Uncle Julian

Uncle Julian
Bab 50



"Lalu, apa yang bisa kami lakukan saat ini." Kali ini Julian yang bertanya.


" Jangan memaksa Nona Tania untuk mengingat apa yang dia lupakan, biarkan dia ingat dengan sendirinya."


Ada sedikit rasa kebahagian di diri Julian saat dokter mengatakan Tania kehilangan ingatannya tentang penculikannya. Setidaknya dia bisa menebus kesalahannya dengan selalu ada di sisi istrinya setiap waktu. Karena jika Tania ingat, sudah di pastikan bahwa Tania tak akan mau bertemu Julian.


"Baiklah, Dok. Kami permisi," ucap Bram pamit pada Dokter saat sudah mengetahui kondisi Tania.


Saat Bram sudah berjalan terlebih dahulu. Julian kembali terduduk di kursi tunggu. Lututnya melemah, kakinya seolah tak berpijak.


Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah. Dia telah menghilangkan satu nyawa calon anaknya dan pasti istrinya akan sangat membencinya.


Julian menelungkupkan kedua tangan ke wajahnya. Dia menutupi wajahnya karena tak bisa menghentikan isakannya.


Seseorang duduk di samping Julian dan memeluk Julian dari samping.


Dan orang itu adalah Diana. Sekalipun dia memang mengutuk Julian atas kelakuannya, tapi mereka di lahirkan kembar hingga ikatan batin mereka begitu kuat. Diana bisa merasakan apa yang kaka kembarnya rasakan.


"Aku sungguh menyesal, Diana. Aku benar-benar menyesal," lirih Julian sambil terisak di pelukan adik kembarnya. "Ba-bagaimana jika dia tak mau memaafkanku," ucap Julian lagi.


Diana mengelus pungung Julian. "Apa pun yang terjadi nanti, kau harus menerimanya," jawab Diana. "Sekarang pulanglah ke penthouse mu, Ka Joenathan baru saja tiba dan menunggumu."


Seketika Julian mendongak melihat Diana. "Kapan ka Joe tiba dari Korea?" tanya Julian dengan terkejut, dia menghela napas sejenak saat membayangkan betapa murkanya Joenathan kepadanya.


"Dia baru saja tiba, ponselmu tak bisa di hubungi. Sekarang pergi! temui dia, dia juga sedang bersama Alisia."


Deg


Mendengar nama Alisia, tiba-tiba tubuh Julian menegang. Dia teringat saat Tania memergokinya saat dia sedang bersama Alisia di supermarket dan Julian yakin Tania pasti salah paham padanya.


"Diana, aku akan pulang ke penthouse ku. Kabari aku jika terjadi sesuatu," ucap Julian sambil bangkit dari duduknya.


Julian memacu mobilnya dengan cepat, beberapa kali dia menyalip kendaraan di depannya. Satu jam kemudian, dia pun tiba di penthousenya.


"Ka!" lirih Julian pada Joenathan yang sedang berdiri melihat pemandangan dari kaca.


Joenathan berbalik saat melihat Julian, dia menatap tajam adiknya dan berjalan kearah Julian.


Tanpa aba-aba. Bugh Joenathan langsung menonjok pipi Julian.


Joenathan menghajar adiknya dengan membabi buta. Sedangkan Julian, walaupun sudah sangat merasa kesakitan, dia sama sekali tak berniat melawan.


Setelah mengahajar Julian, Joenathan pun duduk di sofa, dia beberapa kali menghembuskan napas kasar untuk menetralkan emosinya.


Julian pun dengan tertatih-tatih mengikuti Joenathan untuk duduk di sofa dan berbicara dengan kakanya.


"Alisia, ambilkan Oppa air!" teriak Joenathan pada Alisia yang bersembunyi di belakang sofa. Rupanya dia ketakutan saat melihat Joenathan menghajar Julian.


Alisia pun bergegas menuju dapur dan mengambil air dingin untuk Joenathan.


"Ambilkan juga es batu dan kompres lukanya!" titah Joenathan lagi pada Alisia saat Alisia menyodorkan gelas berisi air kepadanya. Alisia pun kembali ke dapur untuk mengambil es batu. Lalu dia duduk di sebelah Julian dan mengompres luka Julian.


Sedangkan Tania.


Saat dokter selesai memeriksanya dan pergi dari ruangannya. Tania menangis, dia merasakan semua badannya terasa sakit, dia ingin sekali mengelus perutnya tapi sayang, tangannya tak bisa di gerakan.


"Mamih, ini sangat sakit. Cepatlah kemari dan peluk aku." lirih Tania dalam hati saat dia merasakan sakit yang teramat hebat, air mata tak berhenti mengalir dari mata Tania.


ah, aku nangis pas nulis Tania pengen di peluk Keinya 😭😭😭😭


Istri diatas kertas up.siang ya