Uncle Julian

Uncle Julian
37



"Jul, sebelum kau menikahi Tania, Uncle ingin bertanya terlebih dahulu," ucap Bram memandang lekat-lekat calon menantunya.


"Silahkan, Uncle," jawab Julian mantap dan tegas.


"Kenapa kau sangat menginginkan Tania? Umur kalian berbeda jauh, budaya kalian pun jauh, bahkan Secara agama pun kita berbeda. Ya, Uncle akui kita sama, sama-sama menikahi perempuan yang berumur jauh dibawah kita. Tapi, ada banyak perbedaan antara Keinya dan Tania." Bram menjeda sejenak ucapannya, "Saat Uncle menikah dengan Keinya, Keinya begitu dewasa. Dia bisa menjadi ibu sambung dan menjadi istri yang amat pengertian. Berbeda dengan Tania. Bukan nya Uncle meragukan putri Uncle, Tapi, Uncle hanya ingin kau tau dan kau yakin pada Tania. Begitu pun kau, kau pun harus jujur tentang mu, tentang sifatmu dan tentang semua yang kau sukai atau tidak kau sukai. Suatu saat, Uncle tak ingin mendengar kalian berpisah hanya karena alasan kalian tidak ada kecocokan. Jadi bicarakanlah hal-hal penting sebelum kalian menikah," ucap Bram panjang lebar. Dia selalu berpesan kepada pada menantunya untuk saling berbicara terbuka sebelum menikah agar tidak ada ke salah pahaman setelah menikah.


"Uncle, aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu dan pada Keinya. Tapi aku yakin aku adalah lelaki yang bertanggung jawab. Bagaimana pun sifat Tania, aku akan bertanggung jawab padanya karena. Aku tau, menikahi wanita muda tidaklah mudah. Karena walau bagaimana pun pemikiran kami berbeda. Tapi, aku berjanji akan membimbing Tania dan akan memantaskan diriku untuk menjadi imam yang baik. Walaupun kami baru bersama selama dua tahun. Namun, sedikit banyaknya kami sudah saling tau sifat masing-masing."


Bram tersenyum bangga mendengar jawaban calon menantunya.


"Apa kalian sudah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat ini?" tanya Bram.


"Ya, Uncle. Jika Uncle mengijinkan, setelah aku resmi menjadi mualaf besok, aku akan segera datang bersama keluarga ku untuk melamar Tania."


"Baiklah, karena kami berecana menghabiskan waktu lebih lama disini, kami akan menunggu keluarga mu datang kemari."


Julian pun mengangguk.


•••


"Udah selesai, Bram? Lu nanya apa aja sama calon mantu lu?" tanya Aska ketika berpapasan dengan Bram.


"Ya, ampun. Si Raffael dosa apaan ya dapet mertua kaya si Bram," gerutu Aska saat Bram meninggalkannya.


Keesokan harinya.


"Jul, kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Joenathan saat akan mengucapkan dua kalimat syahadat. Saat ini mereka tengah bersiap untuk pergi ke rumah salah satu ulama yang berada di Spanyol.


"Kak, aku sudah sangat yakin dengan keputusanku. Aku memang menjadi mualaf karena ingin menikahi Tania. Tapi, aku juga ingin benar-benar mendalami agama baruku dan menjadi muslim yang taat."


"Kaka yakin padamu. Kau tau, kan, kaka juga sangat menyayangi Keinya. Jadi jangan membuat Keinya kecewa. Tolong jaga Tania, karena jika kau sampai membuat Tania kecewa maka kaka adalah orang pertama yang akan membunuh mu," ucap Joenathan sambil memegang kedua pundak Julian.


Joenathan amat menyayangi Keinya, walau bagaimana pun dia yang mendampingi Keinya saat baru terlahir kedunia ini. Rasa sayangnya tak berubah. Dia tetap mengaggap Keinya sebagai putrinya. Dan saat Joenathan mendengar bahwa Julian akan menikahi Tania. Maka, Joenathan memberu ultimatum pada adiknya untuk tak menyakiti Tania.


Udah lama ga sebar bawang. Jadi beberapa bab lagi mau sebar bawang ah wkwkwk


lagi dirumah sakit buat kontrol jaitan, jadi maaf ya kalau aga pendek.


istri diatas kertas up malem, ya. Uncle Bram 2 juga udah up sampe bab 5 lho. cus ksana