Uncle Julian

Uncle Julian
54



"Katakan pada papih, kau ingin papih melakukan apa pada suamimu?" tanya Bram.


Tania menghela napas sejenak, selama dua minggu terbaring di rumah sakit, Tania sudah banyak berpikir tentang langkah apa yang akan dia ambil kedepannya.


"Papih, aku ingin melakukannya dengan caraku."


Bram menghela napas sejenak, dia tau bagaimana watak Tania. Sekali Tania sudah mengambil keputusan takan ada yang bisa mengubahnya.


"Katakan, apa yang kau rencanakan? jika itu tidak membahayakan dirimu sendiri papih akan mendukung apapun keputusanmu."


Tania pun menceritakan semua apa yang dipikirkannya dan rencananya pada Bram.


"Kau yakin dengan rencanamu?"


"Papih, aku tau, mungkin yang aku lakukan salah dan mungkin yang aku lakukan sungguh tidak baik. Tapi hanya cara ini yang terpikir dan yang bisa aku lakukan agar aku bisa sedikit melupaka lukaku. Walau bagaimana pun tak mudah untuk melupakan apa yang terjadi padaku apalagi aku harus kehilangan satu janinku. Ini sungguh sangat menyakitkan papih, aku sungguh sakit ...." Tania tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Rasa sakit kembali datang saat mengungkit kembali tentang apa yang sudah menimpanya.


Bram kembali membawa Tania kedalam pelukannya. Sebagai ayah, dia pun merasa hancur. Bram pikir, hanya putri pertamanya saja yang akan mengalami hal buruk. Tapi, ternyata Bram salah, kini hal buruk kembali menimpa putri bungusnya. Tak ada yang tau, selama Tania dirumah sakit, Bram diam-diam menangis saat melihat Tania yang sedang terluka.


Tania terus menangis dipelukan papihnya dan yang bisa Bram lakukan adalah mengusap punggung Tania menyalurkan kehangatan lewat tanganya.


"Menangislah sepuasmu. Lakukan apa yang menurutmu terbaik. Papih akan menugaskan Ahsam untuk kembali di dekatmu," ucap Bram lagi. Ada sedikit penyesalan di hati Bram saat mengingat Ahsam.


Saat Tania pindah ke Swiss, Ahsam menawarkan diri untuk mengawasi Tania. Namun, karena saat itu dia percaya pada Julian, dia pun menolak usulan Ahsam, apalagi Ahsam berencana memercepat pernikahannya.


Tania pun mengangguk dalam pelukan Bram pertanda dia setuju dengan usulan Bram yang akan menyuruh Ahsam untuk kembali menjaganya dan mungkin istrin Ahsam juga akan ikut menjaga Tania.


•••


Julian melihat jam yang melingkar di tangannya. Dia tersenyum saat jam kantor telah berakhir.


Setelah Tania sadar, dia sudah berbicara pada kedua mertuanya. Tentu saja Julian langsung meminta maaf pada Bram dan Keinya.


Bram menanggapinya dengan bijaksana tapi walaupun begitu, Bram bersikap sangat dingin pada Julian. Sedangkan Keinya. Tentu saja dia tak bisa memaafkan Julian begitu saja.


Bahkan saat Julian minta maaf pada mereka, Keinya yang emosi menyiramkan segelas air yang berada di depannya ke wajah Julian. Mungkin jika Bram tak menahan Keinya sudah di pastikan Keinya akan melakukan hal lebih dari sekedar menyiram minuman ke wajah Julian. Namun, walau begitu, Julian masih merasa bersyukur kedua mertuanya masih mengijinkannya menemani Tania ketika malam.


Julian pun bangkit dari duduknya berniat untuk pergi ke rumah sakit. Dia bahagia akhirnya istrinya diijinkan pulang.


Julian hanya berharap, Tania mau pulang ke penthouse miliknya. Walaupun Tania berkata dia lupa yang terjadi, tapi Julian tau Tania berbohong. Julian sadar betul bahwa Tania mengingat semua. Sebab, sikap dingin yang Tania tunjukan sudah membuat Julian yakin bahwa Tania tidak kehilangan ingatannya.


Tania di jadwalkan pulang oleh rumah sakit dua jam lagi, Julian pun mengendarai mobilnya dengan cepat agar segera sampai di rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, Julian berlari kearah ruangan Tania.


Saat masuk kedalam ruangan Tania, Julian bernapas lega karena Tania masih ada di ruangannya.


"Kau sudah datang?" tanya Bram.


Julian pun mengangguk dan menghampiri Tania yang sedang duduk di brankarnya dengan kaki yang menjuntai kebawah.


"Papih, titip Tania padamu, kami akan terbang ke Indonesia malam nanti," ucap Bram yang sedang duduk di sofa.


Mata Julian membulat sempurna saat mendengar penuturan Bram. Julian ingin sekali berteriak senang karena ternyata Tania memilih untuk pulang ke penthouse bersamanya. Dan dengan kembalinya Bram dan Keinya ke Indonesia Julian merasa bahwa kedua mertuanya telah kembali percaya padanya. Tanpa Julian sadari, semua sudah di rencanakan oleh istrinya.


"Sekretarisku akan mengantar kalian ke Bandara," ucap Julian.


Keinya yang sedang fokus menunduk fokus melihat ponselnya dan duduk disebelah Bram melihat Julian sekilas. Keinya berdecih pelan saat menangkap raut muka menantunya yang sepertinya senang akan kepergian mereka.


"Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa untuk selalu mengabari mamih," ucap Keinya saat memeluk Tania. Mereka akan segera pergi kebandara karena penerbangan tinggal dua jam lagi.


Tania pun mengangguk.


Setelah Bram dan Keinya pergi meningalkan rumah sakit. Julian pun berjongkok dihadapan Tania.


"Sayang, kau ingin aku gendong atau memakai kursi roda?" tanya Julian saat mereka akan meninggalkan rumah sakit.


"Kursi roda," jawab Tania acuh. Dia bahkan tak melirik ke arah suaminya.


Julian pun bangkit dari berjongkoknya dan keluar untuk mengambil kursi roda.


Saat sampai di penthouse, Julian berniat membopong Tania. Namun, dengan cepat Tania menepis tangan Julian.


"Jangan menyentuhku!" seru Tania. Tania pun memilih berjalan perlahan untuk kekamar tamu. Masih terlalu sesak rasanya kalau dia harus kembali kekamarnya.


Julian merasa hatinya sangat sakit akibat penolakan Tania. Namun, dia sadar bahwa Tania bersikap demikian karena salahnya. Julian pun akan berusaha bersabar untuk mendapatkan maaf istrinya.


Seminggu kemudian.


Setelah Tania pulang ke penthouse mereka. Berbagai cara Julian lakukan untuk medapatkan maaf dari Tania . Namun, Tania tetap tak bergeming dia bahkan sama sekali tak menjawab sepatah katapun jika suaminya bertanya. Bahkan Tania tak pernah keluar dari kamar tamu. Dia hanya keluar saat dia meminta Maid membuatkan makanan untuknya.


Selama seminggu pula Julian tak pergi ke kantor, dia lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaannya di penthouse agar tetap bisa menemani Tania. walau kenyataanya Tania mengurung dirinya di kamar.


Dan kini Julian sedang duduk di sofa sambil memangku laptop. Mendengar suara pintu kamar yang terbuka, Julian pun bangkit untuk menghampiri Tania.


"Sayang, kau butuh sesuatu?" tanya Julian. Berharap kali ini Tania mau menjawabnya.


"Tolong belikan makanan di restoran dekat kantormu aku ingin makam seafood," jawab Tania.


Julian ingin sekali berteriak senang saat Tania menjawab ucapannya bahkan menyuruhnya. Bukankah ini awal yang bagus untuk hubungan mereka. Begitulah pikir Julian.


"Tunggu sebentar. Aku akan membelikannya untukmu." Julian pun berlari mengambil kunci mobil dan pergi untuk membeli pesanan Tania.


Setelah Julian pergi, Tania masuk kembali kedalam kamar. Dia menaruh surat untuk Julian di atas nakas.


Setelah itu, Tania pun kembali keluar dari kamarnya dan meninggalkan penthouse.


Sebelum Taxi datang, Tania membuang ponselnya agar Julian tak bisa melacaknya.


Ya, Tania sengaja menyuruh Julian pergi agar dia bisa meninggalkan penthouse. Ya, Tania memutuskan pergi ke tempat dimana Julian tak akan bisa melacaknya.


Walau memang bukan salah Julian sepenuhnya. Tapi, setiap melihat Julian, Tania akan teringat akan lukanya dan Janin yang telah gugur. Karena luka yang dialami Tania bukan luka yang dapat dilupakan begitu saja. Butuh waktu untuk Tania melupakannya dan tentunya tanpa melihat Julian. Biarkan waktu yang mengeringkan lukanya. Kesendirian bagi Tania lebih baik agar dia bisa menstabilkan emosinya.


Udah panjang banget nih aku ngetik. jangan komen bilang aku upnya pendek banget ya karena itu bikin semangat Down


Kira-kira, gimana ya reaksi julian pas baca surat Tania. Jawab di kolom komentar ya🤣🤣.


Surat Tania di next bab ya.


Oh ia, Yang punya facebook yuk add facebook Ku


Nama fbnya Dewi kim


Team yang dukung Tania pergi mana suaranya?🤣🤣🤣