Uncle Julian

Uncle Julian
61



Suara Julian sungguh merdu ketika meng'Adzani putri mereka. Bulu kuduk Tania merinding saat mendengar suaminya Adzan, suara suaminya begitu merdu hingga mampuh menyentuh hatinya. Tania kembali menangis. Ia begitu terharu saat melihat suaminya begitu Fasih mengadzankan sang putri.


Bukan hanya Tania yang menangis. Julian pun ikut menangis. Rasa bahagia membuncah dalam dada kala ia melihat sang putri untuk yang pertama kalinya.


Beribu-ribu kata maaf terucap dalam hatinya pada istri dan anaknya, karena membiarkan mereka melalalui perjalanan panjang seorang diri.


•••


Setelah semua proses operasi selesai, kini Tania sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Tentu saja Julian dengan setia menemani sang istri. Ia menggengam tangan Tania dan mengecupnya bertubi-tubi.


Sedangkan Tania yang sedang di perlakukan manis oleh suaminya hanya memejamkan mata. Selain menahan sakit karena luka sesar, Tania pun sungguh malu dan terlalu gengsi untuk menatap sang suami dan untuk memulai pembicaraan.


Padahal hatinya bersorak girang saat sang suami datang dan memberi harapan baru untuknya. Ya, sangat logis, ketika seorang wanita terluka. Namun, dia masih tetap mencintai suaminya, pasti akan merasakan hal yang sama seperti Tania. Ada sedikit gengsi, malu, canggung dan perasaan lainnya.


Ketika semua luka sirna, maka tak ada alasan untuk terus mengingat yang telah berlalu~>Tania.


Julian menatap Tania lekat-lekat saat Tania memejamkan matanya. kerongkongannya terasa kering, ia berniat untuk mengambil minum. Perlahan Julian melepaskan genggamannya agar Tania tak terbangun. Namun, baru saja ia akan bangkit dari duduknya. Suara Tania menghentika gerakannya.


"Kau mau kemana?" tanya Tania. Saat Julian melepaskan genggamannya. Tania refleks membuka matanya dan mengeluarkan suara setelah sekian lama bungkam. Ia mengigit bibir bawahnya dan kembali memejamkan mata. Sungguh, Tania merasa malu bukan main karena tingkahnya sendiri.


"Aku hanya ingin mengambil minum, sebentar aku tak akan lama," ucap Julian sambil tersenyum. Walaupun senyumannya takan dilihat oleh Tania karena sang istri sudah memejamkan matanya.


Julian pun mengambil minum yang berada di sofa dan menenggaknya hingga tandas, sedangkan Tania, diam-diam mengintip apa yang sedang di lakukan suaminya.


Setelah Julian selesai minum, Tania pun dengan cepat memejamkan matanya kembali.


Julian kembali mendekat kearah brankar Tania. Ia tersenyum seraya menggeleng karena melihat tingkah sang istri. Julian memang tak berpengalaman menghadapi wanita. Namun, ia sadar bahwa istri kecilnya masih sedang dalam mode merajuk.


"Sayang, aku tau, kau tidak tidur. Tak masalah jika kau belum mau menatapku. Cukup dengarkan aku sekali ini saja." Julian menghela napas sejenak sebelum berbicara. "Aku tau, maafku takan mengembalikan semuanya. Sesalku juga tak berguna, semua sudah terjadi dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Tapi, bisakah kau memberiku kesempatan kedua? memaafkanku dan biarkan aku menembus semua dengan cara menjaga kalian," ucap Julian. Walau tadi sebelum Tania masuk ke ruang operasi dia sudah meminta maaf. Tapi, Julian merasa ia harus kembali meminta maaf. Jika tidak, kecanggungan akan terus melanda keduanya.


"Bodoh!" jawab Tania sambil meneteskan air mata. Ia memalingkan wajahnya kearah lain karena tak ingin Julian melihat tangisannya. Ia memang mengutuk pada suaminya. Namun, nada suaranya terdengar halus dan penuh cinta.


Julian yang mendengar tangisan sang istri, langsung memegang wajah Tania dan mengarahkan wajah Tania untuk melihat dirinya.


"Kau memaafkanku?"


"Bodoh!" seru Tania lagi. Ia menjeda sejanak ucapannya. "Kenapa kau terus bertanya jika kau sudah tau jawabannya."


"Jadi?" tanya Julian lagi. Ia menggoda sang istri. Padahal ia sudah tau jawabannya.


Tania yang masih merasa malu, kembali memalingkan tatapannya kearah lain. Julian tersenyum saat melihat reaksi sang istri.


Ia pun berpindah ke sisi sebelahnya. Julian langsung membungkuk dan mencium bibir istrinya. Tak disangka Tania pun membalas ciuman sang suami.


Dan ketika mereka larut dalam momen romantis.


Krertt


Suara perut Julian terdengar nyaring. Ya, Julian memang lapar tapi dia menahannya. Naasnya rasa lapar menghancurkan momen romantis yang sedang berlangsung.


Julian melepaskan ciumannya dan menatap Tania, begitu pun Tania, ia menatap sang suami. Lalu tak lama, mereka sama sama tertawa karena menertawakan suara perut Julian yang menganggu momen romatis mereka.


Extra part Malik sama Vania udh aku up ya, cuss ke lapak cinta suci Zalila