
Setelah menempuh perjalanan jauh. Akhirnya mereka pun sampai di Istabul Turki.
Ia menghirup dalam-dalam udara Turki. Bagi Tania, negara Turki adalah negara terindah yang pernah di datangi.
Saat sampai di bandara, Tania, Ahsam dan Sarah di jemput oleh seorag supir yang di pekerjakan Joenathan. Joenathan benar-benar menyiapkan yang terbaik bagi adik iparnya. Beruntung Tania mengerti bahasa Turki, hingga tak akan ada hal sulit saat dia tinggal di Turki untuk beberapa waktu kedepan.
Setelah melewati perjalanan sekitar dua jam. Akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah bergaya klasik modern yang telah di siapkan oleh Joenathan.
Tania pun mendahului masuk kedalam rumah, sedangkan Ahsam dan Sarah masih berada diluar.
"Selamat datang, Nona," sapa seorang pelayan. Ia menyambut Tania di pintu masuk.
"Ibu dari Indonesia?" tanya Tania. Ia menyangka Artnya berasal dari Turki sama seperti supir yang tadi menjemputnya.
"Saya ditugaskan tuan Bram untuk melayani anda, Nona. Apa anda ingin makan sesuatu Nona. Saya akan menyiapkannya."
"Buatkan saya sop ayam, Bi."
"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi."
Tania pun mengangguk. Setelah pelayan berlalu. Tania pun kembali melangkahkan kakinya untuk masuk lebih dalam.
Ia berkeliling, melihat-lihat isi rumah. Matanya berbinar takjub saat melihat taman belakang, bunga-bunga cantik nan indah terjejer rapih membuat Tania semakin takjub. Kaka iparnya benar-benar memanjakan matanya.
Ia pun duduk di ayunan yang menghadap kearah bunga-bunga. Setelah duduk, dia mengeluarkan kertas Usg dari saku dresnya.
Tiba-tiba, prasaan takjub yang tadi ia rasakan berubah menjadi prasaan sedih, kala dia melihat kertas usg kedua anaknya.
Matanya mengembun. Lukanya kembali menganga. Ingin dia membuang kertas Usg yang berada di tangannya agar tak terus teringat dengan calon anaknya yang telah gugur. Tapi, Tania tak bisa, kertas Usg itu yang merasa bahwa dia masih bersama kedua anaknya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja disana?" ucap Tania. Matanya melihat keatas, seolah dia tengah berbicara dengan anaknya yang telah gugur.
Sesak menyeruak kedalam dada, ia mengelus perutnya sebagai penghibur.
Sesudah diam di taman belakang dengan waktu yang cukup lama. Tania pun bangkit dari duduknya dan kembali ke dalam. Ia berjalan kelantai atas untuk memilih kamar yang nyaman untuk dia tempati.
Waktu berjalan begitu cepat, hari ini tepat 4 bulan Tania tinggal di Turki. Selama 4 bulan ini, banyak yang Tania lakukan, ia pergi berkonsultasi dengan psikiater, mengikuti kelas melukis dan juga mengikuti kelas memasak. Sedikit demi sedikit Tania sudah bisa mengiklashkan apa yang sudah terjadi.
Terkadang, ia sangat merindukan suaminya. Jika ia rindu pada Julian. Ia akan mengingat kenangan mereka saat berpacaran.
Waktu menunjukan pukul 01.25
Tania tersenyum dalam tidurnya. Ia bermimpi, Julian datang dan duduk disebelahnya sambil mengelus rambutnya dengan penuh cinta dan mengecup keningnya.
Tania terbangun saat mimpinya usai. Ia langsung celingak-celinguk melihat sekitar kamarnya. Ia merasa mimpinya seperti nyata.
"Ternyata hanya mimpi," guman Tania dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Ia pun bangkit dari berbaringnya dan duduk menyenderkan punggungnya di ranjang. Tania memegang keningnya, ia memegang keningnya. Tania masih merasa bahwa Julian benar-benar mengecupnya dalam nyata bukan dalam mimpi. Tapi, dia harus menerima kenyataan bahwa tadi ia hanya bermimpi. Seketika rindu pada suaminya menjalar dalam dada, tak bisa di bohongi, rasa rindu itu kelak hadir mengisi harinya.
Tania tak pernah menyesal pergi meninggalkan Julian utuk menenangkan diri. Karena dengan ia pergi, ia telah sedikit mengiklashkan semuanya. .
Tania memutuskan untuk pergi kekamar mandi untuk mensucikan diri dan melakukan sholat malam, tepat setelah pintu kamar mandi tertutup, seseorang keluar dari kolonh ranjang . Ia pergi mengendap-ngendap untuk keluar dari kamar Tania.
2 bulan kemudian.
Hari ini semua sudah berkumpul di Turki, mereka semua sedang berada di rumah sakit. Ini detik-detik menengangkan bagi Tania, hari ini Tania akan melahirkan lewat operasi sesar. Tania harus rela tak melahirkan normal karena alasan medis.
"Tania, kau gugup?" tanya Bram. Ia duduk dikursi yang berada di dekat brankar Tania.
Tania menggeleng, "Aku tidak gugup Papih," jawab Tania berbohong. Dia berkata tidak gugup tapi ia menggengam tangan Bram begitu erat.
"Papih, Mamih mana?" tanya Tania berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Mamih sedang di mengurus sesuatu. Sedangkan yang lain sedang makan siang," jawab Bram.
"Kau tidak keberatan, kan, jika papih tinggal sendiri. Papih ingin makan sebelum menemanimu di ruang operasi."
Tania pun mengangguk ia mengijinkan papihnya untuk makan siang.
Setelah Bram keluar, tiba-tiba, tangis Tania pecah. Rasa gugup dan takut dari tadi menderanya. Saat di hadapan papihnya ia pura-pura tegar.
"Darling, seandainya kau disini," lirih Tania. Ia menahan sesak di dada, kala ia mengingat melahirkan tanpa di damping oleh suami dan ia harus rela anaknya tak di adzani oleh ayahnya. Tangis Tania semakin deras kala ia mengingat saat dulu awal hamil, Julian dengan semangat mengapalkan Adzan agar kelak ia bisa fasih mengadzankan kedua anaknya. Namun sekarang harapan tinggal harapan, nyatanya ia harus melewatinya seorang diri.
Belakangan ini, pikirannya berkecamuk, ia merasa hancur, ternyata Julian tak berusaha mencarinya. Padahal selama beberapa waktu terakhir ini ia merasa sangat dekat dengan suaminya. Tapi, lagi-lagi ia harus menelan pil pahit karena itu hanya perasaanya. Karena nyatanya sampai saat ini, Julian sama sekali tak menampakan batang hidupnya. Tania sudah pasrah jika dirinya harus menjadi janda.
•••••
"Sus, bolehkah saya memakai kursi roda untuk ke ruang operasi?" tanya Tania saat dia akan di pindahkan keruangnl operasi. Tania terlalu gugup jika memakai brankar.
Suster itu melihat kearah rekannya dan langsung di angguki, pertanda menyutujui keinginan Tania.
"Biar saya yang mendorongnya," ucap Bram saat Tania sudah berada di kursi roda.
Bram pun mulai mendorong kursi roda, sedangkan Tania menunduk karena ia berusaha menahan tangis karena merasakan takut yang luar biasa.
Saat keluar dari ruangan. Tiba-tiba Bram berhenti mendorong kursi roda Tania. Tania yang sedang menunduk langsung menoleh kearah belakang.
Bram menunjuk kedepan dengan dagunya. Tania pun kembali berbalik mengikuti arah pandangan papihnya.
Matanya menyipit saat melihat seorang lelaki yang sedang berjalan kearahnya dengan memakai masker.
Jantung Tania berdegup kencang saat lelaki itu semakin berjalan mendekat kearahnya.
Dan sekarang. Lekaki itu lansung berjongkok di hadapan Tania. Tak lama, lelaki itu membuka masker.
Seketika tangis Tania luruh saat ia tau bahwa lelaki yang sedang berjongkok di depannya adalah suaminya.
"Aku tidak terlambat, kan?" ucap Julian. Ia tersenyum tapi matanya berkaca-kaca. satu tangannya tergerak mengusap air mata istrinya.
Tania menggeleng lemah. Ia tak menyangka bahwa detik-detik saat harapannya sirna suaminya tiba dan memberi harapan baru untuknya.
"Apa aku sudah di maafkan?" tanya Julian lagi sambil tersenyum.
Tania pun mengangguk tanpa suara. Tatapan mereka saling terkunci. Terlihat jelas tatapan rindu dari keduanya.
Julian mengeluarkan cin-cin dari sakunya. Cin-cin itu cincin yang pernah Tania lemparkan padanya sebelum tragedi itu terjadi.
Dia memasangkan kembali cin-cin itu dijari manis Tania.
"Aku takan pernah bersikap bodoh lagi dan akan ku pastikan kau takan melepaskan cin-cin ini karena kebodohanku untuk yang kedua kali," ucap Julian setelah memakaikan cin-cin pada istrinya
"Darling!" lirih Tania
Mendengar Tania sudah memanggilnya dengan sebutan yang seperti biasanya. Julian langsung memeluk tubuh istrinya, Tania pun membalas pelukan sang suami. Bahkan, Tania memeluk Julian begitu erat.
Tangis yang sedari tadi Julian tahan akhirnya pecah saat memeluk sang istri, pada akhirnya, mereka berhasil melewati cobaan dengan cara mereka sendiri.
Julian pun melepaskan pelukannya, dia menempelkan keningnya pada kening istrinya. Kali ini, Tania yang mengusap air mata Julian.
"I love you," lirih Tania.
"I love you to." Julian mengecup sekilas bibir sang istri. Lalu ia bangkit dari berlutunya dan mengambil alih posisi Bram. Hingga ia yang mendorong kursi roda Tania.
Cinta takan salah memilih jalan, kecuali jalannya buntu atau jalan sedang di cor 🤣🤣
Maafken ya baru up, mau up jam 12 malem, eh si bayi ngajak begadang dan dia baru tidur jam 4 tadi dan mamak langsung deh kebut tulis ☺☺
Ini aku ngetik udh panjang banget lho. Yang bilang up nya dikit ga punya perasaan dan minta di sentil ginjalnya 🤣🤣🤣. Jadi jarinya tolong digunain buat komen isi ceritanya aja ya Bun. biar author tetep semangat. Aku berjuang banget malam ini karena harus ngetik, ngantuk dan nemenin ci debay begadang wkwwkwk. maafken emak otor yang baperan ya gengs