
"Julian, ini bukan jalan ke Mansion. Kau mau membawaku kemana?" tanya Diana saat Julian tiba-tiba memutar balik kemudi.
"Diana, selama ini aku terlalu bodoh. Aku bahkan tak mengingat jika di apartemen Clara pasti ada cctv. Aku yakin, saat itu aku tak melakukan apa pun. Dan cctv itu bisa menjadi bukti bahwa aku tak bersalah," jawab Julian. Sangking semangatnya, Julian memajukan mobilnya agar cepat sampai ke apartemen yang di tempati Clara dulu.
°°°
"Jadi, maksud anda, cctv satu tahun lalu sudah hangus karena ada yang meretasnya?" tanya Julian tidak percaya. Bagaimana mungkin sekelas apartemen mewah dan dengan penjagaannya yang super ketat bisa ada yang meretas. Apalagi masalah teknologi yang pasti sudah canggih dan pasti dilindungi dari serangan hacker.
"Iya, Tuan. Mungkin di apartemen ini banyak tamu rahasia yang tak ingin kehadirannya tersebar. Sedangkan kami tak bisa menghapus. Jadi, salah satu cara adalah meretas cctv di apartemen ini," ucap seseorang yang bertugas di bagian keamanan.
"Baiklah, terimakasih." Julian menghela napas kasar. Dia tak bisa memaksa untuk masuk dan memeriksa sendiri. Karena bagaimana pun walau Julian terbilang pengusaha yang cukup berpengaruh di Spanyol. Tetap saja, dia tak bisa memerintahkan seenaknya. Julian pun keluar dengan lesu. Hancur sudah harapannya agar terbebas dari pernikahan yang memuakan.
"Bagaimana? kau menemukannya?" tanya Diana saat Julian masuk kembali kembali kedalam mobil.
Julian menggeleng lemas. "Aku tak menemukan apa-apa." Julian langsung kembali menjalankan mobilnya.
Setelah mengantar Diana ke mansion. Julian langsung memajukan lagi mobilnya untuk ke Mansion orang tua Clara.
"Selamat sore, Daddy!" sapa Julian saat masuk kedalam Mansion. Julian langsung menghampiri Fabian yang sedang menikmati secangkir kopi diruang keluarga.
"Selamat sore. Julian. Duduklah! ada yang ingin Daddy bicarakan dengan mu," ucap Fabian.
Julian pun duduk dihadapan Fabian.
"Jul, Daddy sudah tua. Daddy tidak tau sampai kapan Daddy hidup. Daddy hanya minta padamu untuk menjaga Clara. Dia satu-satunya putri Daddy," ucap Fabian sambil menatap lekat-lekat Julian.
Fabian pun menganguk, dia juga merasa prihatin pada Julian. Namun, dia tak mau mengambil risiko Clara akan melukai dirinya sendiri.
"Kau sudah datang?" tanya Clara saat masuk kedalam kamar. Julian diberi tau oleh maid bahwa Clara ada dikamar atas.
"Clara, bisakah kita bicara?" Julian langsung duduk di sofa. Dia menatap datar Clara.
Clara pun menyusul Julian duduk disofa. Clara sengaja duduk disebelah Julian. Julian yang merasa risi langsung berpindah duduk di sofa tunggal.
"Clara, lepaskan aku! jika kejadian itu memang benar. Aku sudah bertanggung jawab dengan menikahi mu. Namun, kau tak mengandung benih ku. Jadi kenapa aku harus terus berada di samping mu. Kau berhak bahagia dengan lelaki yang menerima mu."
Mendengar ucapan Julian, mata Clara berkaca-kaca. Dia meremas tangannya karna bingung bagaimana menjawab ucapan Julian. Semua ucapan Julian memang benar.
Saat ini Clara sedang merangkai kata yang pas untuk menjawab ucapan Julian.
"Clara!" panggil Julian menyadarkan lamunan Clara.
Guys maaf baru up satu part. Karna hari ini ada sesi trapi. Jadi, baru sempet ngetik dan aku maksain buat up. Jadi dharap maklum ya. Insyaallah tengah malem aku up lagi.
sambil nunggu aku up tengah malem nanti, yuk baca cerita dari kak Tya. dijamin bikin baper