
Langit sudah menunjukkan kegelapan nya. Bintang bertebaran menerangi bumi. Seorang gadis sedang terlelep di pangkuan seorang wanita yang tak lain adalah sang momy.
Tasia menggendong putri nya secara perlahan. Menuruni rumah pohon yang dari tadi sore ia huni. Dengan langkah sang hati hati. Tasia berjalan ke arah kamar nya dan meletakkan tubuh sang putri di kasur.
Tersenyum ,memandangi wajah polos yang sudah tiga tahun menemani dan memberi nya kebahagiaan. Ia tak ingin ada yang menyinggung tentang asal usul putri nya. Ia tak ingin putri nya di beda bedakan dengan yang lain atau putra kandung nya sendiri.
Dia sangat menyayangi putri kecil nya. Putri yang memberi ia kebahagiaan dan ketenangan batin. Ia tak ingin mengetahui asal usul putri nya ,yang paling penting adalah Agatha hanya putri nya dan dia sangat menyayangi Agatha dengan setulus hati.
Keberadaan Agatha tentu membawa kebahagiaan tak terhingga di hidup tasia. Hingga ia dapat memastikan ,siapa pun yang menyinggung atau menghina sang putri maka orang itu akan di beri hukuman dari tasia sendiri.
...••••...
Hari selang berganti dan berganti. Tahun pun selalu mengganti kedua huruf nya dari belakang. Tak terasa ,Kini Tasia berusia empat puluh tahun. Dan putra putri nya sudah beranjak dewasa.
“Happy birthday momy sayang”. Ucap Agatha memeluk erat sang momy.
“Ouhhh Makasih cantik nya momy”. Ucap Tasia membalas pelukan sang putri.
“Happy Birthday mom”. Ucap Marcel memeluk sang momy.
“Makasih sayang”. Ucap Tasia saat pelukan nya merenggang.
“Momy udah semakin tua nih ,Kalian juga sudah pada dewasa. Ar ,kamu ga mau menjalin rumah tangga. Kamu sudah besar dan umur kamu juga hampir kepala tiga. Mom sudah kepengen gendong cucu lo ar”. Ucap Tasia pada Sang putra.
“Iya tuh ,Ag juga pengen dapet ponakan. Ga capek apa jomblo terus”. Sambung Agatha terkekeh.
“Ar belum siap mom ,Lagian ar masih pengen fokus ke perusahaan dulu”. Ucap Marcel tanpa memperdulikan ejekan sang adik.
“Yasudah lah”. Ucap Tasia pasrah.
“Selamat ya putri dady”. Ucap Tian yang baru saja datang bersama Arsya.
“Makasih dady”. Ucap Tasia mengecup pipi sang dady.
“Putri dady sudah sangat besar ,dan sekarang dady juga semakin tua. Marcel ga pengen punya anak. Opa juga sudah pengen gendong cicit lohh ,mumpung masih tamvan”. Ucap Tian dengan percaya diri nya membuat semua orang terkekeh.
“Tau tuhh ,ga nikah nikah”. Ucap Arsya tak sadar diri.
“Ayi juga belum kan ,Kalo ar mah wajar masih belum kepala tiga. Tapi ,Ayi kan sudah tua kok ga nikah nikah. Masih awet jomblo terus sampe perjaka tua”. Ejek Marcel tak mau kalah.
“Sudah sudah ,marcel sttt ga boleh gitu”. Ucap Tasia melerai pertengkaran kecil itu.
“Selamat dedek besar”. Ucap Arsya.
“Makasih my brother”. Ucap Tasia.
“Kata nya mbk aisyah sudah melahirkan ya pa”. Tanya Tasia.
“Iya semalem kata nya kontraksi ,Oh ya Avi di sini kan”. Tanya Tian yang mengingat cucu ketiga nya itu.
“Ada pa ,lagi tidur di kamar”. Ucap Tasia.
“Anak nya laki laki atau perempuan pa“. Tanya Tasia.
“Kembar dua perempuan dan satu laki laki”. Jawab Tian membuat semua keget.
“Kembar berapa pa”. Tanya Agatha antusias.
“Kembar tiga”. Jawab Tian santai.
“Woahh rekor”. Ucap Agatha asal.
“Sayang”. Tegur Tasia tersenyum dan geleng geleng kepala.
“Nanti sore kita jenguk baby triplets yukk”. Ajak Tasia.
“Setuju”. Ucap Agatha antusias.