Uncle Julian

Uncle Julian
57



Setelah puas memandang pemandangan, Tania membaringkan diri di ranjang. Ia meringkuk. Hatinya meresapi perih, ia mengambil sesuatu dari saku jaketnya, sesuatu yang sangar berharga bagi Tania dan itu adalah kertas usg saat satu janinya masih ada.


Ia menatap kertas usg itu lekat-lekat, dia memeluk kertas tersebut. Berharap semua yang terjadi adalah mimpi, berharap calon anaknya masih lengkap dalam perutnya.


Semua ibu, pasti akan hancur ketika mereka kehilangan anaknya~. Tania.


Lila pun duduk di sebelah Tania, ia mengelus rambut adiknya yang tengah tertidur.


Merasakan ada yang mengelus rambutnya, Tania membuka matanya.


"Kaka!" lirih Tania dengan terkejut. Ia bangun dari tidurnya dan bangkit kemudian memeluk Lila.


"Kaka!" lirih Tania sambil menangis. Ia menumpahkan tangisannya di pelukan kakanya. Ini pertama kalinya ia menangis kencang. Dulu, saat ia di rawat dirumah sakit, ia ingin sekali menangis di pelukan mamihnya. Tapi, saat itu dia sedang berpura-pura hilang ingatan jadi dia hanya bisa menangis dalam diam.


"Menangislah, kaka ada disini," jawab Lila. Ia mengelus punggung Tania membiarkan adiknya puas menagis.


Dan kini, setelah Tania puas menangis ia berbaring menjadikan paha Lila sebagai bantal, dan Lila mengelus rambut sang adik.


"Kak, apa menurut kaka keputusanku meninggalkannya untuk sementara adalah suatu kesalahan?"


"Tania, tak ada yang berhak melarangmu untuk mengambil keputusan, mereka tak berhak melarangmu atau menyuruhmu. Karena mereka tak merasakan apa yang kau rasakan. Kaka percaya, kau telah memikirkannya matang-matang. Ikuti kata hatimu," jawab Lila. Sejujurnya dia sedang menahan air matanya agar tidak jatuh. Siapa yang sanggup berada di posisi Tania? Tak ada sama sekali yang akan sanggup mendapat goncangan sehebat Tania.


membayangkannya saja membuat Lila bergidik ngeri, dia bersyukur adiknya bisa kuat untuk menerima kenyataan.


"Kenapa kaka bisa melupakan semua kesalahan om Raffael, padahal dia juga melakukan yang fatal?" tanya Tania lagi.


"Entahlah, itu berjalan mengalir seperti air. Kaka berjuang untuk melawan luka yang Raffael berikan dan Raffael berusaha keras menghapus luka itu, hingga kini kami saling menguatkan, menjaga cinta yang pernah membuat kami terluka dan akhirnya cinta kami membuat kami bahagia."


Tania tersenyum mendengar cerita kakanya. Ya, perjalanan cinta kakanya pun tidaklah mudah dan penuh air mata.


"Tania, boleh kaka bertanya?"


Tania pun bangkit dari berbaringnya, Ia duduk bersila dan menatap Lila.


"Apa yang ingin kaka tanyakan?"


"Apa kau ingin berpisah dari suamimu?" tanya Lila dengan ragu-ragu.


Tania menatap lurus kearah depan, ia memandang fokus pada pemandangan di depannya. Tania menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan kakanya.


"Kak, aku tau, kami hanyalah korban. Aku sadar suamiku tak sepenuhnya bersalah, aku juga tau, suamiku pasti sangat terkejut saat dia membaca laporan kesehatan yang menyatakan dia mandul. Tapi, seandainya dia bertanya padaku terlebih dahulu, seandainya dia memercaiku, seandainya dia tak menghinaku dan seandainya dia tak mengatakan akan menceraikanku, a-aku tak akan pergi dari penthouse dan bertemu mereka, seandainya dia ...." Tania tak mampu lagi menyelesaikan ucapannya. Dia menekuk kakinya kemudian menelusupkan wajahnya dan kembali menangis. Beban berat serasa menghimpitnya, ia berusaha bertahan demi satu nyawa, calon anaknya.


Julian.


Dan kini, mereka sedang duduk berhadap-hadapan.


"Apa kau kemari ingin bertanya tentang keberadaan istrimu, Jul?" tanya Bram.


"Maafkan aku, Papih. Aku hanya ingin tau keberadaan istriku dan memastikan keadaanya," jawab Julian sambil tertunduk.


"Julian, sebagi ayah dari Tania, Papih minta maaf padamu, karena Tania pergi tanpa ijin darimu. Kita tidak pernah tau apa yang Tania rasakan saat ini, Papih tidak membenarkan tindakan Tania atau menyalahkannya, kami pun juga tak berhak untuk terus menyudutkan mu karena kami tau, kau pun juga korban disini. Kalian hanya butuh waktu untung saling memahami arti kepercayaan. Papih lebih tau Tania dari siapa pun, ia hanya butuh waktu dan dia pasti akan kembali padamu ketika dia sudah mengatasi luka dan traumanya," ucap Bram. Sebagai seorang ayah Bram cukup bijak melihat dari kedua sisi.


Mendengar ucapan mertuanya. Julian tertunduk, dia merasa malu karena mertuanya begitu bijak.


"Maafkan juga sikap Keinya. Kami semua telah memaafkanmu, Keinya hanya gengsi, kau taukan bagaimana dia."


Julian pun mengangguk.


"Kalau begitu, istirahtlah di kamar Tania, papih akan meminta Art untuk mengantar makanan." Bram pun bangkit dari duduknya berniat untuk keluar.


"Papih, bisakah Papih memberitau dimana Tania?" tanya Julian menatap mertuanya penuh harap


Bram maju, dia menepuk pundak Julian. "Untuk sekarang, mari kita hormati keinginan Tania. Jika dia berkata dia sudah bisa menerima semuanya, Papih sendiri yang akan membawamu padanya," ucap Bram. Ia kembali menepuk pundak menantunya sebelum keluar dari ruangan.


Saat Bram membuka pintu ruangan kerjanya, betapa terkejutnya dia saat melihat Keinya di depannya. Rupanya, Keinya mendengar semua percakapan suami dan menantunya. Ia mengutuk suaminya saat mengatakan kenyataan bahwa dirinya bersikap ketus hanya karena gengsi dan telah memaafkan Julian. Keinya pun sama seperti Bram, ia berusaha melihat dari kedua sisi. Hanya saja dia sedikit gengsi untuk berbuat baik pada Julian karena dia pernah memaki menantunya.


Bram hanya tersenyum kikuk saat Keinya menatap tajam padanya. Keinya pun dengan kesal meninggalkan suaminya.


"Sayang, kau tidak mendengar percakapan kami, kan?" tanya Bram saat mensejajari langkah Keinya.


Keinya berbalik, hingga menabrak dada suaminya.


"Kau ingin di peluk olehku?" tanya Bram saat Keinya menabrak dadanya.


Seketika Keinya tersenyum, ia menggandeng tangan suaminya. "Papih, ayo kita kekamar?" ajak Keinya.


Baru saja ia terhanyut dengan permintaan dan senyuman sang istri, Bram yang sudah berjalan menghentikan langkahnya.


"Kali ini aku takan tergoda," ucap Bram, ia berjalan sambil menutup kuping karena tak mau mendengar godaan sang istri.Jika Keinya kesal pada suaminya, Ia akan menggoda Bram hingga Bram berada di ambang batas dan setelah suaminya merasa On, Keinya akan meninggalkan Bram yang tengah dalam masa-masa melambung tinggi


Dan next, Bab perjuangangan Julian dimulai.


Aku udah ngetik panjang banget, ya, kakak-kaka. mohon jangan berkomentar. "Kak, upnya ko dikit banget" Karena komen yang gtu bikin down.


Yang kangen Malik sama Vani, cus kepoin lapak cinta suci Zalia disana ada extra part terbaru Malik sama.Vania