Uncle Julian

Uncle Julian
53



Julian mengendarainya mobilnya dengan cepat untuk sampai ke gudang tempat anak buahnya membawa Chris yang tak lain Dokter yang menjadi dalang dari semuanya.


Saat sampai, Julian membuka pintu dan berjalan dengan emosi. Dan sebelum masuk ke dalam gudang, Julian mengambil balok kayu yang berada di sisi pintu.


"Tuan!" sapa salah satu anak buah Julian yang menghampiri Julian.


"Dimana dia?" tanya Julian. Dia membuka jam tangan mahalnya dan memberikannya pada anak buahnya dia pun menaikan kemeja bagian tangannya sampai kesiku. Rupanya Julian benar-benar akan menghajar Chris.


Pastikan semua aman, awasi diluar jangan sampai ada yang curiga pada tempat ini," ucap Julian. Mungkin semasa hidupnya, ini kali pertamanya Julian akan mengotori tangannya.


Julian pun masuk ke dalam ruangan tempar Chris berada.


"Ju-Julian," ucap Chris yang sedang terduduk lesu, Chris merasakan lemas yang amat luar biasa hebat karena sebelum Julian datang, anak buah Julian sudah menghajarnya terlebih dahulu.


"Kau masih berani menyebut namaku dengan mulut kotormu, Hah!" teriak Julian. Dia maju kearah Chris. Dengan sengaja Julian menginjak tangan Chris dan menekannya membuat Chris berteriak kencang karena kesakitan


"A-ampuni aku, Julian." Chris mengiba pada Julian.


"Ampun katamu ...." Julian tertawa mendengar ucapan Chris.


"Ampun, katamu!" Teriak Julian lagi sambil mengayunkan balok kayu memukul kepala Chris.


"Katakan sekali lagi!" teriak Julian sambil memukul tubuh Chris.


Sedangkan Chris hanya bisa pasrah meringis menahan sakit. Dia tak berani lagi untuk berbicara sepatah katapun pada Julian.


Julian pun terus menghajar Chris secara membabi buta


Julian menghentikan aksinya saat Chris sudah tumbang tak sadarkan diri karena di hajarnya.


"Urus dia! aku akan kembali ke rumah sakit," ucap Julian sambil kembali mengambil jam tangannya dari anak buahnya.


•••


Waktu begitu cepat berlalu, Tak terasa, Tania sudah berada di rumah sakit selama dua minggu dan dokter sudah memperboleh Tania pulang.


Saat pagi dan siang Keinya dan Bram yang menemani Tania sedangkan Malam, Julian lah yang menjaga Tania.


Seminggu yang lalu, Tania sudah bisa berbicara. Tapi dia sama sekali belum berbicara apa-apa pada Julian. Saat malam, saat Julian menunggunya. Tania langsung memejamkan matanya seperti biasa. dan Julian pun langsung duduk di kursi sebelah brankar Tania.


"Sayangku!" ucap Julian dia berusaha mencairkan suasanya. Dia mengangkat tangannya untuk menggenggam tangan Tania.


Namun, dengan cepat Tania menepis tangan Julian. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Tania pun membalikan tubuhnya dan membelakangi Julian.


Keesokan harinya.


Tania diperbolehkan pulang oleh dokter sore hari dan kini Tania tengah duduk di ranjang dengan kaki menjuntai kebawah, tangannya tak bisa berhenti untuk mengelus perutnya. Tiba-tiba Tania menangis saat mengingat satu janin yang sudah gugur.


Bersamaan itu, Bram masuk kedalam ruangan Tania. Dan saat Bram masuk, Tania buru-buru menghapus air matanya. Tania masih pura-pura lupa tentang apa yang terjadi hingga terkadang dia harus pura-pura tersenyum ketika kedua orang tuanya ada di sisi nya.


"Papih, ada apa?" tanya Tania.


Tanpa menjawab ucapan Tania, Bram mendudukan dirinya di sebelah Tania dan membawa Tania kedalam pelukannya.


"Papih mengenalmu lebih dari siapa pun di dunia ini. Menangislah di pelukan papih jika Kau merasa hidup mu berat. Jangan menanggung semua sendiri. Kami selalu ada bersamamu," ucap Bram. Walaupun Tania berpura-pura, tentunya Bram tau bahwa putrinya tengah berbohong dan Keinya pun juga tau bahwa Tania mengingat semuanya. Bram dan Keinya bisa melihat jelas lewat mata Tania bahwa putri mereka memendam luka yang sangat menyakitkan. Mereka hanya menunggu Tania bercerita pada mereka tanpa paksaan.


Seketika tangis Tania pecah. Dia menangis tersedu-sedu di pelukan Bram.


"Papih tau, kau mengingat semuanya," ucap Bram saat Tania sedikit tenang.


Seketika Tania melepaskan pelukannya dan menatap Bram.


"Sekarang katakan, kau ingin papih melakukan apa untuk suamimu?"


"Papih aku ingin ...."


Kira-kira, Tania ngasih balesan gimana ya buat Julian. besok up tengah malem lagi ya. pastinya balesan Tania akan membuat kalian bersorak kegirangan 🤣🤣