Twint A

Twint A
Lelah



Hari semakin larut. Tasia baru saja mengecek marcel untuk memastikan ia sudah tertidur. Sekarang ,Ia berada di balkon kamar tak lupa dengan secangkir teh hangat dan selimut yang menutupi tubuh nya.


Ia memijat pelipis nya dan bersandar di sandaran kursi. Ia merasa lelah dengan semua ini ... Lelah dengan perjalanan hidup nya ... Lelah menanggung luka. Bagaimana pun ,ia hanya manusia biasa yang punya batas kekuatan dan bisa menunjukkan kerapuhan.


Ia lelah tapi ia mencoba untuk tegar. Hanya untuk sang putra. Ia hidup hanya untuk putra nya ... Putra nya adalah hidup nya ,nafas nya ,jiwa nya dan hati nya.


“Aku lelah”. Lirih Tasia membiarkan air mata menetes begitu saja.


“Aku lelah ... Hikss”. Kini tak ada tasia yang tegar ,tak ada tasia yang tegas. Tak ada dely yang dulu ,yang bisa membasmi siapa pun hama di sekitar nya. Tak ada.


“Arrrrggg ... Arrrgg”. Teriak Tasia melepas beban yang ada di pikiran nya.


“Aku benci ... Aku benci semua ini”. Teriak nya mengacak ngacak rambut frustrasi.


“Kenapa semua ini terjadi sama aku ... Kenapa”


“ Aku juga butuh ketenangan. Kenapa terus seperti ini ... Aku lelah. Aku juga pengen bahagia. Ya tuhan ... Apa kau tak mengasihani Aku dan putra ku. Dia masih kecil ,kenapa ia sudah memiliki pemikiran sedewasa itu ”


Lelah menangis ,ia pun mulai menyudahi dan merasa beban pikiran nya sudah lumayan berkurang.


Berjalan memasuki kamar dan kembali menutup pintu balkon ,lalu merebahkan tubuh nya di ranjang dan mulai memejamkan mata ... mencari ketenangan dan melupakan kepahitan walaupun hanya sejenak.


•••


Sementara di kamar. Marcel duduk termenung setelah kepergian momy nya. Ia memikirkan hal yang ia lihat dan dengan tadi.


Ia melihat kerapuhan Tasia. Sungguh! Itu hal yang sangat ia benci. Ia benci air mata sang momy ... Ia benci penyebab air mata terkutuk itu keluar.


Ia membenci orang itu. Ia benci. Sifat nya sangat menuruni dely ,terlebih Sifat nya yang lain ,kejam. Menuruni sang opa ,Reyhan.


Ia tau lika liku perjalanan keluarga nya. Dari A sampai Z. Ia menghitung setiap tetesan air mata yang keluar dari mata indah yang selalu membuat hati nya menghangat itu.


Ia tak pernah membenci sang momy. Momy nya lah yang sudah mengandung ,melahirkan. Walaupun sang momy hanya merawat nya sampai umur tiga bulan. Namun ,setiap kali melakukan panggilan telfon ... Sang momy selalu menyemangati nya ,memberi ia nasehat dan selalu mendukung nya.


Nenek nya pun selalu menjaga dan merawat nya dengan penuh kasih sayang. Nenek nya lah yang bisa menduduki posisi kedua dari dua wanita yang ia sayangi ,Momy nya adalah wanita pertama yang sangat ia sayangi dan cintai.


Sebelum lahir ia selalu bisa merasakan jika sang momy sangat menyayangi nya. Terkadang momy nya selalu mengajak nya bercanda dan banyak mengobrol.


Melahirkan ,yang pasti rasa nya sungguh nikmat. Momy nya hanya bisa berjuang sendiri. Ia tak bisa bayangkan pasti sang momy hanya bisa menggenggam kain sprai untuk penambah kekuatan nya.


Ia bukan merasa kasihan pada momy nya. Ia hanya sangat menyayangi dan tak ingin kehilangan orang yang sudah berjasa dalam hidup nya itu.


Jika dia mengatakan merasa kasihan pada sang momy. Itu bukan lah kata yang benar. Melainkan kata 'Kasihan' bisa saja di ungkapkan dengan cara tidak ikhlas maupun ikhlas.


...••••...


Keesokan hari nya. Marcel sudah bersiap untuk pergi ke sekolah dan di antar oleh sang sopir.


“Ar ,kamu hati hati ya”. Ucap Tasia lembut.


“Iya mom”. Jawab Marcel memandangi sekitar kedua bola mata momy nya yang membengkak walaupun tak terlalu terekspor karena bedak.


“Bekal nya sudah mom taruh di tas mu ,nanti makan dan harus di habiskan. Kalau ga habis tawarin ke temen temen”. Ucap Tasia mengalihkan pandangan putra nya.