Uncle Julian

Uncle Julian
56



Tania tergugu menangis saat berada di dalam taxi. Ia tak tau apa yang di lakukannya benar atau tidak. Sedikit terasa berat untuk meninggalkan Julian, suaminya. Namun, untuk bertahan dan terus melihat suaminya pun dia tak mampu.


Akhirnya Tania pun sampai di tempat tujuan, dia sampai disebuah penthouse. Penthouse itu milik dari suami Diana yang sudah lama tak di tempati. Ya, semua tau tentang kepergian Tania. Mereka mendukung keputusan Tania. Sebab, mereka bisa melihat betapa menderitanya Tania setelah kejadiian naas yang menimpanya.


Bahkan Diana menyarankan Tania untuk sementara menempati penthouse yang dulu ditempati oleh suaminya. Sebab Diana tau, Julian takan menyerah mencari Tania.


Jika Tania pergi langsung meninggalkan Swiss, tentu Julian bisa langsung melacaknya.


Tania pun menuruti saran Diana, dia berencana berdiam di penthouse selama dua minggu dan akan pergi menangkan diri di Istanbul turki. Negeri yang menurut Tania sangat indah.


Saat masuk kedalam penthouse, mata Tania membulat sempurna. Bagaimana tidak, ia melihat Ahsam dan Sarah istrinya sedang berdansa. Padahal hari masih sore.


Tanpa berkata sepatah kata pun, Tania terus memerhatikan Ahsam dan sarah yang tengah berdansa. Sesekali ia tersenyum samar saat melihat adegan romantis di depannya.


Saat akan ada adegan dimana Ahsam akan mencium bibir istrinya, Tania dengan cepat berteriak.


"Tunggu!" teriak Tania.


Seketika Ahsam dan Sarah menoleh kearah Tania, mereka sama-sama melepaskan diri. Ahsam tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dengan cepat dia membuka gorden dan meniup lilin-lilin yang tadi ia nyalakan.


"Maafkan kami, Nona," ucap Sarah saat menghampiri Tania.


"Kenapa Kak Sarah harus minta maaf, kalian pasangan sah. Lanjutkanlah, aku ingin beristirahat," ucap Tania. Ia melangkah meninggalkan Ahsam dan Sarah menuju ke salah satu kamar di penthouse tersebut.


"Kamu, sih, kan, malu jadinya!" gerutu Sarah pada suaminya.


Sedangkan Ahsam hanya cengengesan.


Saat sampai di kamar, Tania membuka jendela kamar, ia tersenyum saa melihat pemandangan. Tiba-tiba kenangan saat bersama Julian muncul, kenangan saat dulu Julian selalu memeluknya dari belakang. Tania menggeleng menyadarkan dirinya agar tak selalu memikirkan Julian.


Dua jam kemudian, seseorang datang ke penthouse yang di tempati Tania, dan yang datang adalah Lila, kaka Tania.


Saat Tania di rawat, Lila ingin sekali ikut ke Swiss. Tapi, ia tak bisa karena Magika, putra keduanya, terbaring sakit. Dan setelah Magika sembuh, Lila meminta ijin pada suaminya untuk menemani Tania sebelum Tania terbang ke Turki.


"Nona, Lila. Kenapa anda tak menelpon saya. Maaf saya tak menjemput anda dibandara," ucap Ahsam yang menghampiri Lila di pintu. Dia membantu Lila menarik koper yang Lila bawa.


"Tidak, Nona. Kami merahasiakannya," jawab Ahsam. "Nona Tania sedang Da di kamar atas," jawab Ahsam lagi.


Lila pun mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk kekamar atas.


Lila membuka pintu dengan perlahan, dia sedikit melongokan kepalanya untuk melihat sedang apa Tania.


Ternyata Tania sedang tertidur. Lila pun masuk dengan perlahan, Ia melangkahkan kakinya kearah ranjang.


Hati Lila merasa teriris saat melihat Tania tidur meringkuk, terlihat jelas mata Tania sembab pertanda dia baru saja menangis dan yang membuat Lila lebih teriris adalah saat melihat tangan Tania yang menggenggam kertas usg. Lila tau bahwa adiknya pasti masih merasa terpukul karenan kehilangan anaknya, dan yang Tania bisa lakukan adalah melihat kertas usg saat dia belum kehilangan satu anaknya.


Lila pun mendudukan dirinya di sebelah Tania, ia mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. Lila tau bagaimana sakitnya berada di posisi Tania, walaupun dia tak kehilangan bayinya tapi kisah Lila saat hamil sama menyakitkannya seperti Tania.


•••


Sedangkan Julian.


Setelah menyesali kepergian Tania, Julian langsung menyuruh sekratrinya untuk memesankan tiket ke Indonesia. Walapun Ia tau bahwa nama Tania tak tedaftartar dalam penerbangan manapun Julian hanya berharap Tania ada di Indonesia atau setidaknya, walaupun Tania tak ada di Indonesia, Julian berharap kedua mertuanya akan memberitau kehadiran istrinya.


2 hari kemudian.


Dan disinilah Julian, dia sudah berada di Indonesia. Julian baru saja tiba dari bandara dan langsung kerunah mertuanya.


"Julian!" panggil Bram saat melihat Julian duduk di ruang tamu. Dia yang baru saja daatang dari luar bersama Keinya sama sekali tak terkejut dengan kedatangan Julian


"Untuk apa kau kemari?" tanya Keinya ketus. Rupanya dia belum bisa melupakan sikap Julian pada putrinya.


"Sayang!" tegur Bram lembut.


Sedangkan Keinya hanya mendelik. "Naiklah, biar aku bicara sebentar dengan Julian."


"Kau mau berbicara apa dengannya?" tanya Keinya yang takut bahwa Bram membeberkan dimana Tania.


Aku ....