Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 23



"Kenapa kamu meminta dua hal itu, Sayang?" tanya Maya ketika keluarga calon besannya sudah berpamitan.


"Dua benda itu yang akan menemani sisa hari-hariku, membersamainya dalam ketaatan. Insyaallah. Semoga Aku nggak nyusahin Pak Raka, nggak ngebebanin Pak Raka juga. Aku banyak gak taunya dari pada taunya, Bun."


"Masya Allah, Bunda seneng dengernya, Nak. Akhirnya kamu mau membuka hatimu. Bunda doakan semoga semuanya lancar, dan rumah tangga kamuย  selalu dalam lindungan Allah. Bahagia selalu ya, Sayang." Maya memeluk sang putri.


"Aamiin, Bun. Aamiin, terima kasih, Adhisti sayang sama Bunda."


"Bunda juga sayang sama kamu, Nak. Sayang banget."


Kamis sorenya Adhisti sudah di perbolehkan pulang, hal yang sangat Adhisti rindukan yaitu bisa berguling-guling di atas ranjangnya sendiri. Ia langsung teringat dengan ponsel miliknya yang sudah tiga hari tak ia sentuh, akhirnya Adhisti mengaktifkannya kembali siapa tahu ada pesan dari seseorang yang sekarang bisa Adhisti sebut calon suami. Ada beberapa pesan singkat yang masuk diantaranya dari grup skripsi dan lain-lain, akan tetapi hingga tiga puluh menit Adhisti menunggu tidak ada satu pun pesan dari Raka.


Ia buka room chat Raka yang terlihat tengah online, apa-apaan Raka ini. Apa ini sikap seorang calon suami? Sangat cuek sekali apa mentang-mentang mereka tidak boleh bertemu jadi mengirim pesan pun tidak Raka lakukan.


Dengan kesal Adhisti mengetik sesuatu, berniat untuk meluapkan kekesalannya tanpa ingin mengirimkannya.


Adhisti:


Apa gak ada ucapan selamat gitu atas kembalinya ke rumah.


Lalu suara ketukan pintu disusul suara Mba Sari yang menyuruhnya turun mengagetkan Adhisti, tanpa sengaja ponsel miliknya jatuh. Ketika sedang mengambil ponsel pesan yang seharusnya Adhisti hapus malah terkirim kepada sang calon suami dan langsung berubah menjadi centang biru.


Adhisti meruntuki kebodohannya, bukannya mendapat balasan pesan singkat Adhisti justru mendapatkan sebuah panggilan video call dari Raka.


Adhisti langsung gugup bercampur bingung. Ia harus menerima atau mendiamkannya, akhirnya karena malu Adhisti mendiamkan saja ponselnya berdering hingga berhenti sendiri. Kemudian tak butuh waktu lama tiga notifikasi masuk berurutan,


Raka:


Assalamualaikum, Adhisti


Selamat beristirahat


Dan sampai bertemu lagi Jumat depan.


Adhisti:


Waalaikumsalam, Pak


Maaf Pak Raka tadi salah pencet.


Raka hanya bisa tersenyum melihat balasan dari Adhisti, ia sebenernya sudah menahan diri untuk tidak menghubungi wanitanya. Namun, malah Adhisti sendiri yang menghubungi Raka.


"Senyum-senyum mulu lo, lama-lama kek orang gila."


"Sirik."


"Dih ngapain gue sirik sama lo? Teh gue udah sering nyelup." Rendy melirik dua buah paperbag berlabel butik pakaian muslimah yang terkenal di Jakarta.


"Si Adhisti aneh banget, kenapa cuma minta baju sama alat salat? Kenapa gak minta berlian gitu atau saham NarArt misalnya, masa iya mau nikah maharnya cuma alat salat sama baju. Apa dia gak tau sekaya apa calon suaminya?"


Raka hendak menimpali ucapan sang sahabat ketika pintu ruangan terbuka, Abi Faruq masuk dan ikut duduk di sebelah Raka.


"Apa Attar sudah kesini?"


"Belum, Bi."


"Hari ini dia terakhir magang kan?"


"Nggih, Bi. Mungkin sedang keluar sebentar."


Abi Faruq sengaja datang ke NarArt karena hari ini Attar akan berpamitan padanya, selang beberapa menit pintu terbuka menampakan orang yang tengah Abi Faruq cari melenggang masuk dengan mengucap salam dan membawa beberapa keresek makanan. Abi Faruq tak segan langsung memeluk Attar ia sudah mendengar cerita anak tersebut dari ayahnya, Abi Faruq sangat kagum pada Attar.


Lama mereka berbincang dan mengahabiskan waktu bersama, salat magrib dan isya serta makan malam pun mereka lakukan di ruangan itu. Ketika Attar hendak pulang ia menyalami Abi Faruq dan mengucapkan rasa terima kasihnya.


Attar sempat-sempatnya menggoda Raka saat berpamitan, "Thanks ya, Mas. Besok kalau nikah undang gue. Tapi souvernirnya jangan permen yang harga seribu dapet empat itu, yak." Raka hanya bisa terkekeh.


"Tenang aja, Bos lo sovenirnya mini gold ntar, awas lo kalo gak dateng!" timpal Rendy.


Pintu utama terbuka di iringi ucapan salam dari Abi Faruq dan sang putra sulungnya, terlihat Umi Dahlia dan putri bungsu beserta empat pekerjanya masih sibuk mengurusi undangan yang hendak disebarkan lusa. Awalnya Raka menolak keras acara resepsi karena takut Adhisti akan kelelahan, akan tetapi Umi Dahlia memberi Raka pengertian dan berjanji resepsi ini tidak akan membuat Adhisti lelah.


"Menjadi ratu sehari adalah impian setiap wanita, Mas. Apa Mas ingin mengubur keinginan Adhisti hanya karena rasa khawatir Mas yang berlebihan?" Itulah jurus jitu yang Umi Dahlia pakai untuk meluluhkan benteng pertahanan Raka.


"Kinten-kinten, sinten mawon ingkang bade di undang, Bi?" (Kira-kira siapa saja yang mau di undang, Bi?) tanya Umi Dahlia kepada sang suami


"Cukup kerabat karo sahabat cidek wae, Mi."


Dan akhirnya sudah di putuskan untuk acara resepsi hanya untuk kerabat dekat dan sahabat dari kedua keluarga saja.



Jakarta, 22 Februari 20xx


Sejak pagi udara Jakarta sangatlah bersahabat, tidak terlalu panas dan juga tidak mendung. Jumat pagi di kediaman keluarga Raka maupun kediaman keluarga Adhisti sama-sama di sibukkan dengan persiapan pernikahan.


Lantai satu menjadi teritorial Umi Dahlia yang menjadi komandan, meminta bantuan beberapa kerabat dan sahabat Abi Faruq untuk menghias berbagai macam hantaran. Terlihat Uma dari Maharani dan Bunda Bumi beserta kedua menantunya ikut membantu Sedangkan di lantai dua Delia, Rendy dan Attar yang menjadi penguasa, mereka dengan kompak menghias kamar Raka, meski Raka melarang Delia tetap melakukannya.


Raka yang pusing melihat semua itu hanya bisa menyepi duduk menyendiri di dekat kolam ikan, hatinya sungguh tak tenang ada kegugupan yang luar biasa bergemuruh di dadanya. Seluruh kegiatan di rumah Raka berhenti ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang, Raka lebih memilih mandi lalu pergi ke masjid kompleks perumahan untuk melaksanakan salat Jumat daripada harus mendengar ocehan sang adik.


Raka diam duduk bersila dengan mata yang terpejam, bibirnya terus bergerak mengucapkan kalimat dzikir. Ia harus bisa mengontrol kegugupannya, tetapi belum juga berhasil. Satu tepukan di bahunya membuat Raka membuka mata, tampak sang abi yang tengah tersenyum menatapnya di susul Om Akash dan beberapa sahabat serta kerabat lainnya.


"Santai, Mas," ucap Abi Faruq.


"Iya, Ka. Rileks aja jangan di bikin stres. Insya Allah lancar," Om Akash ikut menyemangati.


"Inggih, Bi, Om," jawabnya sambil membungkukkan badan.


Ba'da Asyar keluarga Raka sampai di kediaman Adhisti yang disambut dengan suka cita, terlihat satu meja berada di tengah ruangan tempat untuk Raka mengucapkan janjinya kepada Allah atas diri Adhisti.


Wangi bunga melati yang masih segar menyeruak di seluruh ruangan, lantunan ayat suci Al-Quran yang tengah di bacakan oleh Zaki menandakan acara ijab qabul akan segera di mulai.


Raka sudah duduk berhadapan dengan Pandu yang hanya bersekat sebuah meja kecil, di atasnya terlihat sebuah mahar yang Adhisti minta dan sekotak cincin yang Delia persiapkan. Jika di tanya kenapa hanya ada sebuah mahar, lalu kemana satu laginya? Raka pun bingung, ia hanya membeli lalu menyerahkan kepada sang umi.


"Bagaimana apakah acara inti sudah bisa di mulai?" tanya ustaz Anwar sebagai perwakilan dari keluarga Raka.


"Silahkan, Pak." jawab semua orang.


Ustaz Anwar menyuruh Raka menjabat tangan sang calon mertuanya, dengan mengucap bismillah Raka menurut menyambut tangan Pandu.


"Ananda Caraka Nararya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Tisyabina Adhisti Rahandika binti Pandu Rahandika dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai." Pandu mengucapkan kalimat ijab itu dengan suara bergetar menahan tangis.


"Saya terima nikah dan kawinnya Tisyabina Adhisti Rahandika binti Pandu Rahandika dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai." Raka mengucapkan dengan satu tarikan napas yang lantang.


"Bagaimana para saksi?"


"Sah ...."


"Alhamdulillah," Raka ikut menengadahkan tangan ketika semua orang mengamini doa yang dipanjatkan untuk dirinya dan Adhisti.


......Tamaaaaaaaaaat......


Yaaahhhh ko tamat, Nyai?


Rendy gimana?


Delia juga gimana?


Mereka nganu-nganunya gimana?


Punya anak gak?


...tapi booong ...........


Selamat datang di dunia Raka dan Adhisti yang sesungguhnya akan segera dimulai ....


Sebucin apa Raka?


Semanja apa Adhisti?


Segila apa Rendy mengejar cinta?


Yuk kita tuntaaaasssskan setuntas-tuntasnya๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™


Terima kasih banyak banyak untuk emak dari Aa Attar, Dokter Nolan, Dokter Bellin dan lain-lainnya sudah mau aku borong dan aku repotkan selalu hatur nuhun pisan Teh Syaesha ๐Ÿ˜˜ jangan lupa mampir ke karyanya ya yang berjudul Menunggu Jandamu๐Ÿ’•


Terima kasih Untuk Emaknya Titahhh yang sudah mau aku repotkan selalu terimong geunaseh Cutka Nanda Malamsyah ๐Ÿ˜˜ jangan lupa mampir ke karyanya ya yang berjudul Dia yang kembali Datang๐Ÿ’•


Terima kasih untuk Nur Sarah atas ide tentang Thalassemia ini๐Ÿ’™


Terima kasih untuk Mili Karmeliam dan Ning Maharani Lovy sudah menjadi tempatku untuk mentranslate bahasa jawa๐Ÿ’™


Dan terima kasih untuk semua yang sudah mau mampir membaca kehaluanku dukungan kalian sangat luar biasa membuat mood booster tersendiri untukku ๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•