Uncle Julian

Uncle Julian
66



Karena masih merasakan sakit atas luka operasinya. Tania pun berjalan perlahan menuju ranjang. Ia sedikit membungkuk.


"Sepertinya ini bukan ranjang yang aku tempati saat pertama kali kesini," lirih Tania. Ia pun mengambil sendal yang tadi dilihatnya. "Ini sandal siapa?" tanya Tania sambil membolak balikan sandal di tangannya.


"Sayang in ...." Perkataan Julian terputus saat dia melihat istrinya yang sedang memegang sendal yang biasa ia pakai Tiba-tiba wajahnya pucat, ia bisa terkana masalah jika istrinya tau bahwa selama ini dia tinggal di rumah yang sama.


"Sayang ini," ucap Julian. Ia maju kearah istrinya. Ia berusaha tenang, walau nyatanya jantungnya ketar-ketir.


Tania menyilangkan tangannya, ia memandang suaminya dengan tatapan tajam.


"Daddy, apa ini punyamu?" tanya Tania. Ia sebenarnya tak berniat mencurigai Julian. Namun, dia hanya mengetes suaminya.


"Bu-bukan, mungkin itu milik Ahsam, " jawab Julian dengan gugup. Bahkan wajahnya bertambah pucat.


"Mana ponselmu?" tanya Tania.


Gleg, Julian menelan ludah, dia lupa menghapus aplikasi penghubung yang menghubungkan cctv ke ponselnya


"Se-sepertinya, ponselku kehabisan baterai."


"Oya! kalau begitu kemarikan biar aku cas!" Tania menggoyang-goyangkan telapak tangannya pertanda tak sabar untuk menerima ponsel di tangannya.


Julian dengan gemetar merogoh saku untuk mengambil ponselnya. Di dalam ponselnya, Julian banyak menyimpan foto Tania yang sedang tertidur.


Setelah menerima ponsel dari Julian. Tania pun menekan tombol on, ternyata batre ponsel Julian masih terisi penuh. Ia kembali duduk di sofa tanpa melirik lagi ke arah suaminya yang sedang gemetaran, karena menyangka perang dunia akan kembali di mulai.


"Daddy, apa selama aku disini, kau juga disini?" tanya Tania.


Julian tak bisa mengelak. Tania sudah mengetahui semuanya.


Julian pun dengan lesu berjalan ke arah sofa. Dia pun duduk di sisi istrinya, sedangakan Tania memandang Julian dengan pandangan yang Julian tak mengerti.


Julian menarik satu tangan Tania dan menggenggamnya. "Sayang ak ...."


"Huaa!" tiba-tiba Tania menangis keras, Julian yang panik langsung membekap mulut istrinya, ia takut keluarga istrinya akan salah paham lagi padanya.


"Emm ... emm." Tania berusaha melepaskan tangan suaminya yang sedang membekapnya.


"Aku minta maaf, oke. aku akan melepaskannya asal jangan menangis lagi. Jika mamih dan papih mendengar tangisanmu, mereka akan mengira aku menyakitimu lagi," ucap Julian. Ia masih membekap mulut Tania.


Tania yang masih terisak pun mengangguk.


Dengan perlahan, Julian melepaskan bekapanya dari mulut Tania, baru saja ia akan bangkit dari duduknya untuk berlutut meminta maaf pada istrinya. Namun, tiba-tiba Tania menghambur memeluk dirinya.


"Kau jahat ... Kau jahat. Seharusnya kau memberitauku jika kau disini. Apa kau tau setelah aku bisa menerima semuanya, aku selalu merindukanmu setiap malam, aku selalu berharap kau datang lebih cepat. Ketika aku bermimpi kau menciumku, aku selalu sedih saat terbangun karena aku merasa itu nyata, tapi faktanya kau tak ada disini. Harusnya kau bilang padaku, jika kau datang menjemputku lebih awal." Tania menangis tersedu-sedu saat menceritakan keluh kesahnya, ia sama sekali tak marah pada suaminya. Dulu, Tania berpikir bahwa suaminya telah menemukan pengganti dirinya karena Julian tak kunjung menemui dan menjemputnya. Tapi, ternyata suaminya ada di dekatnya dan selalu menjaganya.


Julian tersenyum, ia lebih mengeratkan pelukannya.


Julian ....