
"Semua judul skripsi kamu ini sudah umum, sudah sering di pakai. Cari judul yang spesifik dan menarik," ucap Raka dengan wajah yang serius ketika ia selesai melihat 3 judul skripsi milik Adhisti.
"Hah? Coba Bapak baca sekali lagi. Masa dari 3 judul itu gak ada yang diterima, Pak. Dari salah satu judul itu bahkan saya udah bikin sampai bab 3, Pak," keluh Adhisti.
"Nggak, itu terlalu biasa dan gak menarik. Kamu jadi mahasiswa harus lebih kreatif, kalau masih mau lulus tahun ini. Saya tunggu judul barunya besok pagi di kantor jam 8." Raka masih bersikukuh menolak judul skripsi Adhisti.
Adhisti langsung lemas, ia sandarkan kepalanya pada meja. Tanpa si gadis ketahui Raka tersenyum samar melihat kelakuan Adhisti, sudah hampir satu bulan mereka tidak bertemu dan tanpa Raka duga Adhisti yang berinisiatif mendatanginya.
"Minum dulu," Raka menyodorkan sekotak susu dengan varian rasa coklat.
"Saya bukan bayi, Pak," omel Adhisti.
"Kata orang coklat bisa mengubah suasana hati seseorang," celetuk Raka.
"Kata siapa?"
"Delia."
"Dan harus kamu ketahui juga. Bukan hanya bayi yang membutuhkan susu," lanjut Raka dengan ambigu. Ia langsung berdiri.
"Maksudnya, Pak?" Adhisti mendongak menatap sang dosen.
"Lain kali saya jelaskan. Saya harus segera kembali, sudah terlalu lama saya meninggalkan umi saya. Apa kamu ingin ikut bersama umi?"
Adhisti langsung menggeleng, ia tidak mau menjadi nyamuk di antara Raka dan calon istrinya." Nggak, Pak. Saya masih ada urusan lain."
"Ok. Hati-hati. Ingat revisi judul skripsimu. Assalamualaikum, Adhisti."
"Iya. Waalaikumsalam, Pak Raka."
Raka pergi dengan seulas senyum hatinya sungguh senang bisa bertemu dan mengobrol bersama Adhisti meski hanya sebentar. Meninggalkan Adhisti yang masih termenung, ia amat sangat menyesali rasa kekhawatirannya terhadap Raka. Konyol sekali Adhisti sampai merasa bersalah dan merasa takut kehilangan, untuk apa ia membuang-buang air matanya percuma hanya untuk seorang Caraka Nararya yang ternyata dalam keadaan baik-baik saja bahkan tengah bersama calon istrinya.
Hatinya sakit sungguh-sungguh sakit entah karena kebohongan Rendy, atau karena Raka yang telah memiliki penggantinya. Bulir bening tak terasa keluar begitu saja dari pelupuk netra indahnya tanpa bisa Adhisti cegah, membayangkan senyuman manis Umi Dahlia dan perhatian yang selama ini diberikan wanita paruh baya itu kepadanya tak akan ia rasakan lagi. Bahkan yang lebih sakit lagi adalah ketika ia melihat Raka bersanding di pelaminan dengan wanita bernikab itu. "apa ini rasanya patah hati, Tuhan?" gumamnya.
❄️❄️❄️
Mobil milik Abi Faruq yang dikemudikan Raka tengah membelah sebuah jalan di pusat kota Jakarta menuju pinggiran kota, di sampingnya tampak sang umi tengah asyik mengobrol dengan dua penumpang yang berada di kursi belakang.
"Ada apa dengan Adhisti, Mas?" tanya Umi Dahlia yang sudah penasaran karena Adhisti datang dengan mata sembab, ia takut penyebab mata sembab itu adalah anak sulungnya.
"Tidak papa, Umi. Dia hanya berkonsultasi tentang skripsinya, Umi tau sendiri Mas sudah jarang ke kampus akhir-akhir ini," tutur Raka.
"Syukurlah, Umi kira Mas membuat masalah."
"Tidak, Umi."
"Adhisti iku sopo, Mbak?" uma dari Maharani bertanya.
"Gadis yang tadi aku ceritakan," jawab Umi Dahlia, Raka melirik sang umi, apa-apaan uminya ini, kenapa sampai diceritakan ke sembarang orang.
"Owalah, iku tah cah wedok seng disenengi Raka, Mbak?"
"Nggih, Mbak, leres. Nedi pandungane mawon, mugi-mugi dilancaraken," jawab Umi Dahlia
Raka pun ikut mengamini dalam hati, semoga ini awal yang baik untuknya dan Adhisti.
Maharani hanya bisa melirik Raka dari sepion, semburat kebahagiaan tidak bisa pria itu sembunyikan. Maharani tak habis pikir apa istimewanya gadis itu sampai bisa meluluhkan hati Raka. Padahal dirinya jauh lebih baik amat sangat lebih baik, tetapi kenapa gadis seperti itu yang Raka sukai? Sebuah pemikiran picik muncul di dalam diri Maharani. Ia harus berbicara dengan Raka, harus.
Mobil disambut oleh azan Maghrib ketika memasuki halaman pesantren, para santri berlarian ketika mendengar panggilan salat yang menggema seantero pesantren. Raka jadi teringat ketika dulu dirinya menjadi salah satu santri di sini, suasana ini yang sering Raka rindukan. Pria itu bergegas turun dari mobil dan berlalu meninggalkan sang umi untuk mengikuti salat berjamaah.
Tiga puluh menit Raka baru menampakkan diri, ia sedikit terkejut ketika mendapati Maharani di samping mobilnya.
"Bisa kita bicara, Mas?" Maharani menatap dalam mata Raka, dari tatapan itu Raka bisa melihat sebuah permohonan.
Awalnya Raka mengajak Maharani mengobrol di teras rumah, tetapi Maharani menolak. Ia mengajak Raka duduk di sebuah bangku yang berada di sekitar masjid. Raka menurut saja, dalam pikirannya semakin cepat Maharani berbicara semakin cepat pula dia akan pulang.
"Ada apa?" Raka memulai percakapan.
"Apa benar yang diucapkan umi tadi, Mas?"
"Soal gadis yang bernama Adhisti," lanjutnya.
"Ya, dia gadis yang kupilih."
"Kenapa?"
Raka menaikan satu alisnya tak mengerti maksud Maharani.
"Kenapa harus dia?"
"Kenapa bukan aku?"
"Kita sudah kenal sejak kecil, Mas juga tau aku menyukaimu dari dulu. Bahkan aku rela pergi ke Qairo dan berjauhan denganmu karena itu syarat dari abahku agar aku bisa memilih jodohku sendiri, dan aku memilihmu, Mas." Maharani meluapkan semua kesakitan yang selama ini ia rasakan.
"Aku minta maaf Maharani, tapi rasaku tak bisa kamu paksakan."
Maharani berdiri di hadapan Raka "Apa istimewanya dia? Apa gadis akhir zaman yang mengumbar auratnya yang kamu inginkan? Jika itu yang kamu sukai aku juga bisa melakukannya." Ia membuka cadarnya dan hendak membuka kerudung lebar yang selama ini menutupi mahkotanya.
"Jangan gila kamu Maharani!" sentak Raka. Ia kaget bukan main atas hal gila yang dilakukan adik sahabatnya ini, Raka terpaksa memegang lengan Maharani yang terbalut gamis untuk menahan aktivitas yang gadis itu lakukan.
"Jangan merendahkan dirimu hanya karena seorang laki-laki akhir zaman sepertiku, Maharani. Aku tak ingin melihat abahmu menangis karena dirimu rela melakukan segala cara hanya demi obsesimu terhadapku. Kamu harus ingat, abahmu mati-matian meninggikan derajatmu agar kamu dikenal sebagai wanita yang baik dalam segala hal. Jangan pernah kamu rusak itu."
Maharani langsung jatuh terduduk di tanah menangis sejadi-jadinya, ia menyesali apa yang baru saja ia lakukan.
Raka berjongkok mengulurkan cadar milik Maharani, "Pakailah, aku tidak ingin ada orang lain yang melihat hak untuk suamimu nanti."
"Sekali lagi aku minta maaf Maharani, sungguh aku tidak bermaksud menyakiti atau memberi harapan palsu padamu. Namun, sejak awal aku hanya menganggapmu sebagai adikku karena kamu adalah adik sahabatku yang harus ku jaga seperti diriku menjaga Delia."
"Dia mungkin memang hanya seorang gadis akhir zaman, tetapi bukan berarti dia tidak memiliki kesempatan untuk berubah," lanjut Raka.
Raka berdiri, "Aku harus pergi sekarang, ku doakan semoga kelak kamu mendapatkan suami yang sangat menyayangimu bahkan meninggikan namamu sampai menembus langit-Nya seperti yang aku lakukan sekarang terhadap wanitaku."
"Meski aku pun masih ragu, apa doaku sudah bisa menembus langit-Nya atau belum," gumam Raka dalam hati