Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 13



Orang tua Raka sudah pulang sejak ba'da Magrib, Adhisti sendiri sudah masuk ruang rawat inap sejak ba'da Asyar tadi. Raka dengan setia menemani Adhisti, mengajaknya bicara apapun agar Adhisti tidak merasa bosan.


Ketika orang tua Adhisti sudah datang, Raka mulai menghubungi Rendy agar bisa menjemputnya. Karena ulah Rendy tadi siang, Raka meninggalkan mobilnya begitu saja di cafe. Saat Raka mengakhiri panggilan, tatapan mata Raka dan Pak Pandu bertemu. Ada rasa canggung dan tidak enak pada diri Raka. Pasalnya dia tahu Adhisti calon istri pria lain, tetapi dengan beraninya Raka menemani Adhisti tanpa sepengetahuan calon suaminya. Mengingat kata calon suami hati Raka kembali berdenyut nyeri.


Ia putuskan untuk pamit dari ruangan itu dan berniat menunggu Rendy di luar saja. Namun, sebuah tangan mungil memegang lengan Raka yang terbalut kemeja. Raka yang penasaran menengok, ternyata tangan Adhisti yang menahannya.


"Terima kasih sudah menemani saya, Pak. Tolong sampaikan juga rasa terima kasih saya kepada umi, karena sudah mau menceritakan hal-hal luar biasa kepada saya bahkan ikut menemani saya sampai Magrib," ucap Adhisti dengan wajah yang sudah kembali memancarkan kesegaran, Raka hanya membalas dengan anggukan. Ia sudah tidak sanggup mengeluarkan suara dari mulutnya. Ada rasa senang karena Adhisti sudah mulai terbuka padanya, tetapi rasa sakit yang tidak bisa di gambarkan lebih mendominasi.


Belum sempat Raka menjauh dari ruang rawat Adhisti, Pandu sudah mengikuti dan memanggilnya.


"Terima kasih Pak Raka selalu membantu saya untuk menjaga putri saya," ucap Pandu. Pria paruh baya itu seperti hendak berbicara, tetapi ragu.


Raka yang melihat ada keraguan di mata Pak Pandu langsung berucap, "Katakan saja, Pak, jika saya bisa Insyaallah akan saya bantu."


"Dua bulan yang lalu saya pergi ke pesantren guru saya, Pak. Saya membawa Adhisti untuk dikenalkan dengan putra pemilik pesantren, tetapi Adhisti menolak. Ia tetap tidak ingin menikah, saya bingung harus bagaimana?" ujar Pandu.


Ucapan Pandu bagai obat mujarab untuk hati Raka. Seketika aura bahagia terpancar di muka tampannya. Jika tidak malu ingin rasanya Raka berteriak karena saking bahagianya.


"Lalu?" Raka mencoba sedatar dan sebiasa mungkin.


"Saya lihat Adhisti sudah mulai terbuka dengan Pak Raka, apa bapak bisa memberi pengertian kepada anak saya soal pernikahan, Pak? saya kadang berpikir bagaimana jika nanti saya tiada dan Adhisti belum memiliki suami. Siapa yang akan menggantikan saya menjaga dia?" keluh Pandu.


"Jika saya meminta Adhisti untuk saya jadikan sebagai pendamping hidup, apa Pak Pandu akan memberikannya?"


Pandu menatap Raka tidak percaya, namun sorot mata Raka menunjukan bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu? Saya bukannya tidak tahu kamu ini keturunan siapa, dan saya juga menyadari anak saya memiliki banyak kekurangan. Dia bukan anak dari seorang kiayi atau ustaz, dia bahkan tidak menutup auratnya. Apa keluargamu bisa menerima? atau jika nanti hal paling buruk terjadi, bahkan Adhisti tidak bisa memberikan penerus untuk keluargamu. Apa yang akan kamu lakukan? Adhisti sudah sakit raganya sejak kecil, saya tidak mau batinnya juga sakit di kemudian hari."


"Insyaallah saya yakin, Pak. Keluarga saya pun sudah menyerahkan perihal pendamping hidup kepada saya sepenuhnya. Tentang Adhisti yang belum menutup auratnya, do'akan saja semoga Adhisti mendapat hidayah, Pak, karena do'a orang tua sangat mustajab dan soal keturunan itu kuasa Allah, Pak. Kita sebagai hamba-Nya hanya bisa bersabar, berserah dan berusaha yang terbaik." Raka menjawab semua pertanyaan Pak Pandu dengan menatap wajah Pandu. Entah Raka dapat keberanian dari mana bisa berbicara begitu panjang tanpa ada rasa takut sedikitpun.


"Saya sendiri terserah pada Adhisti, semua keputusan ada pada Adhisti."


***


Pagi ini sekitar pukul sembilan, Umi meminta Raka mengantarnya ke rumah sakit. Raka yang sedang fokus pada laptopnya langsung menoleh, di lihatnya Umi Dahlia sudah rapi dengan gamis berwarna abu-abu dan kerudung lebarnya. Di tangan kanannya terlihat paperbag yang menggantung cantik, entah apa Raka sendiri tidak tahu isinya.


"Ayo, Mas!" ajak Umi Dahlia


"Umi ... ini masih pagi, mas juga belum mandi, masih banyak kerjaan," jawab Raka yang masih mengenakan kaos hitam dan celana panjang rumahan.


"Ya udah cepet mandi, terus anterin Umi. Kemarin umi udah janji mau buatin Adhisti cheesecake sama puding bunga telang."


Umi Dahlia dengan setia menunggu anak bujangnya yang sedang mandi, hingga Abi Faruq datang dengan membawa gelas di tangannya.


"Umi mau kemana?" tanya Abi Faruq.


"Umi mau ke rumah sakit, Bi ... boleh kan?"


"Apa Umi memang sudah mantap dengan ini Umi? Abi merasa belum sreg dengan dia."


"Apa yang membuat Abi ragu?"


"Entahlah, Mi, Abi masih berharap Maharani yang menjadi menantu Abi."


"Abi ... Insyaallah dia anak yang baik. Umi sudah merasakannya, dan Insyaallah juga dia yang terbaik. Tinggal bagaimana Raka mau membimbingnya, Bi."


Umi Dahlia mengerti jika harapan Abi Faruq terlalu besar pada Maharani anak temannya yang seorang Hafidzah, siapa yang tidak kenal Ning Maharani yang terkenal dengan hatinya yang lembut, tutur katanya yang sangat halus memang idaman semua orang. Namun, jika bukan takdirnya Raka kita tidak bisa memaksa.


Raka keluar dari Audi R8 miliknya, ia menggunakan kemeja navy dengan celana jeans berwarna gelap sebuah topi hitam ia gunakan untuk menutupi rambutnya. Raka lantas berjalan ke sisi lain mobil, membuka pintu untuk sang umi dan langsung menggandeng tangannya.


Sesampainya di ruang rawat inap Adhisti, Umi Dahlia mengetuk pintu dan langsung mengucap salam. Tampak di sana hanya ada Adhisti dan Bundanya Maya, Adhisti sangat senang melihat kehadiran Umi Dahlia. Entah karena nyaman atau karena terbawa perasaan Adhisti tidak segan langsung mencium tangan dan memeluk Umi Dahlia.


Maya yang melihat kedekatan itu sungguh kaget, Adhisti belum pernah sedekat ini sebelumnya dengan orang lain.


Umi Dahlia langsung memperkenalkan diri kepada Maya. Tidak lama Raka masuk dengan membawa paperbag yang tertinggal di mobil.


"Sudah makan, Nak?" tanya Umi Dahlia


"Sudah, Umi."


"Umi bawakan pudding bunga telang dan cheesecake mudah-mudahan Adhisti suka ya." Umi Dahlia menyodorkan paperbag berisi makanan itu kepada Maya.


"Wahh terimakasih, Bu, Adhisti memang sangat suka cheesecake," tutur Maya.


Tiga wanita itu larut dalam obrolan, sampai melupakan keberadaan Raka yang hanya diam mengotak-atik ponselnya. Adhisti bahkan meminta Umi Dahlia menceritakan kisah Sayyidah Fatimah dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.


"Apa aku bisa menjadi seperti Sayyidah Fatimah untuk seseorang, Umi?" Adhisti tiba-tiba bertanya.


"Kamu tidak perlu menjadi Sayyidah Fatimah hanya untuk mendapatkan seseorang, karena di jaman sekarang tidak ada orang yang seperti Sayidina Ali bin Abi Thalib. Cukup menjadi dirimu sendiri dan biarkan aku yang melengkapimu," ucap seorang pria yang sedari tadi hanya diam menyimak.


❄️❄️❄️