Uncle Julian

Uncle Julian
Bab 49



Mata Tania terbuka, dia mengerjapkan matanya. Matanya melihat kesana kemari, dia melihat kesamping mencari anak kecil yang tadi menggandeng tangannya.


"Papih, kenapa papih disini," lirih Tania saat medengar suara Bram. Dia berusaha bangun. Tapi, kepalanya terasa sakit, lalu Tania melihat ke arah bawah, ternyata tubuhnya di tempeli alat-alat medis.


Dia berusaha menggerakan tangannya untuk menggapai tombol bel di dekatnya. Namun, sayang dia tak bisa menggerakan tangannya.


Dan yang hanya bisa Tania lakukan adalah menunggu seseorang untuk datang keruangannya.


•••


"Dok, bolehkah saya melihat putri saya?" tanya Keinya saat dokter akan masuk keruang Tania.


"Kami akan memeriksa keadaannya terlebih dahulu. Mohon menunggu," jawab Dokter tersebut. Dokter pun masuk diikuti perawat di belakangnya.


"Nona Tania ... Nona Tania!" panggil dokter saat melihat Tania sudah membuka matanya.


"Mengediplah jika anda mengerti apa yang saya katakan," ucap di dokter tersebut.


"Apa anda ingat siapa anda?"


Tania pun mengedipkan matanya.


"Bisakah anda berbicara,"


Tania tak mengedipkan matanya pertada dia tak bisa bicara.


"Apa anda ingat dengan apa yang anda alami sebelum terbaring di sini?"


"Apa anda ingat bahwa anda sedang mengandung?"


Seketika Tania meneteskan air mata, lalu mengedipkan matanya.


"Apa anda bisa bernapas tanpa oksigen?" tanya dokter sambil melepaskan selang oksigen di hidung Tania.


Tania pun mengedipkan matanya.


"Panggil dokter kandungan kemari!" titah dokter pada perawat.


Tak lama, dokter kandungan pun datang, dokter itu memeriksa kondisi Tania dan melakukan usg pada Tania, beruntung ruangan Vip yang di tempati Tania kumplit dengan alat-alat medis, sehingga Tania tak harus pindah ruangan ketika akan melakukan usg.


"Apa disini ada suami dari Nona Tania?" tanya dokter saat keluar dari ruangan.


"Saya ayahnya, Dok," jawab Bram. Tentu saja Bram mendahului Julian bicara.


"Maaf, Tuan. untuk saat ini saya harus berbicara dengan suami nona Tania."


"Saya suaminya, Dok." Julian pun bangkit dari duduknya.


"Dokter, apa saya boleh menemui putri saya?" tanya Keinya. Dia sungguh tak sabar untuk melihat putrinya secara langsung.


"Untuk sekarang, pasien belum boleh di temui, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada nona Tania terlebih dulu."


"Apa saya boleh mengetahui kondisi putri saya, Dok," timpal Bram yang ingin memdengar kondisi Tania.


"Baiklah, mari ikut keruangan saya."


Bram dan Julian pun berjalan beriringan mengikuti dokter, Julian menunduk saat berjalan di dekat Bram, dia terlalu malu bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya.


Dan sekarang mereka tengah duduk di depan dokter untuk menjelaskan kondisi Tania.


"Seperti diganosa saya di awal, salah satu janin nona Tania tak bisa diselamatkam, sedangkan satu janin walaupun sempat dalam kondisi lemah tapi sekarang sudah stabil. Berdasarkan scan otak yang tim dokter lakukan pada nona Tania, walaupun luka kepala nona Tania cukup parah beruntung tak ada keretakan di otaknya.


Tapi saat saya bertanya pada Nona Tania tentang apa yang terjadi dia merespon bahwa dia tidak ingat apa yang menyebabkannya terluka. Dan kemungkinan itu kejadian yang membuat nona Tania terluka kejadian buruk hingga alam bawah sadar menyuruhnya melupakan kejadian tersebut."


Bram menghela napaa sejenak, dia melirih Julian yang ada di sampingnya, sedangkan Julian yang di tatap hanya bisa menunduk.


"Apa dengan kata lain putri saya kehilangan separuh ingatannya, Dok?"


"Secara medis nona Tania tak mengalami amnesia, tapi psikologis yang mememgaruhi ingatan nona Tania."


"Lalu apa yang bisa kami lakukan." Kali ini Julian yang bertanya.


Dokter ....