Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 09



Mobil milik Raka berbelok ke arah kanan di lampu merah,yang dekat dengan pintu gerbang kawasan perumahan tempat keluarganya tinggal. Setelah memasukan mobilnya ke dalam carport, Raka berjalan kearah pintu utama.


"Assalamualaikum ...." Raka langsung mengucap salam saat membuka pintu.


"Waalaikumsalam, Mas." Umi Dahlia langsung menyambut anak sulungnya, Raka mencium tangan uminya.


"Udah salat belum, Mas?" tanya Umi Dahlia, karena memang waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Abi Faruq menerapkan larangan menunda-nunda salat kepada anak istrinya.


"Udah, Umi, tadi di jalan. Umi udah makan?" Yang di jawab anggukan oleh uminya.


"Mas izin langsung masuk ke kamar ya, Umi ...." Raka meminta izin lalu berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Jam menunjukan pukul sepuluh malam Raka sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, akan tetapi matanya susah sekali terpejam. Ia sudah beberapa kali merubah posisi tidurnya mencari yang paling nyaman tetap saja tidak menemukannya.


Raka putuskan untuk mengambil wudhu lalu turun mencari sang umi, Terlihat Umi Dahlia tengah mengaji di musola kecil rumahnya. Raka menunggu hingga uminya selesai, lalu dia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan sang umi.


"Ada apa, Mas?" Umi Dahlia mengusap rambut anaknya. Memang benar adanya setiap anak akan selalu menjadi anak kecil di hadapan ibunya.


"Umi ... Apa salah jika Raka menyukai seorang gadis?" Raka berbicara dengan posisi tetap tidur di pangkuan sang umi.


"Le ... Setiap manusia berhak untuk mencintai dan di cintai, bahkan Allah saja menciptakan kita secara berpasang-pasangan. Jadi tidak salah jika kamu memiliki rasa suka atau rasa ingin memiliki, tapi harus dengan cara yang tepat, Le." Umi Dahlia mulai memberi masukan kepada anaknya.


Sebuah senyuman terbit di bibir Umi Dahlia, inilah yang dia tunggu Raka bercerita soal perasaannya.


Tadi sore suaminya memberikan sebuah data diri beserta foto gadis yang bisa membuat Raka berani berbohong dan bermain kucing-kucingan dengan sang suami.


"Abi kurang setuju, Mi. Sampeyan delok iko, arek e ora nutup aurat iku lo." (Abi kurang setuju, Mi ... Umi lihat itu, anaknya tidak menutup aurat). Itulah jawaban Abi Faruq saat Umi Dahlia meminta pendapat.


"Niku saget didandosi toh, Bi, seng paling penting niku larene sae. Abi yoknopo toh, mboten angsal ningali tiyang dugi penampilane mawon." (Itu bisa diperbaiki, Bi, yang penting anaknya baik. Abi gimana sih, ga boleh lihat orang dari penampilannya saja). Umi Dahlia mencoba memberi solusi.


"Terserah umi saja." Abi Faruq menutup pembicaraan.


Dengan masih mengusap kepala Raka, Umi Dahlia sabar menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir putranya.


"Raka bingung umi, Raka harus bagaimana?".


"Istikharah, Le, libatkan Allah dalam setiap langkahmu."


"Nggih, Mi. Abi tetap menyuruh Raka untuk tetap menemui mereka."


"Abimu benar, mau kamu menerima atau menolak kamu tetap harus temui mereka. Bersikaplah sebagai seorang pria bertanggung jawab." Terdengar tarikan nafas Raka yang sangat berat ketika Umi Dahlia membenarkan ucapan suaminya.


"Umi setuju dengan dia?" tanya Raka.


"Siapa?" Umi balik bertanya.


"Adhisti," gumam Raka lirih.


"Bagaimana dia?" Umi tersenyum lagi.


"Dia penakut, terlalu penurut, pendek, sangat mungil, di depan semua orang dia orang yang sangat kuat, tapi sebenarnya dia sangat rapuh, Mi." Raka bercerita dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya.


"Lalu?"


"Dia berbeda umi, dia tak seperti mereka yang mengirimiku CV ta'aruf. Dia hanya wanita akhir zaman yang terlalu jauh melangkah tanpa tau jalan kembali, Mi ... Apa abi akan setuju?"


"Asal anaknya baik. Insyaallah abi akan setuju, Mas."


"Tapi, dia sakit, Mi." Dari nada bicara sang putra yang sangat lirih bisa Umi Dahlia simpulkan bahwa anaknya tengah bersedih.


"Sakit?"


"Iya, Umi," Raka mulai menceritakan sakit yang di derita Adhisti pada sang umi.


"Takdir manusia sudah di atur oleh Allah Le, kematian pun begitu. Kematian tidak akan menunggu orang menjadi baik, jadi ajaklah dia menjadi baik dan tunggulah kematian itu datang."


"Umi percaya dia gadis yang baik, dia akan menurut jika di arahkan dengan cara yang benar. Dan tugas kamu adalah menuntunya kembali mendapatkan jalan, bimbing dia, jadilah guru untuknya bukan hanya dalam hal dunia tetapi juga dalam hal akhiratnya."


"Ingat, Mas! Lakukan dengan cara yang benar. Umi tidak setuju jika Mas mengajaknya untuk berpacaran, kalo Mas memang suka dan yakin. Minta dia langsung kepada orang tuanya untuk di jadikan menantu Umi."


"Inggih, Umi, terima kasih." Raka langsung memeluk sang umi.


❄️❄️❄️


Raka menuruti ucapan sang Umi, sekitar pukul tiga sore Raka pergi ke sebuah pesantren milik teman sang Abi yang berada di pinggiran kota. Di temani Rendy yang memaksa ikut, karena ingin bertanya soal jati diri pada ustaz Anwar. Entah jati diri seperti apa yang Rendy maksud.


Langit tampak murung sejak pagi tadi, tidak ada matahari yang menghangatkan. Awan yang biasanya berseri dengan warna birunya, kini menampakan warna abu yang sendu.


"Kenapa melamun?" tanya Rendy, yang tidak mendapat jawaban apapun dari sahabatnya.


"Bisu ini orang kayanya, lama-lama lo gak asik, Ka. Nggak perlu berlebihan memikirkan masalah. Lo tampan, lo mapan dan keluarga lo juga baik. Jika Adhisti nolak lo di luar sana masih banyak wanita yang mau jadi jodoh lo, santai saja."


Raka refleks menengok Rendy yang sedang menyetir, menghunus tatapan tajamnya. "Sembarangan banget kamu kalo ngomong, jika nanti cintamu ditolak jangan pernah datang padaku,"


"Haha ... siapa yang bisa menolak pesona seorang Rendy, yang tampan mapan penuh karisma ini. Mungkin lo unggul dalam hal ilmu agama tapi ingat gue unggul dalam hal ilmu wanita." Rendy mulai membanggakan keahliannya.


"Yakin sekali anda ini, ah sudahlah bicara denganmu malah membuatku makin pusing," ucap Raka.


"Bucin," ejek Rendy.


"Brisik."


"Bucin."


"Diem, Ren,"


"Ini kenapa langit sedih begini ya?, Hari-hari biasanya cerah kok. apa ini salah satu pertanda ya, Ka?" Raka enggan menanggapi ucapan Rendy yang hanya ingin mengejeknya.


"Udah deh Ka, jangan begitu terus. Kita bereskan masalah di sini dulu. Abis pulang dari sini kita ke mall, beli cincin buat kamu ngelamar Adhisti." Mendengar nama Adhisti hati Raka selalu menghangat. Semoga ia di beri kesempatan oleh Allah untuk memiliki Adhisti.


Ba'da Asyar Raka baru sampai di pesantren milik ustaz Anwar, setelah memarkirkan mobil di pelataran masjid Raka dan Rendy berjalan menuju bangunan di sisi kiri dengan pagar hidup dari tumbuhan bunga bougenville yang terlihat sangat asri.


Tok tok tok.


" Assalamualaikum ...." Raka mengucap salam sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam ... Masya Allah! Bah, Bah ... Abah." Seorang wanita paruh baya membuka pintu langsung kaget melihat kehadiran Raka.


"Ono opo toh, Uma?" terdengar suara dari dalam.


"Niki loh, Bah, wonten Nak Raka, ayo ayo masuk, Nak." Ajak Bu Hasnah istri dari ustaz Anwar.


Raka dan Rendy langsung masuk dan duduk di ruang tamu, tidak berselang lama ustaz Anwar dan anak sulungnya duduk di depan Raka. Bu Hasnah kembali, untuk menyuguhkan teh hangat serta pisang aroma buatan Maharani anak bungsunya. tanpa menunggu lama Raka langsung mengutarakan maksud kedatangannya ke sana.


Raka meminta maaf, karena tidak bisa menerima cv taaruf yang dititipkan kepada abinya tempo hari. Ia tidak tahu jika ada dua orang wanita berbeda usia di balik ruangan itu yang ikut mendengarkan ucapannya.


Pembicaraan mereka dihentikan karena sebentar lagi akan memasuki waktu Magrib, Ustaz Anwar dan Zaki pamit hendak ke masjid untuk melaksanakan salat Maghrib. Raka dan Rendy pun memutuskan untuk ikut berjamaah di masjid pesantren.


Saat keluar rumah, Raka dan Rendy di kejutkan oleh sosok Adhisti yang mengenakan hijab peach dan kedua orang tuanya baru keluar dari mobil. Zaki berlari mendekat ke arah Pak Pandu menyalami lalu berbincang, terlihat jelas kedekatan di antara mereka.


"Maaf Pak, mereka siapa?" Raka memberanikan diri bertanya kepada ustaz Anwar, Raka sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya padahal dia sendiri yang mengucapkan jika rasa penasaran lama-kelamaan bisa menghilangkan nyawa.


"Oh itu keluarga Pak Rahandika, InsyaAllah yang akan jadi calon mertua Zaki, Nak," ucap ustaz Anwar.


❄️❄️❄️