Uncle Julian

Uncle Julian
62



"Darling, kau lapar?" tanya Tania saat mendengar suara perut sang suami.


"Sedikit," jawab Julian berbohong. Padahal dia sangat lapar. Tapi, dia tak tak tega untuk meninggalkan istrinya sendiri di ruangan.


Julian pun kembali duduk di kursi, Ia kembali menggenggam tangan sang istri dan kembali mengecupnya punggung tangan istrinya bertubi-tubi.


"Darling, makanlah! aku tak apa-apa di sini sendiri," ucap Tania.


Tanpa mendengar ucapan Tania, Julian merapikkan rambut Tania yang menutupi pipi.


"Apa ini terasa sakit?" tanya Julian sambil mengelus perut sang istri.


"Ini sakit sekali," keluh Tania. Dari sorot mata suaminya ia bisa melihat bahwa suaminya menyimpan penyesalan yang amat dalam.


Mendengar jawaban Tania, Julian kembali mengelus rambut istrinya. "Kau wanita hebat, Sayang. Kau ingin hadiah apa dariku?" tanya Julian.


"Se-sebenarnya ak ..."


"Ingin menetap di sini?" tebak Julian. Ia memotong ucapan sang istri.


"Dari mana kau tau?" tanya Tania dengan kaget.


"Kau terlihat bahagia sekali tinggal di sini. Jika boleh aku tau, kenapa kau sangat menyukai hal-hal yang berbau Turki?"


Tania tampak berpikir. "Entahlah, aku hanya menyukainya. Bukan aku tak menyukai negara asalku, Indonesia. Indonesia pun sama indahnya. Tapi aku tak tau, kenapa aku bisa nyaman di sini."


"Baiklah, kita akan menetap di sini."


"Lalu bagaimana pekerjaanmu?" tanya Tania dengan kaget.


"Aku bisa mengerjakannya secara jarak jauh. Atau aku bisa melebarkan bisnis ku disini."


Tania menggenggam tangan sang suami.


"Ayo kita kembali ke Swiss, aku tak ingin kau mengabaikan tugasmu. Aku tak ingin egois. Kau punya tanggung jawab yang sangat besar di sana," jawab Tania. Ia kembali berubah pikiran. Ia sadar, suaminya adalah seorang pemimpin perusahaan dimana puluhan ribu karyawan bergantung padanya.


Julian di buat kagum dengan pemikiran sang istri, padahal Julian akan mengabulkan keinginan Tania.


"Baiklah, setelah kau pulih, kita akan kembali terbang ke Swiss. Sebagai gantinya, kita bisa kembali kesini kapan pun kau mau."


Tania pun mengangguk.


"Tapi aku tak ingin tinggal di penthouse itu lagi," ucap Tania. Di tempat itu terlalu banyak kenangan menyakitkan untuknya.


"Aku mengerti. Aku akan menyiapkan semuanya."


"Sayang, kau harus istirhat. Ini sudah malam," ucap Julian.


Sedari tadi, Julian mengajak Tania mengobrol karena ingin mengalihakan rasa sakit yang istrinya rasakan pasca operasi sesar. Namun, sekarang dia melihat istrinya sudah menguap.


"Darling, Kiss me!" pinta Tania lagi. Dengan senang hati Julian pun mengikuti keinginan sang istri. Ia mencium semua bagian wajah sang istri tanpa ada yang terlewat.


Setelah itu, ia mengelus rambut Tania hingga Tania tertidur.


Setelah Tania terlelap, Julian pun perlahan bangkit. Ia melangkahkan kakinya keluar untuk membeli roti. Julian tidak menyukai makanan khas turki, ia berniat membeli roti di supermarket yang berada di depan rumah sakit.


Saat dia akan berbelok, Raffael muncul dari arah yang sebaliknya hingga mereka hampir bertabrakan.


"Ini, dari mertuamu." Raffael menyodorkan paperbag yang berisi box makanan.


Setelah mereka makan malam dan saat pulang ke rumah. Keinya ingat bahwa menantunya belum makan. Ia pun turun tangan langsung ke dapur untuk memasak karena Art di rumah itu sudah istirahat di kamarnya. Setelah selesai, ia menyuruh sang adik untuk kembali lagi ke rumah sakit.


"Ini benar masakan Keinya?" tanya Julian. Saat ini, mereka sedang berada di kantin rumah sakit. Raffael memesan kopi sambil menemani Julian menyantap makan malamnya. Julian bertanya dengan ekpresi tak percaya, pasalnya Keinya masih bersikap datar padanya.


"Kau beruntung dia tak memusuhimu dengan waktu yang lama. Sedangkan padaku, dia memusuhi hampir selama 4 tahun," ucap Raffael. Ia mulai bergibah membicarakan kaka sekaligus mertuanya.


Julian tersenyum, Ia tau watak Keinya. Keinya hanya gengsi untuk bersikap seperti biasa padanya.


"Dia memang aneh," jawab Julian


"Kalian bergosip tentang mertua kalian, jika mertua kalian mendengar, kalian pasti akan langsung di pecat menjadi menantu," sahut Aska yang tiba-tiba datang dari arah belakang


Raffael ....