Uncle Julian

Uncle Julian
39



Setelah selesai proses ijab qobul. Mereka pun menyambut para kerabat Bram dam Aska yang hadir di pernikahan mereka. Tak banyak yang ikut dari Spanyol. Hanya Joenathan, Diana dan beberapansaudara Julian yang berasal dari Korea.


"Kau cantik sekali, Tania," ucap Joenathan setelah Tania dan Julian menyambut para tamu.


Dengan gagah, Julian terus menggandeng tangan Tania saat menyapa para tamu.


"Aku, kan, memang selalu tampil cantik, Grandad" jawab Tania sambil terkekeh.


Joenathan mengelus rambut Tania. "Sekarang, jangan panggil lagi Grandad, karena sekarang kau adik iparku," ucap Joenathan lagi.


Tania hanya tersenyum mendengar ucapan Joenathan.


"Kalian, lanjutkanlah. Kaka akan menemui Keinya dan Bram," ucap Joenathan. "Dan kau, Jul! ingat pesan kakak kemarin," ucap Joenatan lagi sambil menepuk pundak Julian. Julian pun hanya menganguk mantap mendengar ucapan Joenathan.


"Memangnya apa yang dikatakan oleh grandad?" tanya Tania.


Julian mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Ia pun berbisik di telinga Tania.


"Dia hanya ingin segera mempunyai keponakan dari kita," ucap Julian. Tak lupa, dia mencuri ciuman di pipi istrinya sebelum kembali ke posisi semula.


"Darling, ini tempat umum. Kau membuatku malu," keluh Tania sambil mencubit kecil tangan suaminya. Tapi terlihat jelas pipi Tania merah merona.


"Jika kau malu, ayo kita lanjutkan di kamarmu," Julian pun kembali berbisik di telinga Tania.


Mendengar ucapan Julian, tubuh Tania menegang. Tentu saja dia tau maksud dari ucapan suaminya.


"Sayang, jangan pernah berpikir untuk menundanya. Karena aku tak akan membiarkanmu kabur malam ini," lagi-lagi Julian berbisik di telinga Tania, dan itu sukses membuat bulu kuduk Tania meremang.


"A-apakah kau yakin kau sudah sembuh. Jika belum, lebih baik kita menundanya dulu. Jika di paksakan kau akan kesakitan nanti," jawab Tania sambil terbata-bata. Dia benar-benar belum siap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Rasa gugup menderanya walaupun dia hanya sekedar


berhayal.


"Darling, kau istirahtalah duluan, aku akan membersihkan diriku dulu di kamar mandi," ucap Tania. Terlihat jelas kilatan gugup masih tak bisa hilang dari dirinya.


Julian menghentikan sejenak kegiatannya yang sedang membuka jasnya. Dia menghampiri Tania yang sedang berdiri di dekat ranjang.


Julian pun menarik tangannya Tania dengan lembut untuk duduk menyamping di pangkuannya. Dengan mesra, Julian menggenggam tangan Tania dan mengecupnya.


"Sayang, kau masih gugup?"


Tania pun menangguk ragu.


Julian tersenyum lembut dan menatap Tania penuh cinta. Dia pun mengecup bibir Tania dengan singkat membuat pipi Tania kembali merah merona.


"Tadi aku hanya bercanda. Maafkan aku, aku tau kau gugup. Aku akan menunggu sampai kau siap," tutur Julian sambil membelai rambut istrinya.


Mendengar ucapan suaminya yang begitu tulus membuat hati Tania tersentuh. Dia pun memberanikan diri untuk mengelus pipi Julian dan menghadiahi kecupan di bibir suaminya.


"Ayo kita lakukan sekarang. Aku akan semakin gugup jika menundanya."


Julian menggeleng pelan. "Sayang, jangan paksakan dirimu. Aku ingin, kita sama-sama menikmatinya."


Tania tersenyum, dia mendekatkan wajahnya dan mengecup kembali bibir suaminya. Kali ini Tania memberanikan diri memperdalam ciumannya. Tentu saja Julian pun dengan senang hati meladeni tingkah istri kecilnya. Bahkan senjata Julian sudah menegang dbawah sana. Setelah mereka selesai berciuman, Julian pun memangku Tania ala bridal style dan membaringkannya di ranjang. Lalu dengan perlahan Julian pun menindih tubuh Tania.


"Da-darling, aku harus membersihkan diriku terlebih dulu."


"Kita akan membersihkan diri bersama setelah kita menyelesaikan ini," jawab Julian yang sudah dipenuhi kabut gairah.


Dan...................... SENSOR. ...... hhahahahahahahahahahahahhaahha.