Uncle Julian

Uncle Julian
55



Julian dengan cepat melajukan mobilnya menuju restoran yang ditunjuk untuk istrinya. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampannya.


Julian menghela napas kesal karena ternyata restoran yang diinginkan istrinya penuh. Sedangkan dia sudah tak sabar untuk membawa pulang pesanan istrinya dan makan bersama.


Julian menelpon seseorang yang tak lain adalah manager restoran tersebut. Mungkin jika sedang dalam kondisi darurat Julian akan rela mengantri. Tapi, untuk kali ini dia harus memakai cara curang dengan menelpon manager restoran agar langsung menyuruh koki membuatkan pesanannya tanpa mengantri. Julian tamu VIP di restoran tersebut. sehingga dia tak sulit untuk meminta tolong agar pesanannya segera di proses.


Setelah pesanannya selesai, Julian menenteng paperbag dengan tersenyum. Dia membayangkan betapa menyenangkannya bisa melihat Tania makan.


Julian kembali memacu mobilnya dengan cepat agar segera sampai di penthouse.


Saat sampai di penthousenya. Julian langsung pergi kedapur untuk memindahkan makanan ke piring.


"Sayang!" panggil Julian sambil mengetuk pintu kamar.


"Sayang!" panggil Julian lagi karena Tania tak menyaut. Dia mengetuk pintu kamar dengan keras.


Karena masih tak ada jawaban walaupun dia sudah mengetuk dengan keras, Julian pun memutuskan masuk kedalam kamar.


"Sayang!"panggil Julian saat masuk kedalam kamar. Dia mengernyit heran Tania tak ada dikamar. Julian pikir, Tania sedang berada di kamar mandi. Julian pun maju berniat menaruh piring diatas nakas.


Dia kembali merasa bingung saat melihat ada kertas diatas nakas.


...Julian mengambil kertas dan menaruh piring yang sedang dipegangnya. Lalu dia duduk diranjang dan melihat tulisan dikertas tersebut....


...Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi dari penthousemu....


Aku tau keputusanku untuk pergi tanpa pamit padamu adalah suatu kesalahan dan dosa besar. Tapi, aku sungguh belum sanggup melihatmu. Setiap melihatmu, aku selalu teringat saat balok kayu itu melayang ketubuhku sampai aku kehilangan satu janinku. Setiap melihatmu, mengingatkanku pada saat kau menghinaku dan menghina calon anakku. Aku tau ini memang bukan salahmu. Tapi, karena kaulah semuanya terjadi. Dan kini, aku terluka. Biarkan aku pergi untuk melepaskan segala emosiku, meredamkan gejolak sesal yang berkecamuk dalam dada. Jangan mencariku karena itu akan percuma. Jika kau memang mencintaiku hiduplah dengan baik, jika kita memang masih berjodoh, dimanapun aku berada cintamu yang akan menuntunmu padaku.


Tubuh Julian merosot kebawah. Dia meraung memanggil-manggil nama Tania.


"Kenapa kau tak percaya bahwa aku akan menebus kesalahanku!" Julian berteriak histeris.


"Tidak aku tidak boleh kehilangannya lagi, dia pasti masih berada di sekitar sini," ucapnya lagi saat sadar bahwa bukan waktu yang tepat dia menangis. Dia harus menemukan Tania sebelum Tania pergi jauh.


Julian berlari keluar kamar dan menyambar kunci mobil. Saat memacu mobil dalam keadaan cepat, dia menelpon sekretarisnya untuk membantu mencari keberadaa Tania. Dia bahkan hampir menabrak kendaraan lain karena fokus berbicara di telpon. Bruntung nasib baik masih berpihak padanya hingga dia masih bisa selamat.


Julian memacu mobilnya menuju bandara, Julian yakin Tania akan pergi ke luar negri. Setidaknya jika firasat Julian benar Tania masih berada di Bandara.


Saat Julian tiba di bandara. Ia langsung berlari kesana kemari mencari Tania. Saat tak menemukan Tania di Bandara. Julianpun bertanya kebagian informasi.


Julian kembali berlari kearah mobilnya. Ia menelpon anak buahnya dan mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Tania di seluruh penjuru kota Swiss. Firasat Julian mengatakan bahwa Tania masih berada disekitarnya.


Julian kembali memacu mobilnya, dia merncari kesemua hotel berharap Tania ada di salah satu hotel yang dia datangi. Setelah 3 jam mencari kesama kemari. Julian terpikir Diana. Ya, selama di Swiss hanya apartemen Diana yang selalu Tania datangi jika Julian sedang bekerja.


Julian pun kembali menjalankan mobilnya menuju apartemen Diana, besar harapannya melihat Tania disana.


Julian kembali berlari dari basment ke unit apartemen Diana.


"Julian ada apa?" tanya Diana saat kaka kembarnya masuk dengan tergesa-gesa.


"Tania ada disinikan?" tanya Julian sambil melihat kesana kemari.


Diana yang sedang duduk di sofa bersama Alisia pun tertawa.


"Kenapa dia harus kemari."


"Diana! dia pergi meninggalkanku. Jadi jika kau tau beritau dia ada dimana?"


"Entahlah, mana mungkin dia bercerita tentang kepergiannya. Apa menurutmu masuk akal ketika ada orang yang akan pergi lalu memberi tau kemana tujuaannya."


"Diana, kenapa kau santai sekali?" tanya Julian lagi.


"Lalu aku harus bagaimana? aku sudah bilangkan padamu. Kau harus menerima semua karma atas perbuatanmu."


Julian berdecih, dia sadar tak ada gunanya berdebat dengan Diana. Julian pun lebih memilih pergi untuk kembali mencari Tania.


"Unnie, apa kita tak terlalu kejam padanya?" tanya Alisia saat Julian sudah pergi.


Diana menggeleng.


"Julian sudah sangat keterlaluan. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya dalam posisi Tania pada saat itu. Setidaknya dengan mendukung keputusan Tania, kita bisa turut andil dalam menyembuhkan lukanya dan biarkan Julian tau bagaimana rasanya kehilangan."


"Kenapa tiba-tiba aku merasa malu ya mempunyai saudara seperti oppa Jul," celetuk Alisia.


"Aku juga sangat malu," timpal Diana. Mereka pun tertawa terbahak-bahak.


Sementara Tania ....