Twint A

Twint A
Manda



Pagi hari. Seluruh keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan. Sedangkan baby triplets sedang asik bermain tentu di jaga oleh para baby sister.


“Gatha makan yang banyak ya sayang”. Ucap Tasia pada sang putri.


“Yes mom”. Jawab Agatha tersenyum ke arah momy nya dan kembali melanjutkan makan nya.


“Marcel makan yang banyak”. Giliran putra nya lah yang mendapat perhatian .


“Yes mommm”. Ucap Marcel dengan mulut penuh.


Selesai makan. Agatha dan Marcel pamit ke seluruh penghuni rumah dan berangkat menuju tempat yang di tuju masing masing.


Tasia memasuki rumah. Rencana nya ia akan mengajak Keponakan nya ,Avian. Untuk jalan jalan ,kebetulan sekolah Avian mengadakan libur panjang di karenakan renovasi sekolah dan akan di laksanakan pembelajaran online.


“Sayang ... Ikut mom yukk jalan jalan”. Kata Tasia mendudukkan diri nya di samping Avian yang seperti biasa sibuk membaca buku.


“Kemana mom”. Tanya Avian dengan ekspresi bingung.


“Ke perpus juga bisa atau kemana ... Pkok nya jalan jalan ... Kemaanaaa aja terserah avian”. Ucap Tasia tersenyum.


“Boleh mom”. Ucap Avian antusias.


“Mom ambil tas dulu ya ... Avi ga bawa papa juga ga masalah”. Ucap Tasia melangkahkan kaki menuju kamar.


Avian hanya membawa buku yang ia baca tadi dan berjalan keluar. Tasia yang juga sudah siap pun berjalan bersama Avian keluar rumah. Tentu tasia sudah izin ke kakak ipar nya.


Sopir melaju. Tasia ikut membaca buku yang di baca Avian. Hingga sampai lah di depan sebuah wisata yang memang sangat terkenal di mana mana. Hingga banyak touris yang datang. Seluruh orang beda negara ada di sana.


Sekali kali ia mengajak Avian jalan jalan mencari udara luar agar Avian tidak terus berdiam dan banyak menglamun. Tidak baik.


“Ayo sayang ... Kita turun”. Kata Tasia di angguki Avian.


Di dampingi para bodyguard Tasia dan Avian berjalan menuju salah satu gazebo yang berada di sebuah rumah makan.


“Kita makan dulu ya ... Nanti kalo udah makan baru jalan jalan lagi”. Ucap Tasia duduk lesehan di gazebo itu. Begitu juga dengan Avian.


Tasia memesan makanan di sana. Makanan unik yang pasti akan di sajikan nasi juga ,apa pun jenis nya.


“Makan nya pake tangan bisa kan vi”. Tanya Tasia pada Avian yang terlihat memandangi jenis makanan di depan nya.


“Bisa mom”. Jawab Avian mulai memakan makanan unik itu dengan tangan nya. Tentu ia basuh terlebih dahulu ,tangan nya.


Avian mematung merasakan makanan yang sudah berada di mulut nya. Sangat lezat hingga tak bisa di jelas kan dengan kata kata. Tasia yang melihat Avian diam pun angkat bicara.


“Avi ,kamu ga papa kan”. Tanya Tasia sedikit khawatir.


“Avi ... Hey sayang”. Kata tasia sedikit meninggikan suara nya hingga Avian tersadar.


“I-iya mom”. Avian salah tingkah.


“E-enak mom”. Jawab Avian membuat tasia geleng geleng.


Ia sudah khawatir tadi.


Setelah makanan habis. Tasia dan Avian kembali melanjutkan jalan jalan. Namu. ,Tasia memerintahkan agar para bodyguard bersembunyi dan ia tak ingin jika acara jalan jalan nya terganggu.


“Sayang kamu duduk di kursi itu dulu ya ... Mom beli Kelapa di sana dulu”. Ucap Tasia di angguki oleh Avian.


Avian duduk dan asik membaca buku. Wajah tampan nya membuat semua yang berada dekat di sana seakan terpesona. Alis tebal ,bibir tipis ,lesung ,kulit putih bersih tanpa gores dan luka. Tak lupa rambut ala ala korea menambah karisma Laki laki berusia 14 tahun itu.


Tasia membeli dua kelapa. Di tempat sang penjual mata nya tak sengaja tertuju pada seorang wanita yang sedang asik bermain dengan anak kecil.


Ia terus memandangi wanita itu dengan mata berkaca kaca. Hingga suara sang penjual mengagetkan nya.


Ia pun bergegas membayar. Namun ia memanggil salah satu bodyguard nya untuk membawa kelapa tadi. Ia berjalan menghampiri wanita yang membuat hati nya bergemuruh.


“M-manda”. Panggil Tasia menepuk pelan bahu Wanita tadi.


Wanita itu menoleh dan menunjukkan ekspresi kaget.


“D-d-dely”. Kata manda terbata bata. Mata nya sudah berkaca kaca. Sahabat yang sudah sekian tahun tidak ada kabar nya.


“M-manda ... Manda”. Kata Tasia langsung memeluk Manda membuat anak kecil di samping manda kebingungan.


“Dely ... Ya tuhan ... Lo kemana aja sihh”. Ucap Manda dengan ekspresi kesal namun wajah nya sudah berderai air mata.


“Cerita nya panjang man”. Ucap Tasia lirih hingga pandangan nya teralih pada sosok gadis yang kira kira berusia lima tahun.


“Siapa dia man”. Tanya Tasia. Pikiran nya mengarah jika manda sudah memiliki cucu.


“Dia anak bungsu ku”. Jawab manda santai membuat Tasia kaget.


“Umur mu berapa ... Anak lo masih kecil lohh”. Ucap Tasia.


“Umur gue 42 tahun lo tau itu kan. Gue udah punya anak empat. Dan ini kek nya terakhir dan ketiga nya laki semua.


“Wihhhh banyak juga anak lo”. Ucap Tasia menggoda Manda.


“Gimana lagi ... Orang setiap hari cetak”. Ucap Manda asal. Tasia hanya geleng geleng dan kembali menatap gadis kecil di depan nya.


“Sayang ... Cantik banget sihh hmm ... Ikut tante yukk”. Ajak Tasia membuat Manda melotot.


“Hehh apaan lo ... Dia anak gadis gue satu satu nya lohh ... Udah capek badan gue buat nihh anak”. Ucap Manda asal.


“Sekarang lo makin baperan ya man”. Tasia geleng geleng lagi di buat nya.