Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 05



"Adhisti!" teriak Raka berlari merengkuh tubuh yang sedikit lagi menyentuh lantai.


Memang sejak masuk ke ruangan sang abi, mata Raka tidak pernah lepas dari Adhisti. Saat gadis itu melangkah menuju pintu pun Raka tetap menatapnya, dan ketika Adhisti mulai kehilangan kesadarannya Raka langsung berlari.


"Aduh ini gimana, Mas?" tanya Delia panik.


"Bawa ke rumah sakit. Ayo buruan!" Rendy tak kalah paniknya, Raka dengan sigap menggendong Adhisti dan langsung membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Rendy langsung berlari ke dalam dan sesaat kemudian ia sudah kembali bersama tiga orang petugas dan sebuah brankar. Raka yang masih menggendong Adhisti langsung menidurkannya di brankar lalu ia dan Delia mengikutinya dari belakang, sedangkan Rendy kembali ke mobil dan mencari lahan parkir yang kosong.


Di IGD Raka tak bisa ikut masuk, tetapi tak lama ada seorang perawat yang keluar lalu mendekatinya.


"Bapak suami dari pasien?" tanya si perawat. Tentu saja Raka bingung harus menjawab apa.


"Bukan, saya walinya," jawab Raka. Rasanya ia ingin mengiyakan saat sang perawat tadi bertanya, akan tetapi ia sadar di sampingnya ada sang adik. Jika dia mengiyakan otomatis gadis itu akan melaporkannya kepada sang umi.


"Pasien pingsan sejak kapan, Pak?"


"Setengah jam yang lalu."


"Apa pasien punya riwayat sakit atau ada benturan di kepala saat jatuh tadi?"


"Kalo benturan sepertinya gak ada, tapi dia punya riwayat sakit thalassemia."


"Baik, terima kasih, Pak. Kami akan segera mengecek darahnya," ucap suster, lalu beranjak memasuki ruangan IGD.


Setengah jam kemudian, perawat tadi menghampirinya kembali. Dia mengucapkan kata-kata yang membuat Raka semakin bingung dan cemas, bagaimana tidak perawat itu bilang kalau hasil tes darah Adhisti sudah keluar. Dan transfusi darah sudah bisa dilakukan sejam setelah hasil tes keluar, akan tetapi pihak rumah sakit tidak memiliki stok golongan darah yang Adhisti butuhkan. Cara satu-satunya Raka harus mencari golongan darah yang Adhisti butuhkan ke PMI terdekat dan sekarang Adhisti tengah mengalami penurunan kesadaran.


"Dek, Adek sendirian dulu di sini gak apa-apa'kan?" tanya Raka kepada sang adik.


"Mas mau nyari PMI terdekat dulu," lanjutnya, meski pikirannya sedang kalut Raka mencoba tetap memasang wajah tenang di hadapan adiknya.


"Gak apa-apa, Mas. Asal setelah semua ini beres Mas harus cerita." Delia mencoba mengerti, walaupun di dalam hatinya dia sungguh sangat penasaran.


"Iya ..." Raka tersenyum mengusap ujung kepala adiknya yang di tutupi hijab lalu melangkah pergi, ia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelpon sang sahabat yang entah kemana.


***


Disisi lain rumah sakit Rendy tengah sibuk mencari lahan parkir untuk mobilnya. Entah kenapa parkiran rumah sakit selalu penuh. Padahal ini rumah sakit bukan mall atau tempat wisata.


Ketika mobil sudah terparkir dan hendak keluar, ponsel miliknya berdering. Nampak nama sang sahabat yang muncul di layar. Rendy yang berjalan dengan mata yang fokus menatap ponselnya tanpa sengaja menyenggol seseorang.


"Dimana-mana jalan pake kaki, Neng, bukan pake mata. Cantik-cantik galak bener, kepincut pesona abang baru tau."


Raka bisa bernafas lega, saat jam menunjukan pukul tujuh malam dia mendapatkan golongan darah yang diinginkan. Ia kaget saat mendapati ponselnya berdering dan tampak nama ayah dari Adhisti di layar, pria itu langsung mengangkat dan memberitahu kondisi Adhisti.


Satu jam kemudian transfusi darah sudah bisa dilakukan, Adhisti sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Raka menyuruh Delia pulang bersama Rendy, tetapi adiknya menolak. Gadis itu lebih memilih ikut menunggu di rumah sakit bersama sang kakak.


Raka pamit kepada sang adik, akan ke musola sekaligus kantin rumah sakit untuk membeli makanan, karena ternyata Delia belum memakan apapun sejak siang tadi. Ketika Raka kembali terlihat kedua orang tua Adhisti sudah berada di sana dengan seorang dokter dan seorang perawat.


"HB awalnya berapa?" tanya sang dokter


"6.1, Dok."


"masukkan darah 1 kantor perhari ya, hari ke 3 cek ulang."


"Baik, Dok."


Setelah itu, dokter dan perawat pamit. Delia dan Raka tampak tidak mengerti apa yang dikatakan sang dokter tadi, berbeda dengan kedua orang tua Adhisti yang sudah paham karena tidak sekali dua kali Adhisti seperti ini.


Maya menangis melihat sang anak yang tengah menutup mata, mendekati lalu mengusap lembut kepala anak semata wayangnya.


Kenapa harus kamu, Nak, kenapa bukan bunda saja? Andai bunda bisa menggantikanmu, Sayang. Pasti akan bunda lakukan. Asal kamu terbebas dari segala rasa sakit ini.


Banyak kalimat dalam benaknya, ia juga ingin menjerit sekencang-kencangnya, tetapi yang ia lakukan hanya diam memandangi wajah anaknya dengan air mata yang terus menetes.


Pandu yang tidak tega melihat istrinya menangis dalam diam, lalu mengajak Raka untuk ke luar dari ruangan. Meninggalkan sang istri dan adik dari dosen anaknya.


Kantin rumah sakit adalah tujuan Pandu. Dua pria berbeda usia itu sekarang sedang duduk di sudut kantin yang dekat jendela, Pandu memesan dua cup americano.


Terdengar helaan nafas yang sangat panjang, tetapi Raka tetap diam tak berani membuka pembicaraan. Ia merasa bersalah karena sudah lalai menjaga amanah yang diberikan Pak Pandu bahkan lupa mengabari saat anaknya masuk rumah sakit, pria macam apa Raka ini.


Lima belas menit kemudian Pandu baru membuka mulutnya, dengan wajah yang menunjukkan kesedihan ia mengeluarkan semua sesak di dalam dadanya kepada Raka yang bisa di bilang bukan siapa-siapanya, bahkan bukan pacar atau calon suami dari anaknya.


"Adhisti adalah anak yang periang. Dia nggak pernah ngeluh saat teman-teman seusianya puas bermain, sedangkan dia harus fokus mengikuti pengobatan. Harusnya dia juga bisa ikut bermain bersama teman-temannya," Pandu bercerita dengan wajah yang menunduk menatap cup kopinya.


"Dulu saat masih kecil Adhisti sangat semangat untuk berobat, karena ingin segera sembuh dan bermain dengan teman sebayanya. Tapi lama kelamaan Adhisti yang beranjak remaja mulai lelah berobat hingga ia berusaha menyerah, dan tidak ingin melakukan pengobatan lagi."


Ayah Adhisti yang awalnya menunduk berubah menatap Raka, dia menceritakan semuanya secara detail. Bagaimana dulu Adhisti memiliki cita-cita yang sederhana bahkan membuat list keinginannya jika sembuh nanti, akan tetapi semuanya Adhisti kubur bahkan perihal menikah pun Adhisti sudah memutuskan untuk tidak akan menikah.


Raka hanya menunduk tatapannya tertuju pada americano miliknya. Hatinya teriris mendengar kenyataan tentang Adhisti, rasa ingin menjaga dan melindunginya semakin besar. Rasa ingin menarik Adhisti keluar dari semua rasa sakitnya, rasa ingin mewujudkan semua keinginan dan mimpinya dulu.