
Tak pernah Raka bayangkan jika tidur dengan seorang wanita akan semenyiksa ini, bahkan aroma parfum lembut milik sang istri bisa Raka cium di alam mimpinya. Degup jantung masih bergemuruh, ia lirik weker yang berada di atas nakas sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
Ada rasa tak tega ketika Raka hendak membangunkan Adhisti, akan tetapi ia harus mulai membiasakan Adhisti untuk salat tahajud. Raka usap kepala istrinya yang tertutup hijab, mencoba membangunkan dengan suara yang sangat lembut. Sedikit aneh memang, ia sudah sering meliat rambut Adhisti jadi untuk apa Adhisti memakai hijab saat tidur.
Hampir sepuluh menit Raka membangunkan, tetapi Adhisti hanya menggeliat lalu tidur kembali. Dengan sisa kesabarannya pria itu akhirnya membisikan sesuatu di telinga sang istri.
"Adhisti, bangun. Kalo gak bangun nanti aku cium."
"Hmm ...." Hanya itu yang keluar dari mulut Adhisti.
"Aku hitung sampe tiga, aku serius," Raka memperingati.
"Satu ...." ucap Raka seraya mendekat.
"Dua ...." Semakin mendekat.
"Tiga ...." ucap Raka di telinga Adhisti.
"Astagfirullah, Adhisti aku gak lagi becanda."
Raka terpaksa menepati ucapannya, ia kecup pipi sang istri. Namun, Adhisti bukannya bangun malah semakin terlelap dan tak menunjukkan sedikitpun pergerakan untuk membuka mata.
Pria itu bangkit meninggalkan istrinya yang masih bergulung dalam selimut, tak butuh waktu lama bagi Raka untuk membersihkan diri. Sekitar lima belas menit ia sudah keluar dengan rambut basah oleh wudhu, ia langsung memakai koko putih serta sarungnya.
Raka mendekat ke arah ranjang ketika ia menyadari ada sebuah pergerakan dari sang istri. "Adhisti, ayo bangun," ucapnya.
"Hm, iya, Pak ...." Adhisti akhirnya duduk dengan mata yang masih terpejam.
"Ayo bangun! atau mau aku cium lagi?" tanya Raka dengan nada yang sangat lembut tetapi sedikit mengancam.
"Hah?" Mata bulat milik Adhisti langsung terbuka sempurna.
"Kenapa?"
"Tadi Bapak bilang apa?"tanya Adhisti masih terlihat syok.
"Ayo bangun! atau mau aku cium lagi?" Raka mengulangi ucapannya.
"Jadi Bapak tadi nyium saya?" teriak Adhisti. Wajahnya yang putih semakin memperjelas rona merah di pipinya.
"Jangan teriak begitu. Meskipun kamar ini kedap suara, tetapi gak baik seorang wanita berbicara sambil teriak gitu." Raka menasehati dengan wajah tanpa dosa.
"Au ah, gelaaaaap, Paaaak." Adhisti berlari masuk ke dalam kamar mandi, ia sungguh sangat malu.
Raka hanya bisa tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, ia serasa memiliki mainan baru yang setiap saat bisa ia goda.
"Adhisti jangan lama-lama, kita salat tahajud bareng. Abis itu turun buat salat Subuh berjamaah." Raka sedikit meninggikan suaranya, ia takut Adhisti tak mendengar ucapannya.
"Iya, Pak."
Dua rakaat mereka laksanakan dengan khusyu, ada rasa syukur dalam hati Raka karena bisa mengimami wanita pilihannya. Raka membalikkan badan, bersila di hadapan Adhisti. Ia ulurkan tangan dan di sambut oleh Adhisti yang langsung mencium punggung tangannya, ia elus kepala sang istri lalu mencium keningnya. Pria itu sudah memimpikan kegiatan semacam ini sejak dulu dan Alhamdulillah allah mengabulkan mimpinya, sungguh kebahagiaan Raka memang hanya sesederhana ini.
❄️❄️❄️
"Nduk, kira-kira mau jam berapa kita pergi?" Umi Dahlia bertanya saat Adhisti ikut membantunya di dapur. Setelah salat Subuh tadi Adhisti menolak ketika Raka menyuruhnya beristirahat, perempuan itu lebih memilih turun kembali dan ikut menyiapkan sarapan. Sedangkan Raka sudah fokus membahas pekerjaan bersama Abi Faruq di teras depan, seraya menikmati udara pagi kota Jakarta.
"Aku terserah Umi aja."
"Gimana kalo jam sepuluh aja, Mbak?" Delia memberi saran.
"Memang Pak Raka gak sibuk kalo jam segitu, Dek?" celetuk Adhisti.
Delia tak bisa menahan rasa gelinya ketika sang kakak di panggil dengan sebutan pak. "Geli banget aku dengernya Mas Raka di panggil Pak gitu, Mbak."
"Eh iya maaf, kebiasaan di kampus, Dek." Adhisti meringis menahan malu. "Terus aku manggilnya apa dong?"
"Gimana kalo ay? Atau beb? Atau sayang? hahaha." Tawa Delia kembali menggema, Umi Dahlia dan seorang pekerja hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Delia yang senang sekali menggoda kakak iparnya.
"Ish kamu mah." Adhisti tersipu, ia jadi geli sendiri membayangkan bagaimana jika dia memanggil sang suami dengan sebutan sayang, tapi Adhisti juga berpikir sangat tidak sopan jika dirinya masih memanggil Raka dengan sebutan pak.
"Hahaha, aku jadi susah bedain mana muka Mbak sama tomat."
"Sudah-sudah, Dek, kasian itu Mbakmu jangan di godain terus." Umi Dahlia memperingati anak bungsunya yang sudah keterlaluan.
"Kamu bisa memanggil Raka dengan sebutan apapun, Nduk. Asal kamu nyaman," lanjutnya.
"Nggih, Umi."
Umi Dahlia langsung tersenyum ketika mendengar Adhisti mulai belajar menggunakan bahasa jawa kromo, ia tak salah pilih menantu karena Adhisti mau cepat belajar dan menyesuaikan pikir Umi Dahlia.
Sarapan pagi ini sangat berbeda untuk Adhisti, ia melayani sang suami persis seperti yang diajarkan mertuanya. Mengambilkan sarapan, menuangkan air putih untuk minum suaminya. Semua Adhisti lakukan karena Umi Dahlia bilang "Jika sedang di rumah apa yang masuk ke dalam perut suami kita, harus melalui tangan kita."
Awalnya Adhisti salah mengartikan kalimat mertuanya itu hingga dirinya berpikir apakah ia harus menyuapi Raka? Namun, Adhisti tak sampai mempermalukan diri karena ia melihat Umi Dahlia ketika melayani Abi Faruq dan menirunya.
"Untuk satu bulan ke depan Mas tidak perlu ke NarArt, biar Rendy yang menghandle semuanya, Mas."
Raka pandang sang abi dengan tatapan tak mengerti. "Kenapa, Bi?"
"Kamu fokus saja dulu menemani istrimu, kalian masih butuh banyak waktu berdua untuk saling mengenal satu sama lain. Pergi jalan-jalan atau bulan madu gitu," tutur Abi Faruq.
"Iya biar Mas sama Mbak cepet ngasih cucu yang lucu-lucu buat Umi sama Abi," celetuk Delia.
Membuat kakak iparnya menunduk menyembunyikan wajahnya ada sesuatu yang menyentil hatinya, sedangkan sang kakak langsung terbatuk hebat.
"Uhukkkk ... uhukkkk." Raka menyambar air di dekat tangan dan meneguknya hingga tandas tak tersisa.
"Pelan-pelan, Mas. Makannya," ucap Umi Dahlia, lalu berganti menatap sang anak bungsu. "Deek, jangan jahilin mas sama mbakmu terus."
"Maaf, Bi, tapi untuk dua pekan ke depan Raka benar-benar tidak bisa meninggalkan NarArt. Raka bahkan harus absen mengajar di kampus."
"Apa tidak bisa di handle oleh Rendy, Mas?"
"Rendy bahkan harus keluar kota minggu depan untuk melihat perkembangan proyek di Yogyakarta." Raka menjelaskan kepada Abi Faruq dengan mata yang tak lepas dari sang istri yang terus diam dan tak menyentuh sarapannya.