Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 08



Sebuah lagu mengalun indah di kamar yang bernuansa putih, sang empunya tengah asyik memilah sepatu mana yang akan ia kenakan hari ini sembari terus mengikuti suara sang penyanyi. Entah kenapa Adhisti jadi menyukai lagu Secret Love milik Little Mix.


Flat shoes sudah terpasang cantik di kaki jenjang nan mulus miliknya, Adhisti melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Bulu mata yang lentik, hidung yang mungil, bibir yang pink karena memakai lipbalm menjadi cirikhasnya. Tak ada make up yang tebal dan berlebihan.


Blouse berwarna putih dan celana panjang hitam sudah melekat pada tubuhnya, dia langsung memakai jam tangan kesukaannya tidak lupa ia semprotkan parfum yang memiliki wangi lembut ke belakang telinga dan lengan bawahnya.


"Beres ... udah cantik tinggal berangkat," ujar Adhisti.


Sesampainya di Narart Adhisti berpapasan dengan Bu Lisa, Adhisti langsung menyapa dan berjalan bersama dengan Bu Lisa menuju Divisi mereka. Di ruangan Rendy tanpa sepengetahuan Raka, Abi Faruq tengah mengorek informasi soal Adhisti. Sebenarnya Umi Dahlia yang memaksa sang suami mencari tahu tentang gadis yang di ceritakan anak bungsunya itu. mulai hari ini juga Abi Faruq sudah kembali ke perusahaan dan Raka sudah kembali mengajar di kampus. Namun, Raka berjanji akan mengurangi jam mengajarnya dan akan sering ke Narart.


Abi Faruq tengah membaca kertas yang berisi data diri seorang gadis. Matanya tetap fokus ke kertas dengan bibir yang sedikit tersenyum.


"Ini yang sahabatmu bilang hanya mahasiswinya? mau main kucing-kucingan dia," Rendy yang awalnya tegang langsung menghembuskan napas lega, ia kira Abi Faruq akan marah karena hal ini ternyata tidak.


Abi Faruq memasukan kertas ke dalam amplop, lalu ia menatap sahabat sang anak sekaligus asistennya.


"Apa Raka sudah memberi tahu kamu soal Attar, Ren?" tanya Abi Faruq.


"Sudah, Bi," Rendy memang memanggil bos nya itu dengan sebutan Abi sama seperti Raka.


"Kapan Attar mulai bekerja di sini?"


"Lusa, Bi. Saya juga sudah menyetujui surat permintaan penetapan mahasiswa magang dari universitas tersebut," tutur Rendy.


Abi Faruq berdiri hendak melangkah keluar dari ruangan sang asisten, tetapi ia urungkan. "Ingat, Ren. Jangan sampai Attar tau kalau dia masuk ke Narart karena campur tangan ayahnya, kamu harus bisa menggiring opini bahwa Attar masuk ke sini karena kemampuan dia sendiri."


"Saya percaya bahwa kamu jagonya soal permainan kata," Abi Faruq berucap sambil menepuk-nepuk bahu Rendy dan memberikan senyum smirk lalu melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.


"Siap, Bos." Rendy memberi hormat layaknya bawahan kepada sang komandan. Ia terkekeh melihat raut wajah Abi Faruq yang sama persis dengan sahabatnya, Rendy jadi membayangkan jika Raka sudah berumur nanti pasti tidak akan jauh berbeda dengan Abi Faruq.


❄️❄️❄️


Jam pulang kantor sudah lewat lima belas menit yang lalu. Namun, adhisti belum menampakan batang hidungnya. Pria di dalam mobil yang berada di sebrang jalan sudah hampir tiga puluh menit menunggu. Ia mencoba menelpon seseorang, tetapi tidak ada jawaban.


Akhirnya ia putuskan untuk masuk ke dalam kantor. Baru memasuki lobby kantor ia berpapasan dengan abinya.


"Mas, sedang apa di sini?" tanya sang abi, sudah seperti pencuri yang ketahuan Raka terkejut bercampur gugup bukan main.


"A-ada urusan sama Rendy sebentar, Bi."


Abi Faruq mengiyakan saja ucapan anaknya, tanpa Raka sadari Abi Faruq mengulas senyum.


"Umi, anakmu sudah mulai berani berbohong hanya demi seorang wanita," gumam Abi Faruq sambil berjalan ke basement.


Raka menuju divisi bussnies development mencari Adhisti yang ternyata tengah berbicara serius dengan atasannya.


Adhisti terlonjak kaget, karena tiba-tiba ada suara pria di depannya. Di ruangan itu memang hanya ada dirinya dan Bu Risa yang tengah asyik membahas kelanjutan cara menarik minat konsumen dengan memasarkan sarung untuk anak-anak.


"Waalaikumsalam Pak, maaf saya tidak tau kalo bapak menunggu saya," Adhisti berucap dengan perasaan yang tidak menentu. Bukan rasa takut seperti biasanya, ada perasaan lain yang membuat Adhisti gugup bertemu Raka. Perasaan yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat dibandingkan dengan biasanya, perasaan senang bercampur gerogi.


"Saya sudah mengirimi kamu pesan," ucap Raka.


Adhisti mengambil ponselnya dan benar saja di sana ada pesan dari nomor yang tidak di kenalnya. Ia langsung meminta maaf, sejak makan siang tadi adhisti tidak memegang ponselnya.


Hari ini memang jadwal Adhisti cek up ke rumah sakit, tetapi seingatnya sang ayah yang akan mengantar. Lalu kenapa bisa Raka yang muncul di hadapannya sekarang, kemana ayahnya.


Setelah menemani Adhisti cek up, Raka mengajaknya untuk mampir sebentar ke sebuah masjid untuk melaksanakan salat Isya sebelum mengantarkan pulang.


"Kamu gak salat?" tanya Raka.


Adhisti menggeleng, "Lagi nggak, Pak. Bapak aja, saya tunggu di mobil," jawab Adhisti.


Raka mengangguk dan mulai melangkah ke masjid, dua puluh menit kemudian saat Raka telah selesai ia langsung berjalan ke arah mobilnya. Namun, saat Raka membuka pintu mobil dia tidak mendapati  keberadaan Adhisti.


Raka mulai di serang rasa panik, apa Adhisti kabur karena ia meninggalkannya terlalu lama. Raka mulai mencari Adhisti ke sekitar masjid, dan ekor matanya menangkap sesosok wanita berambut panjang yang ia kenal tengah duduk di bangku panjang milik penjual bakso keliling di pelataran masjid.


Raka mendekat, lalu duduk di samping si wanita dengan tangan terus mengusap rambutnya.


Adhisti menoleh, langsung di suguhi pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pemandangan seorang pria tampan dengan rambut basah yang terkena air wudhu, sungguh sangat menggoda indera penglihatan milik kaum hawa dan mubazir jika dilewatkan.


Mata itu enggan untuk berkedip, detak jantung pun mulai tidak bisa di kendalikan. Adhisti yakin ada yang salah dengan jantungnya, setiap berdekatan dengan sang dosen kenapa selalu seperti ini. Sengatan-sengatan kecil membuat tubuhnya berkeringat dan merasakan panas dingin.


" Ba-bapak mau bakso?" Adhisti bertanya untuk mengalihkan kecanggungan.


"Boleh ... tapi tunggu, memang kamu boleh memakan makanan seperti ini?"


"Sepertinya tidak boleh, Pak, tapi sejak dulu saya penasaran dengan rasanya. Bisa dibilang ini salah satu keinginan saya sejak kecil, Pak." Adhisti bercerita sambil menyuapkan bakso kedalam mulutnya dengan penuh semangat.


Raka tertegun, ia jadi ingat cerita Pak Pandu saat di kantin rumah sakit tempo hari dengan kata lain hari ini Raka berhasil mengabulkan satu keinginan Adhisti.


Raka tersenyum sebentar, ia tatap wajah gadis di sampingnya terlihat guratan bahagia di sana. Tidak lama kemudian abang bakso datang mengantarkan pesanan milik Raka, pemuda itu menerima dan mulai memakannya.


Perjalanan pulang mereka lalui dengan hening, Adhisti mengeluarkan suara hanya saat memberi tahu jalan, dari situ Raka tahu di mana rumah Adhisti. Cerdik bukan, bagai pepatah sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Raka yang berniat menolong Pak Pandu yang tidak bisa menemani putrinya cek up, malah mendapat bonus makan bersama, mengabulkan satu keinginan gadisnya bahkan mengetahui alamat rumah Adhisti. Rejeki anak soleh memang seperti itu.


Raka menolak dengan halus, saat Bu Maya menawarinya untuk mampir sejenak. Ia tidak enak dan tahu batasan, dia bukan siapa-siapa Adhisti mana berani dia sampai menerima tawaran mampir. Ketika harus satu mobil hanya berdua dengan gadis itu saja, sudah membuat Raka merasa sangat berdosa. Jika abinya tahu bisa-bisa dia di coret dari ahli waris. Ampuni Raka abi, Raka khilaf.


❄️❄️❄️


Selamat berbuka puasa 💙💙💙