Uncle Julian

Uncle Julian
36



Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah Tania dan Julian. Julian denhgan setia menggenggam tangan Tania saat akan keluar dari gedung.


"Darling!" panggil Tania saat mereka sudah berada dalam mobil.


"Ya, Sayang," jawab Julian. Dia berbalik memandang calon istrinya.


"Terimakasih atas semuanya," kata Tania sambil tersenyum manins menampilkan lesung pipi.


Julian menangkup kedua pipi Tania. Julian mendekatkan wajahnya ke wajah Tania.


Dengan singkat Julian mengecup bibir ranum calon istrinya.


Mata mereka saling mengunci. Terlihat jelas pancaran cinta di mata keduanya.


"I Love you," ucap keduanya secara berbarengan. Lalu mereka pun sama-sama tertawa. Setelah itu, Julian pun memajukan mobilnya untuk pulang ke mansion Aysel.


Vania yang duduk didekat suami dan papinya, meneliti anggota keluarganya satu persatu.


"Sepertinya di keluarga ini hanya aku yang normal," celetuk Vania. Setelah mengatakan hal tersebut, Vania menutup mulutnya karena tak menyangka akan berkata demikian padahal dia hanya berniat mengucapkannya dalam hati.


Seketika semua yang berada dimeja makan melihat kearah Vania.


"Vania apa maksudmu?" tanya Keinya sambil menatap tajam putrinya. Sebenarnya Keinya mengerti apa yang diucapkan Vania karena dulu Vania sering mengejek Tania dengan kata-kata yang sama.


"Hanya akulah yang normal di keluarga ini jika sampai kau menikah dengan uncle Julian. Karena semua menikah dengan om-om kecuali aku." Itulah ledekan Vania pada Tania dulu dan naasnya Keinya pun sering mendengar ledekan Vania.


"Tidak, Mamih. Aku tidak bermaksud apa-apa," jawab Vania. Ia langsung mengambil minum untuk menetralkan ketakutannya karena tengah dipandang oleh Keinya.


"Ayo kita lanjutkan makan!" titah Bram. Dan mereka semua pun memulai makan malam dengan hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan juga garpuh.


"Jul, bolehkan uncle berbicara 4 mata dengan mu?" tanya Bram setelah menyelesaikan makan malam mereka.


Julian pun mengangguk.


"Papih, takan berubah pikiran, kan?" tanya Tania dengan kaget. Ia hanya takut Bram akan merubah keputusannya untuk merestui hubungannya dengan Julian.


Bram hanya menggelang dengan tingkah putri bungsunya. Tanpa menjawab pertanyaanTania, Bram pun pergi meninggalkan meja makan. Tania terlalu mirip dengan Keinya hingga Bram sudah tau bagaimana menghadapi Tania.


"Aku akan berbicara dengan papih mu sebentar," ucap Julian pada Tania. "Permisi semua," pamit Julian pada orang yang sedang ada dimeja makan.


"Diam kau!" sentak Tania yang duduk disebrang Vania.


Baru saja Vania akan membalas Tania. Dengan cepat Malik menyadarkan Vania agar tak berdebat dengan Tania.


"Malik, bawa Vania untuk istirahat!" titah Keinya pada Malik.


"Baik, Mih," jawab Malik sambil mengulurkan tangannya pada Vania.


"Dan kau Tania, ikut Mamih! mamih ingin berbicara dengan mu."


"Kei, biarkan putrimu beristirahat. Dan kau pun harus beristirahat, bukankah kau besok pagi harus menjemput Lila dan Raffael ke bandara," ucap Aysel yang menyela pembicaraan Keinya dan Tania.


"Ya, Mommy."


Jika sudah Aysel yang berbicara, Keinya pun hanya menurut.


"Tania, masuk kamar dan istrihatlah. Kau kurang istrihat beberapa hari ini!" titah Aysel.


"Tapi, Moma ...."


"Kau bisa bertemu Julian besok. Sekarang pergilah ke kamarmu."


"Yank, balikin hape mas dong," ucap Aska setelah Tania pergi kekamarnya. Dan kini dimeja makan hanya tinggal Aska dan Aysel.


"Kamu, kan, pegang hape yang satunya lagi mas."


"Tapi, Yank ...."


"Mas malu ah, kamu udah tua terus aja tiktokan. Ga inget kamu udah punya banyak cucu," jawab Aysel. Rupanya Aysel menyita hape Aska karena Aska sering bermain tik-tok dan menurut Aysel itu sungguh memalukan karena usia Aska sudah terbilang tua untuk bermain tiktok.


Sementara Julian dan Bram.


Istri diatas kertas udah up bab terbaru ya. Cus kesana. Insyallah up rutin dan bareng sama up Uncle Julian.


Cus kesana udah 15 bab lho