
Malik dan Raffael baru saja selesai menandatangani kerja sama dengan perusahaan kontraktor asal Swiss. Rupanya, Abraham grup akan membangung hotel di Swiss. Malik terpaksa menemani Raffael ke Swiss karena sekretaris Raffael tak bisa ikut karena harus mengurus pekerjaan yang menumpuk. Hingga mau tak mau Raffael pun memaksa Malik untuk ikut.
Saat sudah selesai, mereka berencana untuk pulang ke hotel. Namun, Raffael memutuskan untuk ke penthouse Tania untuk melihat keponakan sebentar karena besok pagi mereka harus kembali terbang ke Indonesia.
"Raf, Raf ... bukannya itu Tania." Malik menyenggol lengan Raffael saat melihat Tania naik taxi dan melihat Supir Taxi mengangkat koper milik Tania.
Baru saja Raffael akan turun dan memanggil Tania. Namun, taxi yang ditumpangi Tania sudah terlanjur pergi.
Seketika prasaan Raffael dilanda kegelisahan. Melihat keponakannya membawa koper. Raffael yakin, ada sesuatu yang terjadi dengan Tania.
Raffael pun meminta taxi yang ditumpangi olehnya dan Malik untung mengikuti taxi yang ditumpangi Tania.
Saat ditengah jalan, taxi yang ditumpangi Raffael kehilangan jejak. Namun, setelah menyusuri jalan yang cukup sepi, Malik melihat ada taxi didepan rumah kosong. Raffael dan Malik pun turun untuk memastikan taxi yang itu yang dinaiki Tania atau bukan.
Ternyata saat Raffael akan mendekat, lelaki yang berjaga di depan rumah kosong tersebut Sedang menelpon dan menyebut nama Tania.
Darah Raffael mendidih saat mendengar nama Tania dan Raffael sadar bahwa keponakannya sedang dalam bahaya.
Seketika Raffael maju dan menghajar pria tersebut. Mendengar keributan dari luar, beberapa orang pria berbadan besar pun keluar dari rumah kosong tersebut.
Malik dengan sigap membantu Raffael menghajar pria lain. Malik dan Raffael hampir tumbang karena jumlah mereka tak seimbang. Saat melihat pistol di saku celana salah satu pria, Malik dengan cepat menarik pistol itu dan membidik tangan pria yang tengah duel dengan Raffael.
"Pergi sekarang atau polisi akan lengkap kalian!" teriak Malik dengan lantang.
Mendengar Malik menyebutkan polisi, semua pri tersebut pun pergi dengan terburu-buru.
Malik dan Raffael pun segera masuk kedalam rumah untuk menyelamatkan Tania.
•••
Raffael terduduk lesu di kursi tunggu. Dia tak mampu membayangkan bagaimana reaksi Tania saat tau bahwa satu kandungannya tengah gugur.
"Lik, elu tunggu disini. Gue harus bikin perhitungan sama penculik tadi," ucap Raffael sambil bangkit dari duduknya. "Mana pistol yang lu bawa tadi?" Raffael mengarahkan tangannya kedepan Malik. Malik pun mengeluarkan pistol dari sakunya.
Pria yang ditembak Malik tadi sedang mengaduh kesakitan karena luka tembak di kakinya.
Saat Raffael masuk, pria itu berusaha bangkit untuk melawan Raffael. Raffael yang sudah dikuasi amarah langsung menembak sebelah kaki si pria tersebut hingga pria itu terjatuh.
Raffael maju dan berjongkok didepan pria tersebut. Dia menjambak rambut pria itu dan membenturkannya kebawah.
"Katakan kenapa kau menyiksa keponakanku," ucap Raffael.
Karena pria itu tak membalas ucapan Raffael, Raffael kembali membenturkan kepala pri itu kebawah dan mengenai lantai. Amarah Raffael masih membuncak si pria tadi tak mau menjawab pertanyaan Raffael hingga Rafael kembali membenturkan kepala pria tersebut kebawah dan mengenai lantai.
Pria tersebut akhirnya menyerah, dia pun meminta ampun pada Rafael. Lalu dia memulai menceritakan semuanya, termasuk tentang Julian yang dikirimi surat palsu dari rumah sakit.
"Julian!!" Raffael menggeram marah saat mengetahui semuanya.
"Tuan, tolong keluarkan aku dari sini," ucap si pria tersebut saat Rafael sudah bangkit dari berlututnya.
Rafael tersenyum sinis, dia pun kembali berjongkok.
"Tanganmu ini yang membuat keponakanku hampir meregang nyawa. Kau tau keluarga Geraldo?"
Mendengar nama Geraldo, si pria tersebut pun bergidik ketakutan. Rupanya si Pria itu berasal dari Spanyol dan bukan rahasia lagi jika keluarga Geraldo takan pernah memaafkan siapa pun yang mengusik keluarganya.
"A-ampuni saya. Tuan."
Rafael pun mengeluarkan pistol dan menembakannya ke tangan pria tadi.
"Membunuhku terlalu mudah, maka nikmatilah hari-harimu disini sebelum kematian menjemputmu." Rafaell menginjak tangan si pria tadi membuat si pria tadi menjerit karena Rafael menginjak tepat di lengan yang baru saja terkena peluru.
Next besok ya tapi kalau baby nanti malam ga rewel aku usahain up ya. Karena jujur aku lagi drop banget. Kalian yang udah punya baby tau kan gimana rasanya bergadang kurang tidur. Jadi mohon pengertiannya karena jujur pas ngetik ini aku ngantuk banget. Tapi aku tetep usahain up buat kalian 😍😍
ikuti saja alurnya jangan menebak-nebak ya 😍😍😘