Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 22



Salah satu hal yang paling membahagiakan di dunia ini adalah saat kita bisa bersatu dengan seseorang yang kita cintai, begitu pula dengan Raka sepanjang jalan senyuman tak pernah luput dari bibirnya. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu yang cukup lama dan membosankan, berubah menjadi menyenangkan tanpa terasa ia sudah memasuki pintu pagar rumahnya.


Audi R8 miliknya sudah terparkir di carport bersama tiga mobil yang sangat familiar bagi Raka, ketika Raka mengucap salam dan memasuki rumah benar saja di dalam sana dua pemilik mobil tengah mengobrol hangat dengan sang abi.


Raka menyalami kedua orang tuanya dan ikut bergabung.


"Darimana saja, Mas?" Umi Dahlia.


"Rumah sakit, Umi," Raka menjawab jujur.


"Siapa yang sakit, Mas?" Kali ini Abi Faruq yang bertanya.


"Adhisti, Bi."


"Kenapa Attar dan Rendy ada di sini, Bi?" tanya Raka mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Abi yang memanggilnya, Mas. Lusa hari terakhir Attar magang. Abi meminta Attar tetap bekerja di NarArt, tetapi sepertinya Attar lebih suka membuka usahanya sendiri."


Raka mengerti, Attar memang memiliki skill yang bagus dan NarArt membutuhkan orang-orang seperti Attar ini. Namun, kita tidak bisa memaksakan kehendak jiga memang Attar tidak ingin bergabung dengan NarArt. "Kamu bisa datang kapan saja ke NarArt jika berubah pikiran, jangan pernah malu karena NarArt akan selalu memiliki tempat untukmu kapan pun, Tar," ucap Raka tegas.


"Siap Pak Bos. Thanks ya, Mas," jawab Attar. Raka tersenyum mengangguk.


"Emm, ada yang ingin Raka sampaikan kepada Abi dan Umi," tutur Raka.


"Apa itu, Mas?"


"Emm ... besok malam bisakah Abi melamarkan Adhisti untuk Raka?"


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya, Le." Umi Dahlia sangat bahagia hingga menitikkan air mata, ia langsung memeluk putra sulungnya.


"Benarkah ini, Mas?" tanya umi masih tidak percaya.


"Nggih, Umi." Raka menyeka air mata sang umi seraya tersenyum.


"Alhamdulillah, jika begitu besok malam kita semua akan ke rumah gadis pilihanmu itu, Mas." Abi Faruq bersyukur akhirnya Raka menemukan tulang rusuknya, meski bukan wanita pilihannya. Namun, Abi Faruq ikut bahagia atas kebahagiaan putranya.


"Alhamdulillah, besok kita shopping ya, Umi. Biar Adek yang bikin hantarannya, Adek janji bikin yang cantik." Adelia sangat bersemangat.


Attar dan Rendy pun ikut berbahagia dengan kabar gembira yang Raka bawa, tak sia-sia Rendy berakting tempo hari akhirnya sang sahabat bisa juga mendapatkan wanita pujaannya.


Akhirnya malam itu keluarga Abi Faruq beserta Attar dan Rendy membicarakan tentang acara lamaran Raka.


"Lo mau lamaran aja ribet banget, Ka." Akhirnya Rendy mengeluarkan suara karena sudah pusing mendengarkan Raka dan Delia yang berdebat tentang hantaran.


Raka yang ngotot tak ingin membawa hantaran karena besok mereka akan melamar di area rumah sakit, sedangkan Delia yang tetap ngotot ingin membawa hantaran meski lamaran itu di rumah sakit.


"Gimana kalo langsung nikah besok aja, Mas?" Attar memberi saran.


"Gila! lo kira apaan nikah besok?  nyelup doangan mah bisa besok juga. lah ini mah nikah mana bisa besok, Tar. Lo ngasih ide yang beneran dikit, bos lo belon ngurus-ngurus surat ke KUA." Rendy di buat emosi oleh ide Attar.


"Buktinya ayah sama bunda gue bisa. Bang Rendy mikirnya celupan mulu," celetuk Attar.


Raka dan Abi Faruq langsung terbahak mendengar ucapan Attar.


"Kamu gak akan bisa menang berdebat dengan anak si batu, Ren." Abi Faruq jadi teringat dengan si batu yang diberi nyawa sahabatnya.


❄️❄️❄️


Ba'da Asyar Abi Faruq, Umi Dahlia, Raka dan Rendy sampai di rumah sakit tempat Adhisti dirawat. Delia tidak ikut karena ada urusan, lebih tepatnya ia masih merajuk karena pada akhirnya Umi Dahlia memutuskan tak membawa hantaran karena kondisi Adhisti pun sedang tidak baik.


Rendy pamit sebentar dengan alasan ingin memeriksa mobilnya, akan tetapi bukannya ke basement rumah sakit Rendy malah pergi ke sebuah ruangan yang bertuliskan dokter gigi. Ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu lagi, seseorang di dalam sana terkejut melihat kedatangan Rendy.


"Sedang apa kamu di sini? Hobby banget bikin aku kaget." tanya sang wanita dengan senyuman yang sangat menawan.


"Aku merindukanmu, makanya aku kemari."


"Cih dasar pria gila," umpat sang wanita, akan tetapi ia tidak bisa menutupi pipinya yang merona karena gombalan Rendy.


"Aku gila juga karenamu." Rendy terus meluncurkan aksinya.


"Sudahlah, Ren. Aku tidak akan tergoda oleh gombalan recehmu itu," tutur wanita yang duduk di balik meja dengan papan nama miliknya yang bergelar dokter gigi.


"Ayo lah Bellin, sampai kapan kamu menggantungkanku begini? Aku benar-benar menyukaimu, Aku tidak ingin hanya menjadi teman seperti ini."


Bellin hanya terkekeh melihat Rendy yang merajuk memanyunkan bibirnya, jujur saja Bellin juga menyukai Rendy hanya saja ia ingin mengetahui seberapa besar rasa cinta Rendy padanya.


Di lain ruangan Abi Faruq tengah menyampaikan maksud dan tujuan keluarganya datang, setelah Pandu menerima lamaran itu akhirnya kedua belah pihak langsung menentukan tanggal pernikahan Raka dan Adhisti.


"Bagaimana jika Jum'at lusa?" Abi Faruq memberi usul, ia ingin anak sulungnya menikah pada hari Jum'at.


"Saya ikut saja, Pak. Bagaimana baiknya menurut Pak Faruq saja." Pandu ikut saja, karena ia percaya seorang pendiri NarArt ini pasti tahu yang terbaik untuk anak-anak mereka.


"Tapi, Bi. Apa tidak terlalu cepat? Adhisti baru keluar dari rumah sakit. Apa sebaiknya kita undur menjadi Jumat depan saja?" Umi Dahlia yang duduk di samping Adhisti mengeluarkan pendapatnya.


"Benar juga, kalau begitu bagaimana kalau kita langsungkan pernikahan anak kita Jumat depan saja Pak Pandu?" Yang di setujui oleh Pandu.


Hari dan tanggal pernikahan sudah ditentukan dan disepakati bersama yaitu Hari Jumat depan. Raka hanya diam mendengarkan abinya berbicara, sesekali ia melirik gadis yang duduk di apit oleh dua wanita paruh baya itu. Wajahnya sudah tampak segar, tetapi selang darah masih menempel di tangannya mengalirkan sumber kehidupan untuknya.


Abi Faruq beralih menatap Adhisti, "Adhisti, mahar apa yang kamu inginkan, Nak? Insya Allah Raka akan memenuhinya untukmu."


Mau tak mau Adhisti mengangkat wajahnya. Sedari tadi gadis itu menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti udang goreng, Adhisti menengok ke arah Raka yang di balas anggukan oleh pria itu.


"Bismillahirrahmanirrahim, aku memiliki dua permintaan, Abi." Suara Adhisti bergetar karena menahan tangis dan gugup.


"Apa itu, Nak? Katakanlah."


"Pertama, aku meminta seperangkat alat salat untuk maharku. Dan yang kedua, aku meminta sebuah gamis syar'i putih lengkap dengan kerudungnya sebagai permintaan di luar mahar."


"Masya Allah, bagaimana Mas apa kamu bisa mengabulkan kedua permintaan calon istrimu?" Abi Faruq beralih menatap anaknya.


"Insya Allah siap, Bi."


❄️❄️❄️