
Julian memandang cin-cin yang dilemparkan Tania dengan tatapan nanar. Ia berjongkok untuk mengambil cin-cin tersebut.
Julian pun terduduk lesu di kursi kerjanya. Ia menatap cin-cin itu sambil mengingat-ngingat kenangan manis bersama istrinya dulu.
Julian baru teringat Tania hampir mengorbankan nyawanya demi dirinya, demi dirinya lepas dari Clara. Seketika rasa bersalah menghujam Julian.
"Astagfirullah." Julian mengusap wajah dengan kasar. Teringat betapa kejamnya perlakuannya pada Tania. Harusnya dia lebih memercayai istirinya yang jelas-jelas sudah berjuang untuknya.
Julian pun bangkit dari duduknya dan dan segera berlari keluar untuk mengejar Tania. Namun sayang, saat di luar, dia tak menemukan istrinya. Ia pun bergegas kembali untuk mengambil mobil dan berencana menyusuri jalan untuk mencari Tania.
°°°°
Sementara Raffael.
Setelah pergi memberi pelajaran pada pria tersebut. Raffael pergi kesebuah hotel tempat Maria menginap. Amarah sedang berkobar di dada Raffael, dalam darahnya ada darah Aska yang pasti tak akan tinggal diam jika seseorang mengusik keluarganya.
Hanya selang 30 menit Raffael pun tiba di hotel. Semua memandang Raffael dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak, penampilan Raffael terlihat sungguh berantakan.
Awalnya resepsionis hotel tak membiarkan Raffael masuk karena penampilan Raffael. Namun, berkat koneksi yang dimiliki Raffael, Raffael pun akhirnya diijinkan masuk.
Raffael dengan perlahan mengetuk kamar Maria.
"Maaf, anda siapa?" tanya Maria saat membuka sedikit pintu kamarnya.
Raffael mendorong pintu hingga pintu itu pun terbuka lebar. Raffael pun masuk kedalam kamar dan menghujam Maria dengan tatapan tajam.
"Siapa kau! berani sekali kau masuk tanpa ijinku!" teriak Maria dengan lantang.
"Apa kau tidak tau bagaimana kejamnya keluarga Geraldo?" Raffael berucap dingin nan datar.
Mendengar ucapan Raffael, wajah Maria berubah menjadi cemas. Dia tak menyangka anak buahnya akan gagal hingga akhirnya dia pun terciduk.
Raffael mendekat ke ada Maria. Maria pun mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.
"Berani sekali kau menyentuh keponakanku!" teriak Raffael dengan lantang.
"A-a ...." perkataan Maria terpotong saat Raffael mencekik Maria.
"Sebelum kau menerima balasan kejahatan yang kau lakukan pada keponakanku. Kau harus menjelaskan pada si Bodoh Julian tentang semua yang kau rencanakan pada keponakanku." Raffael melepaskan tangannya dari leher Maria dengan kasar. "Sekarang keluar dari sini! berjalan di depanku! Jika kau berani kabur atau berteriak maka pistol ini akan mengenai punggung mu!"
Tubuh Maria bergetar hebat saat Raffael mengacungkan senjata kehadapannya. Maria pun dengan cepat mengangguk.
Sedangkan Julian.
Dia sudah menelusuri jalan untuk mencari keberadaan istrinya. Namun sayang, dia tak menemukan Tania di mana pun. Julian pikir, Tania menginap di hotel. Julian pun memutuskan untuk kembali ke penthouse dan mencari Tania besok.
Saat akan masuk kedalam rumah. Seseorang memanggil namanya.
"Raffael!" lirih Julian sambil menatap Raffael. Keningnya mengkerut bingung saat melihat Raffael datang bersama mantan mertuanya.
Saat Raffael mendekat, Raffael langsung menonjok Julian hingga Julian langsung tersungkur. Setelah Julian tersungkur Raffael dengan cepat menaiki tubuh Julian dan kembali menghajar Julian dengan membabi buta.
"Karena kebodohanmu Tania harus kritis dan kehilangan satu janinnya!" teriak Raffael dengan lantang.
Mendengar ucapan Raffael, Julian mencoba melawan hingga Raffael tersungkur karena Julian menendang dari belakang.
"Apa maksudmu?"
"Jelaskan padanya!" titah Raffael pada Maria.
Maria pun berlutut di depan Julian lalu menjelaskan tentang semua.
Dunia Julian hancur saat mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya lemas karena mengetahui kenyataan yang sesungguhnya.
"Dirawat dimana istriku sekarang?" tanya Julian pada Raffael.
"Kau masih berani menyebut Tania istrimu!" Raffael tersenyum sinis.
"Raffael!" teriak Julian dengan keras. Dia mencekal kerah baju Raffael.
"Sekarang aku tak akan pernah membiarkankanmu menyentuh keponakanku lagi!" Raffael melepas tangan Julian yang berada di kerah bajunya.
"Bukankah kau dan uncle Aska melakukan kesalahan yang lebih fatal dariku!" seru Julian.
Muka Raffael memerah mendengar ucapan Julian. Rahangnya mengeras menahan amarah.
"Aku akan mencari kemana pun, sekalipun aku harus berkeliling ke rumah sakit di seluruh Swiss. Aku pasti akan menemukan istriku." Tanpa menunggu jawaban Raffael. Julian pun langsung melangkahkan kakinya dan menuju mobil.
Sedangkan Bram dan Keinya.
Geber vote skuy biar semangat update 🤣🤣