Uncle Julian

Uncle Julian
68



Waktu Swiss, menunjukan pukul 9 pagi. Tania menggeliat dibalik selimbut. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian ia meyibakan selimut dan turun dari ranjang.


Setelah melakukan sholat subuh berjamaah, Tania memilih berbaring lagi, tubuhnya gampang terasa lelah akhir-akhir ini. Sedangkan Julian, setelah sholat subuh, dia langsung berolahraga dan mengasuh Khalisia, putrinya.


Tania keluar dari kamar, dia mencari-cari suami dan anaknya. Tak lama terdengar suara dari arah dapur, dan Tania tau itu pasti suaminya sedang berada di dapur.


"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Julian. Ia baru saja menata makanan di piring dan menaruhnya di meja pantry.


Tania pun duduk dengan lesu di kursi pantry.


"Kemana Khalisia?" tanya Tania sembari celingak-celinguk, karena tak menemukan putrinya. Biasanya putrinya itu akan menempel pada suaminya.


"Dia di bawa Alisia," ucap Julian. "Minumlah." Julian menyodorkan gelas berisi teh yang di campur madu ke arah Tania.


Bukannya mengambil gelas di tangan suaminya. Tania malah bangkit dari duduknya dan berjalan mengitari pantry untuk menghampiri Julian. Lalu, ia memeluk suaminya dari belakang.


Julian tersenyum, ia menuntun tangan Tania agar lebih mengeratkan pelukannya.


"Kenapa kau tak bilang jika ingin di peluk, seharusnya aku yang datang memelukmu," ucap Julian sambil terkekeh. Itulah tingkah istri kecilnya, istrinya selalu manja pada dirinya setiap tak ada khalisia atau Khalisia telah tertidur. Sebab, Jika khalisia ada, Khalisia akan selalu menempel pada Julian dia tak boleh Julian di sentuh oleh siapa pun, termasuk Tania.


Bagi anak kecil itu, Julian hanya miliknya. Bahkan ia sering berseteru bersama sang Mommy kala Mommynya menggoda dirinya dengan ikut menempel pada Julian, dan alhasil Julian harus menenagkan putrinya jika Tania membuat Khalisia menangis. Julian berhasil, membuat putrinya memusatkan perhatian hanya pada dirinya.


"Daddy, peluk aku!" titah Tania. Ia melepaskan pelukannya pada suaminya. Lalu merentangkan tangannya agar Julian memeluknya. Bukannya memeluk istrinya, Julian malah mengangkat tubuh Tania dan mendudukan di meja pantry, lalu dia menempatkan tangannya di kedua sisi tubuh istrinya, dan tubuhnya menghimpit tubuh Tania yang berada di depannya.


"Bagaimana dengan berbulan madu lagi?" tanya Julian sambil merapikan rambut yang menutupi pipi istrinya dan membawanya kebelakang telinga.


Tapi, yang terjadi, Bocah kecil itu sama sekali tak melepaskan diri dari sang Daddy, bahkan saat tidur siang pun, Khalisia mengunci pintu kamar dan menyuruh Julian memejamkan matanya, lalu setelah melihat Daddynya memejamkan matanya, ia menyembunyikan kunci kamar agar Julian tak keluar dari kamar. Bocah kecil itu benar-benar tak ingin Julian memerhatikan hal lain.


Julian sama sekali tak keberatan dengan sikap sang anak yang posesif terhadapnya, walaupun terkadang dia kerepotan kala Khalisia merengek ingin ikut ke kantor. Tak di pungkiri, walau sudah lama berlalu, Julian masih merasa bersalah pada anak dan istrinya. Dan demi menebus semuanya, Julian mengucuri Istri dan anaknya berjuta-juta kasih sayang.


"Baiklah, kau tenang saja aku sudah mengatur semuanya," jawab Julian. Ia mengecup bibir sang istri sekilas.


"Daddy, kau akan menitipkan Khalisia dimana?" tanya Tania. Dia tau putrinya takan betah berada di mana pun tanpa Julian di sampingnya.


"Dia akan bersama Alisia," jawab Julian. Julian tau bahwa adik sepupunya bisa mengasuh Khalisia. Alisia, pandai membujuk, hingga bocah kecil itu pasti menurut jika di asuh oleh Alisia.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama, aku takan tenang jika meninggalkannya terlalu lama."


"Tentu." Julian mengecup lagi bibir Tania yang begitu menggoda. Baru saja dia akan menjauhkan bibirnya. Namun, gerakannya terhenti kala Tangan Tania melingkar di lehernya dan menariknya hingga Julian pun melanjutkan aktivitasnya, dia memperdalam ciumannya pada istrinya.


"Mommy!" teriak gadis kecil yang baru saja menghampiri kedua orang tuanya. Alisia sudah menutupi mata Khalisia agar tak melihat apa yang sedang di lakukan oleh orang tuanya. Tapi, bocah kecil itu terlanjur melihatnya dan kemudian berteriak.


Seketika Tania dan Julian kelabakan, Tania pun dengan segera turun dari meja pantry dan menghampiri Khalia.


"Khalisia!" panggil Tania.


"Huaaaaaaaa. Mommy mengambil daddy dariku!" Teriak bocah kecil itu sambil menangis.


Tadinya mau ngetik pas Tania ketauan hamil lagi sama gimana reaksi Julian pas tau. Tapi tubuhku lagi tumbang, di tambah anakku yang pertama juga lagi Flu jadi rewel. Jadi mohon di maklum ya akak akak 😘. otor mau lanjutin dulu istrihat. Oh ya, cinta sang pria arogan up sore atau up malem ya.