Uncle Julian

Uncle Julian
Bab 48



karena mendapat kabar yang mendadak, Keinya dan Bram tak bisa memakai pesawat pribadi karena pasti lebih memakan banyak waktu. beruntung jadwal penerbangan ke Swiss hanya tinggal beberapa jam lagi.


Setelah bersiap, Keinya dan Bram pun memutuskan untuk langsung pergi ke bandara.


"Mamih, Papih, kalian akan pergi kemana?" tanya Vania saat melihat kedua orang tuanya membawa koper.


"Vania, kami akan terbang ke Swiss. Suamimu mengabarkan bahwa Tania sedang kritis," ucap Bram.


"Ma-maksud papih?" tanya Vania histeris. Dia bahkan menjatuhkan ponsel yang sedang di peganngnya ke lantai.


Bram mengusap lembut rambut putrinya."Tania pasti akan baik-baik saja. Karena papih dan Mamih akan pergi, bagaimana jika kau menunggu di rumah mertuamu," jawab Bram yang juga mengkhawatirkan keadaan Vania yang sedang mengandung.


Malik sengaja tak memberi tau Vania karena takut jika Vania akan merasa stres dan berdampak pada kandungan Vania yang sudah berumur 7 bulan. Tapi sekarang Vania sudah mengetahuinya dari Bram.


"Papih, aku ingin ikut. Ijinkan aku ikut!" Vania memohon pada Bram untuk ikut. Mereka adalah saudara kembar tentu saja Vania tak akan tenang jika saudara kembarnya tengah kritis namun dia tak melihat Tania secara langsung.


"Baiklah, kau boleh ikut Vania. Tapi berjanjilah pada Mamih kau akan baik-baik saja," ucap Keinya yang menimpali percakapan Bram dan Vania. Keinya yakin, Vania bisa membangunkan Tania.


Ikatan batin mereka begitu kuat, dan Keinya berharap dengan hadirnya Vania Tania bisa segera sadar.


"Sayang ...." Bram hendak protes karena menginjikan Vania untuk pergi.


Keinya hanya mengangguk saat mendapat protesan dari Bram pertanda memang Vania harus ikut.


"Sebelum kita ke bandara, ayo ke rumah sakit untuk mendapat surat dokter," ajak Keinya. Ya, karena Vania sedang mengandung jadi Vania butuh surat ijin dari dokter untuk bepergian.


°°°


Dan setelah mereka selesai di rumah sakit, mereka pun pergi ke bandara.


Saat menunggu di bandara, Kienya yang masih penasaran akan hal yang terjadi pada putrinya, langsung menelpon Raffael dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Tania.


Setelah menelpon Raffael, tubuh Keinya terkulai lemah saat mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada Tania.


"Sayang, apa yang di katakan Raffael?" tanya Bram yang duduk di sebelah Keinya. untung saja mereka menunggu di ruang private jadi tak ada yang mendengar percakapan mereka.


Keinya pun terbata-bata saat menjelaskan semua yang di katakan Raffael.


Rahang Bram mengeras saat tau penyebab Tania kritis. Amarahnya berkobar, tapi karena dia sedang berada bersama Keinya, Bram pun mencoba menahan amarahnya. Sedangkan Vania yang duduk di kursi lain hanya bisa menangis dalam diam saat tau tentang apa yang terjadi pada pada kembarannya.


••


Dan saat sudah sampai di Swiss, Keinya pun memberi tau Diana semuanya saat mereka sudah berada di mobil dan menuju rumah sakit. Ada rasa malu di dalam diri Diana saat tau tentang Tania. Walau bagaimana pun, Julian adalah kaka kembarnya, dia malu pada Keinya dan Bram karena Kakanya melakukan kesalahan yang sangat fatal.


Saat sampai di dekat ruangan Tania, Bram tak bisa menahan emosinya saat melihat Julian, tanpa basa-basi Bram pun menghajar Julian. Setelah Bram berhenti menghajar Julian, Diana maju kedepan kaka kembarnya.


Plakkkk


Satu tamparan mendarat di pipi mulus Julian.


Raut wajah terkejut terlihat jelas di wajah Julian saat Diana memukulnya. Tiba-tiba dia teringat Joenathan yang pasti sudah tau tentang dirinya dan Tania.


"Kau membuat keluarga malu, Julian!" teriak Diana dengan keras. Dia sangat kecewa pada kelakuan Kakanya. Diana bahkan berteriak sangat kencang, dia tak ingat bahwa dia sedang berada di rumah sakit.


beruntung, Tania di rawat di ruang VIP hingga kondisi di sekitar ruangan Tania sepi.


Keinya ingin sekali menampar Julian, Namun, tubuhnya sangat lemas saat dia melihat Tania lewat kaca. Ingin dia segera masuk dan menghampiri putrinya. Namun, sayang, dokter masih tak memperbolehkan siapa pun masuk kedalam ruang rawat Tania.


••••


Tania mengerjapkan matanya saat membuka mata. Keningnya mengkerut bingung saat melihat dia sedang berada di taman. Tania semakin bingung saat dia tak mengingat apa pun.


"Mommy!" sebuah suara membuat Tania menoleh kebelakang.


Lagi-lagi, Tania dibuat bingung saat ada dua anak kembar yang berusia sekitar dua 4tahun menghampirinya sambil bergandengan tangan.


"Mommy, pulanglah! tempat mommy bukan disini," ucap salah satu si anak kembar tersebut.


Tania hanya melongo saat mendengar ucapan anak tersebut dan memanggilnya Mommy


Belum sempat Tania menjawab, salah satu anak tersebut berlari meninggalkan Tania dan saudara kembarnya.


"Mommy, ayo kita pulang," ucap anak yang di tinggalkan bersama Tania. Sebelum Tania menjawab, anak itu sudah menarik tangan Tania.


Titt, suara monitor di sebelah brankar Tania pun berbunyi dan ....


Dan selamat taun baru untuk semua 🤣🤣🤣🤣