
Satu minggu kemudian.
Hari ini tepat satu minggu Tania berada di rumah sakit. Hari ini, dia sudah di perbolehkan pulang.
Bayi kecil, nan cantik itu mereka beri nama Khalisia Kim. Hari ini, Tania sudah di perbolehkan pulang ke rumah karena kondisinya sudah stabil.
"Daddy, dia tidur kenapa kau terus menggendongnya," ucap Tania, saat suaminya terus menggendong putri kecil mereka.
Julian pun kembali menaruh Khalisia kedalam box, ia menghampiri Tania yang sedang duduk di brankarnya.
Julian duduk di kursi, karna Tania duduk dengan posisi kaki yang menjuntai kebawah, Julian pun menghmpit kaki istrinya dengan dadanya.
"Kau cemburu pada putrimu, Sayang?" tanyanya. Ia, merapikan rambut Tania yang menutupi pipi dan membawanya ke belakang telinga istrinya.
"Aku tidak cemburu, tapi dia kan tidur, dan jika dia tidur waktumu bersamaku," jawab Tania mencebik, ketika Khalisia bangun, Julian akan lupa pada istrinya. Mungkin, bukan lupa, Julian tak bisa melepaskan penglihatannya dari wajah cantik putrinya. Khalisia sangat mirip dengan dirinya. Terkadang, ketika tengah malam Tania sedang tertidur, diam-diam Julian menangis saat melihat wajah Khalisia, dia menyesali perbuatannya yang membuat mereka harus kehilangan satu janin. Seandainya Julian tak gegabah, tentulah Khalisa masih bersama kembarannya. Menjaga anak istrinya sebaik mungkin adalah cara Julian untuk menebus semua dosanya.
Julian sedikit memundurkan kursinya, ia mengulurkan tangannya pada istrinya. Tania pun menurut, ia pun duduk menyamping di pangkuan suaminya.
"Terimakasih telah sabar menemani ku, telah sabat menungguku, telah memaafkan kebodohanku. Maafkan aku yang tak sempurna ini," ucap Julian. Ia membawa telapak tangan istrinya dan mengecupnya.
"Kau tau, Dad. Saat aku berjauhan denganmu terkadang aku menyesal telah meninggalkanmu. Tapi, kini aku sama sekali tak menyesal. Setelah badai, cintaku padamu bertambah berkali-kali lipat. Aku bahkan merasa seperti pertama kali jatuh cinta denganmu," Tania mengecup kening Julian sekilas. Kemudian ia mencium bibir suaminya. Baru saja Julian akan menahan tengkuk Tania, mata Julian menangkap ada bocah kecil yang sedang berdiri dan memerhatikan mereka.
Sangking larutnya dalam kebersamaan mereka, mereka tak menyadari ada bocah kecil yang masuk sedari tadi. Dialah si bocah cilik Lyodra. Bocah 7 tahun itu masuk untuk melihat Khalisia. Namun, ia malah melihat hal yang seharusnya tak ia lihat.
Tania pun dengan cepat bangkit dari duduknya. Muka mereka merah saat Lyodra terlihat bingung.
"Lyo sejak kapan kau disana?" tanya Tania.
Bocah kecil itu pun tampak berpikir.
"Sejak aunty menempelkan bibir aunty pada bibir uncle," jawab bocah kecil itu dengan polosnya.
Julian berjongkok dan menyetarakan dirinya dengan Lyodra, Julian berbisik di telinga Lyodra.
Julian pun mengangguk.
"Oke, Uncle!" seketika Lyodra mengecup pipi Julian. Ia, pun berbalik dan berjalan keluar. Tapi, sebelum dia keluar dari ruangan Tania, ia menoleh ke arah Tania lalu menjulurkan lidahnya pada sang tante.
Diantara semua keluarganya, Tania lah yang paling merasa gemas pada keponakannya. Sejak Lyodra datang 3 tahun silam, Tania tak bisa menghentikan ke gemasannya. ia sering mencubit pipi gembul Lyo dan mengigitnya. terkadang jika ia bocah kecil itu menginap di rumah mamih dan papihnya, Tania akan mencubit atau menjahili sang keponakan yang sedang tertidur hingga dia terbangun, tak jarang dia terkena omelan Keinya karena terus mengganggu Lyodra.
Saat dia Lyodra bertemu Tania, bocah kecil itupun akan berlari dan menutupi pipinya agar tak di cubit, dan sekarang hubungan tanteu dan keponakan itu sama sekali tak akur. Mereka bagaikan musuh, Tania yang selalu gemas pada Lyo dan Lyo yang tak suka jika dirinya terus di ganggu oleh sang tante.
"Daddy kau menjanjikan apa padanya?" tanya Tania sambil mendudukan dirinya di brankar.
"Aku hanya berjanji akan memberikannya uang untuk membeli mainan."
"Dia percis seperti aku dan Vania saat kecil," jawabnya sambil terkekeh.
"Kenapa memangnya."
"Dulu, jika kami ingin membeli mainan kami harus mengumpulkan uang jajan , dan kami baru akan mendapat uang banyak jika kami mau menjadi mata-mata mamih. Keluarga kami memang sultan sedari dulu, tapi poppa mendidik mamih dan om Raffael seperti itu. mereka tak membiarkan mamih dan om Raffael menghambur-hamburkan uang dan itu pun berlaku pada kami semua sekarang," ucapnya sambil terkekeh.
"Kalian sudah siap?" tanya Bram yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan Tania. Bram memberitau bahwa mereka sudah bisa pulang karena sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit tak lupa ia membawa kursi roda untuk Tania.
"Ya, Papih. Kami siap," jawab Tania. Tania pun berjalan dan langsung duduk di kursi roda.
°°°
"Daddy, aku ingin minum. Bisa ambilkan aku air?" pinta Tania saat Julian baru saja mendudukan Tania di sofa, karena kamar Tania di lantai atas, Julian pun memangku Tania ala bridal style untuk naik keatas.
"Oke, aku akan mengambilkannya." Julian mengelus rambut Tania sebelum meninggalkannya.
Tania menelusuri isi kamarnya, ia tersenyum saat mengingat di kamar inilah dia sering merindukan Julian, tatapannya beralih pada ranjang. Ia, menyipitkan matanya saat merasa ada yang berberda dengan ranjangnya, matanya semakin menyipit ketika dia melihat sendal di dekat ranjangnya.
"Tunggu!"