Uncle Julian

Uncle Julian
56



Pov Julian.


Aku memang bodoh, sangat bodoh.


Aku memercayai orang lain dari pada istriku sendiri.


Dia yang telah yang telah berjuang agar aku lepas dari pernikahan semuku, dia yang hampir mati ditangan psycopath karena ingin membuktikan bahwa aku tak bersalah.


Dia wanita yang aku cintai, wanita yang dulu selalu aku impikan di setiap malamku. Dan saat aku sudah mendapatkannya, dia pergi dari hidupku. Karena kebodohanku, dia pergi dengan sejuta luka dan dia pergi membawa separuh jiwaku.


Menyesalpun tak ada guna, seandainya aku tetap berdiri di sampingnya, mengenggam tangannya saat badai menerjang, aku tentu tak akan kehilangan dia dan calon anak kami. Tapi, lagi-lagi itu semua karena kebodohanku.


Maafkan aku sayangku.


Author POV.


Setelah keluar dari apartemen Diana, Julian kembali memacu mobilnya untuk mencari Tania, dia yakin, istrinya masih berada di Swiss.


Julian fokus untuk mendatangi hotel-hotel yang ada di Swiss. Tak hanya bertanya tentang nama Tania dalam daftar tamu, Julian pun meminta semua pihak hotel yang dia datangi menunjukan rekaman cctv guna memastikan ada atau tidaknya Tania dihotel yang dia datang.


Setelah 7 jam mencari Tania di seluruh hotel.


Lutut Julian melemah, tubuhnya limbung. Ia merasa kakinya tak berpijak saat tak menemukan Tania dimana pun.


Apalagi orang-orang yang dia perintahkan mencari Tania sama gagal nya seperti dirinya.


Mereka tak menemukan jejak Tania di manapun.


Julian menyenderkan tubuhnya kebelakang. Saat ini, dia sedang mengistirahtakan tubuhnya di dalam mobil. Dia memulihkan tenaga untuk mencari kembali Tania, istrinya.


"Kenapa kau memberi hukuman yang sangat berat untukku, sayang. Apa kau tak percaya bahwa aku sungguh menyesal. Kenapa kau tak memberi hukuman yang lain padaku," lirih Julian. Dia mengurut keningnya, kepalanya berdenyut nyeri, dia kembali menangis, Julian tergugu, Julian benar-benar merasa berada di titik paling lemah saat ini.


Setelah larut dalam pikiran-pikirannya tentang keberadaan Tania, Julian pun meneruskan pencarian Tania.


°°°


Sudah 5 jam Julian larut dalam pencarian Tania. Ia merasa badannya benar-benar diambang batas kelelahan. Julian memutuskan untuk pulang ke penthousenya untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya.


Dia duduk di ranjang, melihat sekeliling kamar. Matanya tertuju pada piring seafood yang tadi dia simpan di atas nakas.


Dia memandang seafood itu dengan tatapan nanar. Teringat saat tadi Tania memintanya membelikan makanan seafood, dia tak menyangka itulah terakhir kalinya dia mendengar suara istrinya.


Julian mengangkat piring berisi seafood tersebut, dia manaruhnya di paha. Julian memakan seafood tersebut diiringi isak tangis.


"Pergilah, Sayangku. Sembuhkanlah lukamu. Kelak cintaku yang akan menuntunku padamu," lirih Julian setelah memasukan makanan kemulutnya. Dia bukan lagi terisak, isakan itu berubah menjadi tangisan yang terdengar sangat pilu.


POV Tania.


Luka.


Dia cinta pertamaku, dia yang aku pilih sebagai imamku. Aku pikir, kisah cintaku akan seindah kisah mamih dan papih. Namun, aku salah. Dia menorehkan goresan luka yang sangat dalam dihatiku.


Aku sakit, sangat sakit ketika dia menyebutnya murahan, dia menyebut kedua anakku sebagai anak haram, hatiku hancur berkeping-keping. Apakah dia lupa bahwa dia yang mengambil kesucianku.


Dia memperlakukanku begitu buruk, selama satu minggu dia pergi meninggalkan penthouse, memecat maid karena dia tau aku tak bisa memasak, apa dia ingin membuatku dan anakku mati kelaparan?


Dan yang lebih menyakitkan lagi, saat aku melihat dia menggandeng wanita dan dengan entengnya dia berbicara tentang perceraian.


Ya, walaupun akhirnya aku tau wanita itu adalah sepupunya. Tapi tetaplah menyakitkan mendengarkannya mengucapkan kata cerai dengan sangat santai.


Aku menguatkan diriku saat penculik itu membidik pistol pada perutku. Tubuhku gemetar saat aku diseret dengan kasar. Aku ingin berteriak meminta tolong. Tapi aku sadar itu percuma.


Dimana dia saat balok kayu itu melayang ke kepalaku. Di mana dia saat balok kayu itu berulang kali memukul tubuhku. Dimana dia saat aku berusaha mempertahankan kedua anakku. Rasa sukur kupanjatkan ketika om Raffael dan ka Malik datang tepat waktu. Jika tidak, kaki penculik itu akan menginjak perutku dan mungkin kedua anakku tak akan bisa di selamatkan.


Dia terus menggumamkan kata cinta, tapi apa buktinya. Secara langsung dia telah membunuh satu anakku dan membunuh jiwaku.


Nak, maafkan mommy yang tak bisa menyelamatkan mu. Maafkan mommy yang tak bisa menjagamu. Allah lebih menyayangimu. Lihatlah mommy dari atas sana, mommy berjanji akan menjaga kembaranmu. Mommy yakin, kau akan menjadi tabungan mommy ketika di surga nanti.


Dan kini, dengan mudahnya dia meminta maaf. Apa dengan maafnya bisa mengembalikan anakku?


Kini, aku pergi untuk menyembuhkan lukaku, memberi pelajaran padanya bagaimana rasanya kehilangan.


Ah, episode ini pecah banget. ngetik tengah Malem sambil nangis. Akupun kalau jadi Tania bakalan pergi. 😭😭😭