
Hari berganti minggu berputar. Kini Agatha sudah berusia tiga tahun. Marcel sudah menyelesaikan pendidikan nya di jenjang smp dan kini ia sudah berada di bangku mengengah pertama di salah satu Sekolah ter elit dan terpopuler yang mengajarkan tata Krama dan etika.
Kediaman Abraham.
Lama tak jumpa. Arka yang tak lain adalah Delard. Kembali ke Mansion bersama seorang gadis bercadar yang di beritahukan adalah gadis yang akan ia nikahi.
Tentu kabar itu mengejutkan semua orang. Dan bahkan Tian sebagai papa pun menuduh anak nya menghamili gadis itu hingga tiba tiba memutuskan nikah.
“Arka sama Aisyah benar benar saling mencintai Pa ,Dan Orang tua aisyah juga sudah menyetujui. Dan juga mereka meminta Papa untuk menjadi wali saat taaruf nanti”. Ucap Arka sungguh sungguh.
“Maaf kalau saya menyela ,Tapi saya dengan mas arka sudah berjanji untuk saling bersama dan mendukung. Jadi Saya sama mas arka izin untuk menghalalkan kan hubungan antar keluarga ini untuk menghindari fitnah”. Terang Aisyah Dengan nada tegas.
Penampilan memang Alim ,tapi untuk sikap kenapa harus selalu alim jika kita butuh ketegasan untuk melawan orang di sekitar agar tak berani menginjak kita.
“Baiklah ,Papa akan atur jadwal untuk menemui orang tua dari Aisyah. Sementara ini Aisyah tinggal di sini saja ,Saat acar di pingit di laksanakan di rumah ini saja. Nanti biar Ars ,arka sama papa pindah ke rumah depan ,jadi Aisyah bisa di sini. Tak apa kan”. Ucap Tian.
“Baiklah saya setuju Om”. Ucap Aisyah.
“Panggil saya papa saja”. Ucap Tian tersenyum.
“Sekarang Aisyah istirahat. Tasia sayang ,antar calon kakak ipar mu ke kamar nya”. Titah Tian pada sang putri yang dari tadi mendengar di samping sang dady.
“Okay dad ,ayuk mbk”. Ajak Tasia tersenyum.
“Iya”. Jawab Aisyah berdiri dan mengikuti langkah Tasia.
Sampailah ia di sebuah kamar yang di desain serba putih dan biru muda dengan barang serta fasilitas lengkap di dalam nya.
“Ini kamar mbk ,Oh ya kenalin nama aku Tasia”. Ucap Tasia mengulurkan tangan.
“Iya ,kamu udah tau nama mbk kan. Aisyah”. Ucap Aisyah tersenyum di balik cadar nya.
“Momy ,Adik nangis”. Teriak Marcel dari dalam kamar.
“Aku ke kamar dulu ya mbk”. Pamit Tasia tergesa gesa menuju kamar nya.
Aisyah yang kebingungan tak ambil pusing dan langsung memasuki kamar nya ,lalu meletakkan koper yang ia bawa dan merebahkan tubuh di kasur dengan sprai warna putih itu.
...
Sementara di kamar. Agatha yang baru saja selesai mandi pun sekarang bermain bersama sang momy. Sedangkan kakak nya sedang mandi ,gantian.
“Ututututu ... Cantik nya momy udah wangi ya”. Ucap Tasia menggendong sang putri.
“Kita keluar yukk ... Cantik nya momy kenalan dulu sama calon tante nya yah”. Ucap Tasia membawa putri nya keluar.
Kebetulan ,di saat ia keluar ia berpapasan dengan Aisyah yang sedang lewat.
“Lohh Tasia ,Anak siapa ini lucu sekali”. Tanya Aisyah melihat kelucuan Agatha.
“Ini putri bungsu aku mbk”. Jawab Tasia.
“Cantik sekali ,Boleh gendong ga”. Tanya Aisyah seakan terpesona pada anak berusia tiga tahun di depan nya itu.
“Boleh dong ,Ayo sayang sama tante Ais dulu”. Ucap Tasia memberikan Agatha ke Aisyah dan menggendong nya.
“Aku titip dulu ya mbk. So'al nya mau mandi kebetulan aku belum sempat mandi. Nanti kalo mbk kesusahan kasih ke opa ,kak arka atau kakak nya aja”. Ucap Tasia.
“Jadi kamu punya dua anak”. Tanya Aisyah.
“Iya mbk ,Yaudah aku mandi dulu ya. Sayang ... Jangan rewel ya ,Mom mandi dulu okay”. Ucap Tasia mengecup pipi gembul putri nya.
“Tenang aja ,Mbk bawa ke halaman depan ya sekalian nikmati waktu sore”. Ucap Aisyah.
“Iya mbk ,gapapa”. Jawab Tasia melangkahkan kaki memasuki kamar dan memulai aktifitas mandi nya.