
Setelah memakan waktu selam satu jam di perjalanan, akhirnya Julian tiba dirumah ulama yang akan menuntunnya menjadi mualaf. Di temani oleh Joenathan dan Diana serta beberapa saksi, Julian pun mengucap dua kalimat syahadat dan kini ia pun resmi menjadi seorang mualaf.
Saat memasuki jam Duhur, Ulama serta beberapa muslim yang tadi menjadi saksi pun mengajak Julian untuk sholat berjamaah. Seseorang bermaksud untuk mengajari Julian tatacara Sholat yang benar. Namun, diluar dugaan, Julian berkata sudab hapal semuanya. Dan hanya meminta untuk di koreksi saja.
Ya, saat mulai berhubungan dengan Tania, Julian pun sudah berpikir untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Dia mulai mempelajari islam. Saat dia bertemu dengan rekan bisnisnya yang beragama islam, Julian pun tak segan-segan untuk bertanya tentang islam.
Sesudah melakukan sholat duhur, Julian pun menyusul Joenathan dan Diana yang sudah menunggu diluar dan bersiap untuk kembali pulang.
"Kau sudah selesai?" tanya Joenathan.
Bukan menjawab, Julian malah memeluk kaka pertamanya tersebut.
"Doakan aku, Kak."
"Kaka selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semua agama mengajarkan kebaikan, jadilah muslim yang taat mulai sekarang dan bertanggung jawablah dengan pilihanmu," ucap Joenathan sambil mengelus punggung sang adik. Diana langsung masuk kedalam mobil saat melihat adegan berpelukan antara kedua kakanya. Dia pun ikut menangis. Namun, dia terlalu gengsi untuk memperlihatkan tangisannya. Mereka ber 3 memang sangat dekat satu sama lain. Joenathan adalah sosok kaka yang sangat mengayomi kedua adiknya. Terlebih lagi saat ayah mereka meninggal. Joenathan harus menjadi sosok ayah pengganti bagi Diana dan Julian.
"Ayo kita kerumah sakit. Dokter Chris sudah menunggu!" ajak Joenathan saat melepas pelukannya dari sang adik. Tanpa menunda lagi, Julian pun memutuskan untuk segera memotong senjatanya.
"Kau gugup, Jul?" tanya Diana saat Julian sudah terbaring di brankar setelah melakukan pemeriksaan sebelum masuk kedalam ruang operasi.
"Pertanyaan bodoh apa yang kau lontarkan, Diana!" gerutu Julian karena adik kembarnya tak berhenti mengolok-ngoloknya.
"Kau akan kehilangan setengah senjatamu dan tentu saja Tania takan puas denganmu," balas Diana sambil tertawa terbahak-bahak.
Julian yang kesal karena ocehan sang adik langsung melempar bantal kearah adiknya.
Tak puas katanya. Dia belum tau saja bahwa miliku diatas rata-rata. Julian membatim dalam hati karena mendengar ledekan Diana.
"Mamih, apa aku boleh keluar sebentar?" tanya Tania saat menghampiri Keinya yang sedang. duduk di sofa sambil memangku Magika yang tadi pagi baru saja tiba di Spanyol.
"Kau mau kemana?"
"Bolehkah aku menemani dar ...bukan maksudku Uncle Julian dirumah sakit?" tanya Tania.
"Tania, dengarkan mamih, Nak!" Keinya menepuk-nepuk sisinya menyuruh Tania untuk duduk disisinya.
"Tania, dengarkan Mamih! Calon suami mu sedang menjalani perawatan yang cukup sensitif. Jika kau kesana, kemungkinan dia akan merasa canggung. Kau mengerti, kan, maksud Mamih?"
Tania pun menyenderkan kepalanya di bahu Keinya. Sesekali dia mencubit gembul pipi Magika yang sedang berada di pangkuan Keinya.
"Tapi, Mamih aku sungguh ingin mendampinginya."
"Doakan saja dia. Jika kau kesana dia calon suami mu akan merasa tak nyaman. Lebih baik kau bergabung bersama Kakamu, dan Raffael. Mereka sedang berenang."
"Baiklah, Mamih."
Satu bulan kemudian.
Setelah dua minggu Julian melakukan sunat, ia pun sudah mulai bisa berktipitas secara normal. Bram sudah menyuruh orang-orangnya untuk mengurus surat-surat kepindahan Julian menjadi warga Indonesia.
Detik-detik menengangkan pun terjadi. Hari ini, Julian dan Tania akan melaksanakan ijan qobul di kediaman Bram.
Tak banyak tamu yang hadir karena mereka akan melakukan resepsi satu minggu kemudian. Dan sekarang, di meja sudah ada sepasang pengantin, saksi, Bram sebagai wali dan penghulu.
"Saudara, Julian. Bisa kita mulai?"
Julian pun mengangguk mantap.
Dengan satu kali tarikan napas mereka pun resmi menjadi sepasang suami istri.
Spanyol.
Seorang wanita parubaya sedang tertawa terbahak-bahak saat selesai membaca map yang sedang di pegannya.
" Awasi mereka, jika sudah terbukti kirim ini kepadanya," ucap si wanita pada orang didepanya.
Uncle Bram 2 udh up bab tebaru ya, istri diatas kertas up malem