku pergi, kenapa kau tidak mencegahku. Kenapa kau tidak berlari dan menarik tanganku," ucap Tania sambil terisak.
"Dengarkan aku dan jangan menyelah ucapanku, kau mengerti!"
Tania pun menangguk dengan cemberut.
"Kau tau, jika saat itu aku melarangmu pergi, kita takan seperti ini sekarang. Kau memang akan memaafkanku. Tapi, sikapmu takan sama lagi padaku. Aku tau, yang kau alami sangat berat. Menerima ucapan menyakitkan dariku, di siksa, sampai kehilangan satu anak kita, itu pasti menjadi luka yang sangat dalam untukmu." Julian menjeda ucapannya. Tiba-tiba matanya mengembun, rasa nyeri menghinggapi hatinya saat membahas apa yang terjadi pada istrinya. "Aku tak mengejarmu dan membiarkanmu pergi, bukan aku tak mencintaimu. Tapi, aku ingin memberimu waktu untuk menyembuhkan lukamu, dan terbukti kan sekarang semua telah berlalu. Aku sudah menerima hukuman dan kau sudah mengikhlaskan semuanya." Julian menarik tangan Tania dan mengecupnya.
Tiba-tiba Julian membekap lagi mulut istrinya saat Tania terlihat akan menangis lagi.
"Kenapa kau membekapku lagi," ucap Tania dengan kesal ketika dia berhasil melepaskan tangan suaminya dari mulutnya.
"Kau akan menangis lagi kan?"
"Aku ingin bersin, bukan ingin menangis," ucap Tania dengan kesal. Hidungnya jadi tak nyaman karena gagal untuk bersin.
"Maaf ... maaf," julian menahan tawanya agar tidak pecah saat mendengar ucapan sang istri.
Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Hari ini si kecil Khalis sudah berumur 3 tahun, bocah kecil itu sungguh menggemaskan dengan pipi bulatnya. Selama 3 tahun ini, mereka menjalani hari-harinya dengan penuh cinta. Julian benar-benar membuktikan ucapannya bahwa dia akan membuat istri dan anaknya jatuh cinta kepadanya.
Di dalam hati anak kecil itu hanya ada daddy, daddy dan daddy. Julian berhasil memusatkan perhatian bocah kecil itu hanya padanya. Khalisia begitu pintar. Ia hanya mendekati Tania jika ia menginginkan sesuatu yang dilarang oleh daddynya. Bahkan, setiap hari bocah kecil itu selalu merengek untuk ikut ke kantor, dan dengan senang hati Julian pun membawa putrinya. Dia dijuluki Hot Daddy oleh para karyawannya.
Saat ini, Tania sedang terduduk lesu diranjang, ia memegang tespack di tangannya, tespack itu menunjukan garis 2.