
Senyum sinis wanita parubaya itu tidak luntur sama sekali. Dia bahagia akan menghancurkan orang-orang yang secara tidak langsung membunuh putri tirinya.
Ya, wanita parubaya itu adalah Maria, ibu tiri Clara. Awalnya, dia memang menerima dengan apa yang terjadi pada putri tirinya. Namun, tak disangka bukan hanya putri tirinya yang hancur. Keluarganya pun hancur.
Setelah terbongkarnya kejahatan Clara. Fabian amatlah terpukul, dia tak menyangka bahwa putrinya adalah seorang monster.
Kesehatan Fabian semakin hari semakin menurun. Dan setelah dua minggu Clara ditahan, Fabian pun menghembuskan napas terakhirnya.
Tentu saja itu menjadi pukulan telak bagi Maria. Sedangkan Clara. Setelah dipenjara, dia terus mengamuk. Bahkan tak segan-segan menyerang rekan satu selnya.
Karena penjaga lelah menghadapi tingkah Clara. Akhirnya Clara pun dipindahkan ke sel khusus. Tak sampai disitu, Clara kembali mengamuk saat sudah ditempatkan disel khusus.
Saat mendengar Fabia meninggal, Clara berubah menjadi pendiam. Dia tak pernah lagi berteriak, akhirnya polisi pun mengembalikan lagi Clara ke sel biasa.
Selama satu minggu di sel biasa, Clara tetap menjadi pendiam. Dia terlalu terpukul saat mengetahui Fabian tengah pergi untuk selamanya. Hanya Fabian satu-satunya harapan Clara untuk bebas dari penjara. Namun, kini harapan itu tengah sirna.
Dan saat polisi mengatakan bahwa asa Maria yang ingin menjenguk Clara. Muka Clara pun terlihat sumringah. Dia pun mengikuti langkah polisi tersebut untuk keruang khusus.
Jiwa psycopat Clara muncul saat melihat pistol yang berada di pinggang sang polisi. Clara sengaja menabrakan dirinya ke punggung sang polisi hingga dia tersungkur bersama polisi tersebut. Saat akan bangkit, Clara dengan cepat mengambil pistol dari pinggang polisi tersebut sebelum polisi tersebut menyadarinya.
"Clara, Sayang. Bagaimana kabarmu?" tanya Maria saat sudah berhadapan dengan Clara.
Clara menggenggam tangan Maria.
"Mommy, terimakasih selama ini sudah menyayangiku dan menganggapku sebagai anak kandungmu. Bolehkan aku meminta sesuatu ... anggap saja ini permintaan terakhirku!" pinta Clara penuh harap.
Kening Maria mengkerut bingung saat Clara menyebutkan permintaan terakhir. Namun, Maria tak ingin ambil pusing.
"Katakan apa yang bisa Mommy lakukan untukmu?" tanya Maria.
"Mommy, balaskan dendamku pada Julian dan Tania. Buat mereka menderita. Mereka harus membayar dua nyawa yang sudah hilang."
"Apa maksudmu dua nyawa, Clara?"
"Berjanjilah Mommy, hancurkan mereka. Jangan biarkan mereka bahagia."
"Baikalah, Mommy berjanji."
"Terimakasih, Mommy. Aku menyayangimu." Clara pun melepaskan genggaman tangannya pada Maria.
"Selamat tinggal, Mommy."
Belum sempat Maria menjawab ucapan Clara, Clara sudah terlebih dulu mengambil pistol yang dari tadi digenggam di tangan sebelahnya dia menodongkan pistol tersebut ke kepalanya. Lalu ... Dor ... Clara menembak kepalanya sendiri di depan Maria.
Seketika suasana menjadi riuh karena insiden Clara, Semua berusaha menyelamatkan Clara. Namun, karena peluru tersebut langsung mengenai otak, Clara pun dinyatakan langsung meninggal.
°°°
Maria menatap foto keluarganya. Dia meneteskan air mata kala teringat kematian Clara dan Fabian. Walaupun Clara hanya anak tirinya. Namun, Maria benar-benar menyayangi Clara.
"Tunggu sebentar lagi, Sayang. Mommy akan kabulkan keinginanmu yang ingin membuat mereka menderita. Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa."
°°°
Kantor Julian.
"Maaf, Tuan. Ada yang mengirim ini untuk anda," ucap sekretaris Julian saat masuk keruangan Julian. Sekretaris itu menyerahkan sebuah map dan langsung diambil oleh Julian.
"Kau boleh pergi!" ucap Julian setelah dia menerima map tersebut.
Julian pun menaruh map tersebut tanpa membacanya. Dia kembali fokus pada pekerjaanya. Namun, tak sengaja dia melirik tulisan yang berada di map tersebut. Ada tulisan pengirim di map tersebut. Map itu dikirim dari rumah sakit di Spanyol.
Karena penasaran, Julian pun membuka isi map tersebut. Lututnya mendadak lemas saat membaca kata demi kata yang terdapat di kertas tersebut.
"Ba-bagaimana mungkin ... Tidak ini pasti salah ...." Julian pun mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
Maafya segini dulu, anak-anaku lagi rewel. pas mereka lagi tidur aku nyempetin ngetik. Kalau kondisi memungkinkan mungkin akan up lagi tengah malam.