Uncle Julian

Uncle Julian
Bab 44



Setelah menelpon seseorang, Julian menggengam hapenya dengan kencang. Rahangnya mengeras menahan amarah.


Sedangkan orang yang barusan ditelpon oleh Julian sedang tersenyum senang karena Julian sudah termakan hasutannya.


Dengan emosi, Julian bangkit dari duduknya dan kembali memakai jasnya. Dia pun memasukan map tersebut ke tas kerjanya.


Saat akan masuk ke penthousenya. Ia menetralkan sejenak amarahnya. Dia berusaha setenang mungkin saat akan berhadapan dengan istrinya.


"Darling, kau sudah pulang?" ucap Tania saat terdengar suara pintu.


Tania langsung menghampiri Julian, dia ingin memeluk Julian. Namun, Julian menghempaskan tangan Tania dengan kasar.


"Da-darling, ada apa?" tanya Tania yang heran karena melihat Julian yang sepertinya sedang marah padanya.


"Minggir!" Tanpa perasaan Julian sedikit mendorong tubuh Tania hingga Tania nyaris terjatuh. Untung saja Tania dengan cepat menyeimbangkan dirinya.


"Darling, sebenarnya ada apa? kenapa kau marah padaku," ucap Tania lagi. Dia mengejar Julian dan meminta penjelasan suaminya.


Lagi-lagi, Julian menghempaskan tangan Tania yang sedang memegang tangannya. Julian memandang Tania dengan sinis.


"Pikirkan apa kesalahanmu sebelum aku memutuskan langkah apa yang harus aku ambil," jawab Julian. Dia meneruskan langkahnya menuju ruang kerjanya.


Seketika Tania terduduk lemas dilantai. Dia memegang dadanya yang terasa amat sakit. Air mata yang sedari tadi ditahannya seketika tumpah. Dia tak tau apa kesalahannya. Tadi pagi semua masih baik-baik saja, lalu kenapa dengan suaminya sekarang.


Setelah lama duduk menangis, Tania merasakan perutnya kram. Dengan masih menangis, Tania mencoba bangkit dari duduknya dan berjalan kekamarnya.


Sampai dikamar, Tania membuka celananya, dia merasa ada flek yang keluar dari bagian bawahnya. Dan benar saja, Tania mengeluarkan flek darah.


Dengan cepat, Tania mengeluarkan obat penguat kandungan yang disimpan di laci dan kemudian meminumnya. Setelah meminumnya, Tania pun berbaring diranjang. Dia berusaha menahan tangisnya dan berusaha melupakan perlakuan Julian. Tania meyakinkan dirinya sendiri bahwa Julian hanya sedang kelelahan.


Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri, akhirnya Tania pun tertidur.


Tania kembali terbangun setelah merasa lapar. Dia melihat jam di dinding dan waktu menunjukan pukul 8 malam. Lampu dikamarnya masih gelap, itu berarti Julian belum masuk kekamar mereka.


Tania pun dengan perlahan bangkit dari berbaringnya. Dia berjalan pelan untuk pergi keluar kamar.


Saat diruang makan, ternyata ada Julian yang sedang menikmati makan malamnya. Sedikit ragu untuk mendekat pada suaminya. Namun, karena lapar, Tania pun memberanikan diri untuk duduk di meja makan yang bersebrangan dengan Julian.


Melihat Tania duduk didepannya Julian membanting sendok ke piring dengan keras dan itu sungguh mengejutkan Tania.


Hati Tania kembali sakit saat melihat tingkah Julian. Dengan kasar, Julian bangkit dari duduknya meninggalkan Tania. Sedangkan Tania hanya menunduk menahan tangis. Ingin dia bertanya ada apa dengan suaminya. Namun, dia masih takut dengan amarah suaminya.


Seminggu kemudian.


Selama seminggu, Tania melewati harinya dengan hampa, bagaimana tidak. Selama satu minggu Julian tidak pulang ke penthouse mereka. Dan yang lebih kejamnya lagi, Julian pun memecat maid yang bekerja di penthouse mereka dan itu membuat Tania kelabakan karena harus membereskan penthouse mereka sendiri. Tania sama sekali tak bisa memasak, al hasil dia hanya makan dengan telur setiap hari.


Bukan Tania tak berusaha bertanya pada Julian tentang kesalahannya. Selama 6 hari, Tania sering pergi kekantor Julian. Namun, resepsionis menolak kehadiran Tania, tentu saja itu atas perintah Julian.


Dan hari ini Tania memutuskan tak ingin lagi pergi kekantor suaminya. Dia tak ingin lebih dipermalukan lagi di depan karyawan suaminya. Tania sudah pasrahn dengan sikap Julian. Dia akan menunggu suaminya yang akan datang menemuinya dan menjelaskan apa yang terjadi.


"Sepertinya aku harus pergi ke supermarket," gumam Tania dengan lesu saat melihat susu hamilnya telah habis.


°°


"Oppa, kapan kau akan pulang ke penthousemu," ucap seseorang wanita yang bergelayut manja pada seorang lelaki.


"Kau keberatan jika oppa menginap di apartemenmu. Kau tidak lupa kan jika oppa yang membeli apartemen itu," jawab si lelaki tersebut.


Saat memilih sabun. Sayup-sayup Tania mendengar suara suaminya. Namun, Tania segera menepis pikirannya. Tapi walau begitu, hati Tania merasa sakit karena mendengar juga suara wanita lain.


Tania pun memasukan sabun yang di pilihnya kedalam troli dan kembali mendorong troli yang sudah terisi susu hamil dan beberapa keperluannya.


Saat akan berbelok, troli Tania menubruk troli yang lainnya.


Baru saja Tania akan meminta maaf, namun niat itu diurungkan saat melihat siapa yang berada didepannya.


Dunia Tania hancur saat melihat orang yang kini berhadapan dengannya. Bagaimana tidak, saat ini dia melihat suaminya sedang bersama wanita lain, dan si wanita itu sedang bergelayut manja ditangan dan satu tangan Julian sedang mendorong troli.


Lutut Tania melemas seketika saat menyadari bahwa suara tadi adalah suara suaminya. Bahkan dengan jelas Tania mendengar bahwa suaminya telah membelikan apartemen dan tinggal di apartemen tersebut dengan wanita yang sedang bergelayut di lengan suaminya.


Mata Tania berkaca-kaca saat melihat ekpresi Julian yang datar dan tanpa merasa bersalah.


Baru saja Tania akan membuka mulut, Wanita yang berada disebelah Julian sudah terlebih dulu membuka mulut.


"Oppa, bukankah dia istrimu?" tanya si wanita tersebut yang bernama Alisia Kim yang tak lain adalah anak dari adik ibu Julian. Alisia memutuskan untuk kuliah di Swiss dan tentu Julian yang mengurus segala keperluan adik sepupunya. Saat Julian menikah dengan Tania, Alisia tak hadir dia hanya melihat sekilas dari foto yang diunggah di instagram Julian.


"Kami akan segera bercerai," ucap Julian dengan memakai bahasa Korea.


Tania hampir saja terjatuh mendengar ucapan yang dilontarkan suaminya. Namun, dia berpegangan pada rak di belakanngnya. Julian pikir, Tania tak mengerti bahasa Korea. Namun, Julian lupa bahwa istrinya menguasi beberapa bahasa asing termasuk bahasa Korea.


Tak ingin dianggap lemah, Tania memundurkan trolinya dan berdiri dihadapan troli yang sedang dipegang oleh Julian.


"Jika kau ingin menceraikanku. Maka pulanglah. Kita harus bicara. Setelah itu kau bisa menceraikanku," ucap Tania dengan berbahasa Korea.


Setelah mengatakan hal tersebut, Tania pun pergi dari hadapan Julian dan mendorong trolinya untuk kekasir. Semua yang berpapasan dengan Tania menatao Tania dengan heran karena Tania tak berhenti menangis.


Saat sudah di Taxi, Tania tetap tak bisa menghentikan tangisannya. Ingatannya menerawang pada saat awal-awal pernikahan yang terasa amat manis.


Tania menghapus ait matanya kemudian dia mengelus perutnya. "Apapun yang terjadi. Mommy akan berusaha kuat untuk kalian. Jadi berjanjilah kalian akan baik-baik saja didalam perut Mommy," lirih Tania dengan isakan yang lebih kencang hingga membuat supir taxi keheranan.


Saat tiba, di penthousenya, Tania dengan segera mengambil koper dan memasukan baju-bajunya. Tania belum siap jika harus pulang ke Indonesia atau Spanyol. Untuk sementara Tania memutuskan untuk tinggal di hotel.


Waktu menunjukan pukul 9 malam. Setelah tadi sore Tania bersiap, dia memutuskan untuk menunggu suaminya. Ia harus berbicara baik-baik sebelum pergi dan meminta Julian untuk merahasiakan ini dari keluarganya.


Langkahnya terhenti saat didepan foto pernikahannya.


Tania memandang foto itu dengan nanar. Dia kembali meneteskan air mata. Teringat jelas ucapan Julian yang akan menceraikan dirinya. Tania terlalu lelah memikirkan apa kesalahannya hingga dia lebih memilih untuk menerima takdir yang tidak berjodoh dengan suaminya dan menjadi janda muda.


"Ya Allah, jika berpisah darinya adalah hal terbaik. Maka aku iklash. Mungkin jodoh kami hanya sampai disini," lirih Tania.


Tania pun kembali melanjutkan langkahnya. Dan kini ia masuk keruang kerja Julian. Saat akan duduk dikursi kerja Julian, Tania melihat map yang bertuliskan alamat rumah sakit Spanyol.


Tania pun membuka map tersebut, dia membaca isi kertas tersebut dengan detail. Matanya terbelalak saat mengetahui bahwa suaminya dinyatakan mandul dan tak akan pernah bisa memiliki keturunan.


Dan sekarang Tania mengerti kenapa sikap suaminya berubah.


Karena masih shock dengan apa yang dibacanya, Tania tak menyadari bahwa Julian baru saja masuk.


"Karena kau sudah tau, sekarang jujur padaku! siapa ayah dari bayi yang kau kandung," ucap Julian dengan tatapan tajam.


Hati Tania merasakan dua kali lebih sakit karena tuduhan suaminya. Bagaimana mungkin suaminya tak percaya padanya bahkan Julianlah yang pertama menyentuh tubuh Tania.


Julian maju kehadapan Tania. Dia mencengkram kedua pundak Tania dengan keras hingga Tania kesakitan. Tania tak ingin terlihat lemah Tania menatap Julian tak kalah tajam.


"Katakan siapa ayah dari anak haram yang kau kandung.!" titah Julian dengan mata melotot. "Aku menyesal telah menikah dengan wanita murahan sepertimu yang rela menjajakan tubuh untuk pria lain," ucap Julian dengan sinis.


Plak! satu tamparan mendarat di pipi Julian.l hingga Julian melepaskan tangannya pada pundak Tania "Berani sekali kau menghina anaku. Aku dibesarkan oleh keluarga terhormat dan didikan agama yang kuat dan sekarang kau lebih percaya pada kertas itu dari pada istrimu!" Tania berteriak penuh emosi. "Baik, mungkin jodoh kita hanya sampai disini. Kau tak perlu repot-repot menggugatku, aku sendiri yang akan menggugatmu!" Tania pun melepaskan cin-cin kawinnya dan melemparkannya pada tubuh Julian. Dia pun keluar dari ruang kerja suaminya dan pergi kekamarnya untuk mengambil koper.


Tania tergugu menangis saat keluar dari penthousenya. Saat sedang menunggu taxi. Tania merasa lututnya gemetar dia serasa tak sanggup lagi untuk menahan tubuhnya. Tania pun berjongkok dan berusaha agar tak kehilangan kesadarannya.


Tak lama, taxi pun berhenti didepannya. Tania pun menyuruh Supir taxi untuk memasukan kopernya.


"Tolong bangunkan aku jika sudah sampai di hotel," ucap Tania yang merasa bahwa matanya kian memberat.


Supir itu pun mengangguk dan tersenyum misterius.


Tania terbangun saat supir taxi membuka pintu mobil dengan kasar. Tania mengerjapkan matanya dia melihat kesekelilingnya. Hanya ada kegelapan disekitarnya. Tubuh Tania kembali bergetar saat melihat beberapa pria berbadan besar dan menuju kearah mobil. Kondisi memang sangat gelap tapi lewat sinar bulan Tania dengan jelas melihat pria-pria tersebut.


Salah satu pria tersebut membuka pintu mobil dengan keras. Dia menodongkan pistol kearah Tania.


"Turun! jangan membantah atau peluru ini akan membidik perutmu!" ucap salah satu si pria tersebut.


Dengan gemetar Tania pun turun dari mobil, pria itu menyuruh Tania untuk terus berjalan menuju tempat yang tak lain adalah rumah kosong.


Saat sudah memasuk rumah Tania di diseret untuk memasuki ruangan.


Setelah memasuki ruangan Pria tadi memukul kepala Tania dengan balok hingga Tania hampir terjatuh. Beruntung Tania berpegangan pada lemari usang di sebelahnya.


Tania bergidik ketakutan saat si pria tadi kembali mengayuhkan balok untuk memukulnya.


Tania pun mundur dengan perlahan untuk mengulur waktu. "A-apa yang kau mau. Kenapa kalian menculiku," ucap Tania dengan bibir gemetar.


Tania terus mundur dan si pria itu terus maju. Tania memejamkan matanya saat punggungnya menyentuh tembok. Kini Tania sadar takan ada kesempatan untuk lari.


"Ya Allah jika hidupku memang sampai disini, aku ikhlas," lirih Tania dalam hati. Dengan perlahan, Tania mendudukan diri dan menelukupkan wajahnya ke lututnya. Dititik terkahir saat merasa menyerah, Tania hanya berusaha untuk melindungi kedua calon anaknya. Tania terus ber istighfar berharap ada pertolongan datang.


Melihat Tania yang sedang menunduk. Si pria tadi kembali mengayuhkan balok dan memukul tubuh Tania.


Tania masih bertahan saat si pria itu memukul seluruh tubuhnya. Tania bahkan tak mengangkat kepalanya dia hanya ingin melindungi kedua calon anaknya


Tania pasrah jika seluruh tubuhnya di pukuli, tapi Tania berusaha agar balok itu tak menyentuh perutnya.


Kesal karena Tania tak melawan dan terus tertunduk, si pria tadi menusuk memukul pinggang Tania dengan balok hingga Tania terhempas kesisi dengan posisi terbaring. Entah berapa kali tubuh Tania dipukuli oleh pria tersebut, darah megucur dari kepala Tania dan bisa dibilang kondisi Tania dalam keadaan hancur.


Setelah pria tadi memukul perut Tania dengan keras, Tania merasa ada darah mengalir dikedua pahanya. Tania merasa dirinya akan kehilangan kesadaran. Tania berusaha bangkit saat melihat si pria tadi sudah mengangkat kakinya dan berniat untuk menginjak perut Tania. Namun, sia-sia tubuh Tania terlalu lemah dia berusaha memegangi perutnya sebagai pertahanan terakhir.


Brakkkk


Pintu terbuka dengan keras, dua orang masuk kedalam ruangan, pria yang akan menginjak perut Tania pun mengehentikan gerakannya membuat Tania sedikit lega.


"O-om, Raffael ...." Setelah menyebut Raffael, Tania pun kehilangan kesadarannya.


Dua orang yang datang adalah Raffael dan Malik. Dengan cepat, Raffael mengahmpiri Tania sedangkan Malik menghajar pria yang sudah menyiksa Tania. Malik menembak kaki si pria tersebut, Malik mendapatkan pistol dari salah satu penculik yang menjaga didepan.


"Tania ... Tania ....." Raffael dengan cepat membopong tubuh Tania dan segera keluar dari ruangan itu disusul Malik di belakangnya.


Melihat ada kunci menggantung, Malik pun mengunci ruangan agar si pria tadi tidak kabur. Setidaknya nanti dia bisa mengetahui motif si pria tersebut menyiksa Tania.


Tibalah mereka dirumah sakit, Tania langsung ditangani sedangkan Raffael dan Malik menunggu dengan cemas diluar.


Dua jam kemudian, Dokter pun keluar dari ruangan.


"Bagaimana kondisi keponakan saya, Dok?" tanya Raffael dengan tidak sabar.


"Kondisinya buruk bahkan satu janin telah gugur dan satu janin dalam kondisi lemah," ucap si dokter tersebut.


Raffael menonjok dinding saat mengetahui keadaaa Tania yang sudah parah bahkan satu kandungan Tania tak bisa diselamatkan.


Sedangkan Malik dengan segera menelpon mertuanya mengabarkan kondisi Tania.


Wah aku ngtik udah panjang banget Lho. Di next bab akan dijelaskan kenapa sampai Malik sama Raffael bisa nyelametin Tania.


Sejujurnya aku mewek pas ngetik Tania lagi disiksa terus Tania berusaha melindungi perutnya agar ga kena pukul😞😞😞