Uncle Julian

Uncle Julian
64



Setelah menyelesaikan ritual sholatnya. Julian, mengambil tasbih dari sampingnya. Ia, begitu menghayati setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia, memanjatkan rasa syukur sebanyak-banyaknya karena semua sudah kembali normal. Putrinya cantiknya lahir dengan selamat dan sang istri yang sudah kembali kepada dekapannya. Setetes bulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Hari ini, kehidupannya kembali sempurna.


Tania tak bisa menahan tangis haru. Saat tau bahwa suaminya menangis terisak. Dia berpura-pura memejamkan mata lagi saat Julian bangkit dari duduknya.


Julian kembali merapihkan sejadahnya. Tanpa melepas sarung dan baju kokonya. Julian kembali duduk di dekat brankar sang istri. Ia menggenggam lagi tangan Tania, karena mengantuk Julian pun menaruh kepalanya di penyangga brankar, satu tangannya menggengam erat tangan Tania.


"Darling!" panggil Tania. Ia, terpaksa membangunkan Julian karena tak tega suaminya tidur dengan posisi tidak nyaman.


Julian yang baru saja akan terbang ke alam mimpi langsung terbangun kala Tania memanggilnya.


"Sayang kau perlu sesuatu?" tanya Julian. "Kau mau minum?" tanyanya lagi.


Tania menggeleng, "Darling tidurlah di sofa, kau akan sakit jika tidur dengan posisi begitu."


Julian tersenyum. "Tidak apa-apa, Sayang. Begini akan lebih mudah jika kau memanggilku. Tidurlah! ini sudah malam. Bangunkan aku jika kau ingin sesuatu," jawab Julian. Ia mengecup bibir Tania sekilas. Kemudian kembali ke posisi semula.


"Darling, jika kau tidak mau tidur di sofa, tidurlah di sebelahku!" titah Tania lagi.


"Bolehkah? tanya Julian lagi. Ia bertanya karena takut merasa istrinya tidak nyaman.


Tania pun menganguk. Julian pun berhati-hati untuk menaiki brankar Tania. Ia takut akan mengenai infusan yang menancap pada tangan sang istri.


Karena Tania menempati ruangan Vip, jadi brankar yang di tempati Tania cukup besar, hingga tak masalah jika Julian tidur bersebelahan dengan istirnya.


Setelah naik kedalam brankar, Julian kembali memejamkan matanya. satu tangannya mengelus perut Tania, karena tau istrinya sangat kesakitan.


Jantung Tania berdegup dua kali lebih cepat. Prasaanya berbunga-bunga. Dia seperti kembali jatuh cinta lagi pada suaminya.


Setelah sekian lama Julian mengelus perut Tania, Julian pun menghentikan usapannya. Tania pikir, Julian telah tertidur. Karena posisi kepala Julian lebih tinggi dari kepalanya. Tania pun mendongak keatas untuk memastikan Julian tertidur atau tidak.


"Da-darling, kau tidak tidur? " tanya Tania. Pipinya memerah karena tepergok melihat suaminya. Padahal itu hal yang sah saja untuk Tani lakukan karena dia memandang suaminya.


"Kenapa kau belum tidur, hem?" Julian mengecup pucuk kepala Tania.


"Se-sepertinya, aku kembali jatuh cinta padamu lagi, Darling." Setelah mengatakan kalimat barusan. Tania mengigit bibirnya. Ia secara tak sadar mengucapkan hal yang ada di pikirannya.


Julian sedikit mengangkat kepalanya. Ia, langsung mencium bibir sang istri dan sedikit memperdalam ciumannya.


"Akan ku pastikan kau dan putri kita akan selalu jatuh cinta kepadaku setiap hari." Sebelum Tania menjawab ucapan suaminya. Julian kembali lagi mencium bibir istrinya. Ia tak bisa menahan diri. Ia, rindu pada semua yang berada di tubuh istrinya.


Tania yang menerima perlakuan manis dari suaminya, ikut terhanyut dan sedikit bisa meringankan rasa sakitnya.


Julian pun melepaskan ciumannya. Ia, menatap wajah cantik sang istri, lalu mencium kening Tania dengan penuh kasih sayang.


"I love You."


"Darling kau!"


Julian hanya tersenyum saat istrinya menyadari bahwa ada yang meronta degan bagian tubuhnya.


"Tidurlah! jangan di pikirkan. Selama kau tidak ada, aku sudah biasa menahannya dan aku harus sabar menunggu 40 hari lagi."


Cinta sang pria arogan udah up dua bab lho


udah masuk konflik. Dijamin bikin kalian pamas dingin 🤣