
Mobil silver milik Abi Faruq tengah melaju membelah jalanan ibukota menuju bandara internasional Soekarno Hatta, hari ini tepat seminggu setelah percakapannya dengan sang abi di teras depan rumah mereka.
Di sampingnya terlihat seorang gadis imut berhijab dusty tengah menatap lurus ke depan, sedangkan di kursi belakang abi duduk bersisian dengan umi yang tengah memberi wejangan kepada sang adik sepanjang jalan hingga mereka tiba di bandara.
"Inget ya, Dek pesan Umi ... jaga diri baik-baik saat Umi dan Abi gak ada." Umi Dahlia masih saja memperingati anak gadisnya meski sekarang sudah waktunya mereka cek-in. Ini bukan kali pertama untuk Umi Dahlia dan Abi Faruq meninggalkan anak gadisnya, tetapi rasa khawatir tentu selalu ada di hati umi.
"Sudah, Umi, sudah ... Insya Allah mereka akan saling menjaga, lagi pula ada Raka yang pasti akan jagain Delia. Abi sama umimu pergi dulu ya ... Assalamualaikum,"
Abi Faruq mengulurkan tangannya dan di sambut oleh kedua anaknya.
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Abi Umi," ucap keduanya, Sambil bergantian mencium tangan orang tuanya.
Saat kembali ke mobil Raka teringat jika abinya sudah tiga hari tak datang ke perusahaannya, itu berarti hari ini dia yang harus ke kantor untuk memantau dan tentunya melihat keadaan seseorang.
"Mas mau ke kantor abi sebentar, Adek mau Mas antarkan kemana?"
"Adek ikut aja, Mas, cuma sebentar kan?, Adek gabut di rumah sendirian."
Raka melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, sebentar lagi sudah waktunya azan Dzuhur. Lebih baik dia mengajak sang adik makan siang di salah satu kedai atau cafe terdekat dan melaksanakan kewajibannya, setelah itu baru ke kantor sang abi.
"Kita cari tempat makan dulu, sebentar lagi juga udah masuk waktu dzuhur," ucap Raka, dan hanya mendapat anggukan dari Delia.
Sikap Delia tak jauh berbeda dari sang kakak berbicara hanya seperlunya saja, namun ketika dia kesal suara cempreng itu tak akan berhenti berbicara hingga rasa kesalnya hilang, dan itu hanya ia tunjukan kepada sang umi, abi dan juga Masnya.
Setelah makan siang, melakukan salat Dzuhur dan sedikit bermacet-macetan akhirnya kedua anak Abi Faruq sampai di Narart Company.
Raka dan Dela mulai memasuki lobby kantor dengan berjalan bersisian, petugas resepsionis dan semua karyawan yang berpapasan mencoba menyapa mereka dengan menyapa, memberi salam bahkan memberikan senyuman. Namun, hanya Delia yang memberi senyuman sebagai tanda balasan untuk sapaan mereka, Raka? Jangan di tanya, dia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi dan terus berjalan hingga ada seseorang menabrak dadanya.
Dukk ...
"Aduh! Maaf, saya tidak sengaja ... saya minta maaf," cicit seseorang yang menabraknya.
Pupil mata Raka tiba-tiba melebar saat mengetahui siapa yang menabraknya. Sedikit tersenyum lalu berubah datar kembali.
"Kenapa kebiasaan kamu tidak pernah berubah? memangnya sekarang sepatu sudah bisa diajak bicara?" Raka membuka suaranya ketika melihat Adhisti meminta maaf dengan cirikhasnya yaitu menunduk tak berani menatap lawan bicaranya.
"Hah?" Adhisti mendongak mendengar suara bariton dan kata-kata yang tak asing di telinganya, dalam keadaan seperti ini Raka bisa leluasa menatap wajah cantik di depannya yang mulai memucat.
Baru seminggu dia magang disini kenapa bisa sangat pucat? pekerjaan apa yang di berikan Rendy padanya?
Tatapan Raka langsung berubah tak lagi datar seperti tadi, nampak jelas kemarahan di raut muka Raka. Niat hati ingin mengamati bagaimana sang mahasiswi bekerja, tetapi yang didapati Raka adalah wajah pucat yang terlihat lelah dengan kulit mulai kekuningan. Ia kepalkan tangannya, lalu melirik sang adik.
"Dek, kamu ajak dia ke kantin atau ke ruangan abi ya, Mas ada urusan sebentar," perintah Raka dingin dan tak terbantahkan.
Dia melangkah pergi ke arah lift meninggalkan Adhisti dan Adelia yang heran melihat Raka tiba-tiba berubah marah.
Sepanjang jalan pria itu merutuki sikap lalainya. Kenapa bisa kulit Adhisti berwarna kekuningan seperti itu, apa dia belum transfusi darah? Bagaimana jika Pak Pandu mengetahuinya, Bagaimana jika sampai Adhisti drop? Isi kepalanya sekarang penuh oleh Adhisti dengan segala pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya.
Didepannya sekarang sudah tampak pintu coklat bertuliskan sekertaris, tanpa mengetuk ia langsung membuka pintu terlihat seorang pria yang tengah menerima telepon dan duduk di kursi kerjanya.
Pria itu memakai kemeja berwarna maroon serta jas hitam dan celana hitam yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Rambutnya di sisir rapi dan nampak basah oleh gel rambut. Ditambah wajah yang tampan bak Robert Pattinson Bagaimana wanita tak tergila-gila jika sang pemangsanya berpenampilan semenarik ini.
Dia menyambut sahabatnya dengan senyuman yang sangat manis, apa dia tak tahu kalau sahabatnya sekarang sudah berubah menjadi singa yang kelaparan dan siap mencabik-cabiknya. Kenapa dia begitu santai padahal Raka sudah menunjukan wajah tak ramahnya?
"Assalamualaikum, orang yang sedang jatuh cinta sampai lupa mengucap salam. Kalo umi tau lo pasti dimarahin." Rendy menampilkan senyum smirk.
Raka tetap menatap tajam pria di depannya, sama sekali tidak terpengaruh oleh lelucon yang di buat-buat sahabatnya. Perasaan marahnya masih butuh di lampiaskan lebih tepatnya pria itu butuh penjelasan.
"Pekerjaan apa yang kamu berikan kepada dia?" tanya Raka langsung to the point, dia saat ini sedang tidak ingin berbasa-basi.
Rendy yang tau arah pertanyaan Raka tampak mengerutkan dahinya, ternyata benar gadis itu yang sudah menarik Raka dari zona nyamannya. Namun, yang membuatnya bingung kenapa Raka marah? apa yang membuatnya marah? siapa yang membuat Raka marah? Apa dirinya? Tetapi apa salahnya sampai Raka marah padanya, padahal ia telah menempatkan gadis itu di bagian yang Raka inginkan.
"Bagian businnes development sesuai keinginanmu, lalu apa yang salah?" Rendy mulai berjalan mendekati Raka. Mengajak sang sahabat duduk.
"Nanti gue panggil kesini. Come on, Ka, kamu baru datang ke sini dan langsung marah-marah gak jelas gini cuma gara-gara gadis itu? Bu-cin," ejek Rendy. Dia sungguh sangat kesal, kemana hilangnya Caraka Nararya yang menyikapi segala sesuatu dengan tenang tanpa emosi. Yang di depan matanya saat ini sungguh bukan sahabatnya.
"Siapa yang bucin?" tanya Raka tak terima jika pria di depannya itu menyebutnya bucin.
"Lo lah, siapa lagi? masa iya cicak yang sembunyi di balik lemari." Rendy mulai memutar matanya, merasa jengah dengan Raka. Sudah ketahuan masih tidak mau jujur.
"Bukan begitu, tetapi dia berbeda." Raka mencoba terbuka kepada Rendy. Mungkin setelah Rendy tau dia bisa ikut mengawasi Adhisti, karena Raka tak mungkin bisa mengawasi setiap hari. Adakalanya dia harus ke kampus, apalagi saat nanti abinya sudah pulang dia tak punya alasan lagi untuk bisa seenaknya datang ke perusahaan ini.
"Iya dia berbeda. Dia sedikit diam dan penurut, pasti umi akan suka. tidak seperti perempuan yang mengejarmu dulu. Selalu bikin umi sakit kepala." Rendy salah menafsirkan ucapan Raka.
"Dia berbeda karena suatu hal, Ren." Raka mulai menceritakan semua yang ia ketahui dari Pak Pandu tanpa terkecuali.
"Jadi, lo peduli karena rasa suka atau sekedar rasa kasian?"
"Entahlah, aku tidak tau." Raka menghela nafas panjang. Dia tidak mengerti tentang rasa pedulinya pada Adhisti, jika boleh jujur Raka belum pernah merasakan rasa itu sebelumnya.
"Jangan jadi pengecut men, jangan pernah kasih harapan kalo lo belum paham dengan perasaan sendiri. Gue cuma bisa bilang Berhenti dari sekarang kalo memang rasa lo hanya sekedar kasian. Karena dia sama sekali gak butuh rasa kasian dari lo, dan bertahan sampai akhir jika memang rasa lo bener-bener tulus. Kasih dia support, lo harus selalu ada untuknya meski mungkin kedepannya jalan kalian takkan mudah dan lo harus siap jika kapan saja Mas Izrail mengajaknya pergi." Rendy menepuk bahu pria yang tengah termenung memikirkan ucapannya.
"Tapi ... sebelum lo melakukan semuanya, yang harus kamu lakukan saat lo sudah sadar dengan perasaan lo nanti adalah bilang ke dia kalo lo suka sama dia. Berani gak? Di jamin lo gak akan berani. Haha."
Sesi curhat berjalan lumayan lama hingga dua jam, entah apa yang di bicarakan dua pria itu hingga memakan waktu begitu lama.
Satu jam yang lalu, Bu Risa keluar dari ruangan Rendy dengan lemas. Bukan tanpa sebab wanita yang sudah berkepala tiga sampai seperti itu, tiga puluh menit dia di interogasi di dalam ruangan Rendy.
Macam tersangka yang telah melakukan kejahatan Bu Risa tak bisa berkutik, bahkan saat menjawab pertanyaan dari Rendy pun terdengar gemetar. Tatapan seseorang di samping asisten Abi Faruq itu terlalu mengintimidasi begitu tajam dan dingin, yang membuatnya begitu gugup.
❄️❄️❄️
Di ruangan Abi Faruq terlihat dua gadis yang usianya hanya terpaut beberapa tahun tengah duduk bersebrangan. Hawa canggung menyeruak mengisi seluruh ruangan yang begitu luas.
Adhisti diam karena bingung harus mulai percakapan dari mana, sedangkan Delia tengah sibuk memainkan ponselnya untuk mengalihkan perhatian. Dalam benaknya penuh tanda tanya, siapa wanita ini kenapa sang kakak menyuruhnya membawa dia ke ruangan abi.
Ckleeek ...
Suara pintu terbuka membuat Adhisti dan Delia refleks menengok ke arah pintu secara bersamaan. Terlihat Raka dan Rendy masuk ke ruangan.
Raka langsung mendudukan diri di samping sang adik dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Adhisti, lalu di ikuti Rendy yang duduk di samping Raka.
"Kenapa muka kamu?" Raka langsung bertanya, ia sudah ingin menanyakan hal itu sedari tadi. Sungguh Raka sangat khawatir melihat wajah Adhisti yang pucat.
"Hah?" Alih-alih menjawab, hanya itu yang keluar dari mulut Adhisti.
"Huh-hah, huh-hah, kalo kakanda nanya itu dijawab, Neng." Rendy yang gemas langsung refleks berbicara seperti itu, dan langsung mendapat injakan di kakinya dari Raka. Rendy hanya meringis menahan sakit, tidak mungkin dia sampai berteriak hanya karena kakinya diinjak Raka bisa-bisa turun harga dirinya di depan Delia.
Adhisti yang melihat Rendy berbeda 180 drajat makin bingung, biasanya laki-laki itu cool dan tak banyak bicara. Kenapa saat di depan dosennya dia begitu nyeleneh. Dan lagi siapa sebenarnya Pak Raka, kenapa bisa ia berada di kantor ini, dan bisa seenaknya membawa dia ke ruangan direktur.
"Sa-saya tidak apa-apa, Pak," jawab Adhisti. Ia tidak mau sampai orang-orang tau penyakitnya, ia bahkan sudah memakai foundation untuk menyamarkan pucat di wajahnya. Namun, kenapa Pak Raka masih saja mengetahuinya.
Seharusnya memang dia sudah melakukan transfusi darah dari tiga hari yang lalu, akan tetapi karena sibuk mengurus sekripsi dan juga sedang magang Adhisti selalu bilang nanti saat orang tuanya mengajaknya untuk ke rumah sakit. Karena tak mungkin ia datang terlambat ke kantor atau bahkan bolos.
Pandu dan Maya sudah sangat khawatir dan selalu memaksa Adhisti untuk meminta izin saja. Bahkan Pandu sendiri sudah hendak menelpon Raka, tetapi anaknya selalu meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa. Dia kuat, dia masih bisa menahannya.
"Hm, ya sudah kamu bisa kembali ke divisimu," ujar Raka. Mempersilahkan Adhisti keluar.
Gadis itu menurut, ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun, saat tangannya baru memegang handle pintu mata Adhisti berkunang-kunang pandangannya sedikit demi sedikit mulai kabur lalu gelap ia tak bisa melihat apapun dan suara teriakan yang awalnya terdengar kencang lambat laun mulai tak terdengar.
❄️❄️❄️
Terima kasih atas like dan komennya❤️ selamat menjalankan ibadah puasa 😘😘😘