Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 06



"Mas harus cerita sekarang juga, Delia gak mau tau." Kalimat itu yang keluar dari mulut Delia, saat mereka baru saja memasuki rumah. Pemuda itu tadinya akan menginap di rumah sakit, tetapi kedua orang tua Adhisti menyuruhnya pulang karena tak tega melihat gadis manis itu harus ikut tidur di rumah sakit.


"Gak bisa besok aja, Dek? Mas cape banget ini ...." Raka mencoba tawar-menawar dengan sang adik.


"Gak bisa, Mas." Delia tak mau mendengar alasan.


" Oke ... sini!" Raka duduk di sofa dan menepuk-nepuk sisinya agar Delia duduk di sana. Gadis itu menurut saja, ikut mendaratkan tubuhnya di samping masnya.


"Apa yang kamu ingin tau, hm? Jangan sampai rasa penasaran kamu itu melenyapkan nyawamu dengan perlahan, Dek."


"Astaghfirullah, Mas. Gitu amat, aku cuma kepo sama Mas doang kok."


"Yakin?" Raka mengangkat alisnya.


"Udah ah ... Ayo jawab siapa mba-mba tadi? Kenapa Mas nyuruh dia masuk ke ruangan abi? Kenapa Mas keliatan khawatir banget sama dia?" Delia menyerbu sang kakak dengan banyak pertanyaan. "Jangan-jangan dia pacar Mas, ayo ngaku, Mas!"


Raka menarik napas, ia bingung harus menjawab apa,. Jika Raka jujur adiknya pasti akan langsung bercerita kepada sang umi, jika berbohong itu bukan pilihan karena uminya tidak pernah mengajarkan hal itu. Dan ia selalu menuruti ucapan umi nya. Catat itu, Raka tidak pernah membatah sang umi.


"Dia mahasiswi, Mas. Dia sedang magang di kantor abi, dan kamu liat sendiri dia sakit. Mas diberi amanah oleh ayahnya untuk menjaganya." Raka mencoba bersikap biasa dan tidak banyak bicara, sedikit lagi dia bicara adiknya pasti akan memiliki celah untuk mengorek lebih dalam.


"Oooh ...." Delia ber-oh, Raka berdiri ingin segera membaringkan tubuhnya ketika Adelia menarik bahunya.


"Eh tapi bukannya di kantor abi nggak boleh ada yang magang ya, Mas? Mas sendiri kan yang bilang ke abi, Mas gak mau kantor jadi ribet gara-gara mahasiswa yang magang, hayo ... hayo." Pupil mata Delia menyipit, Dia mulai mencium bau tidak beres.


"Ah sudahlah, Mas mau tidur cape." Hanya itu yang bisa Raka ucapkan, langkah selanjutnya adalah berlari pergi menjauh dari adiknya, mengabaikan panggilan adiknya yang semakin lama semakin melengking. Ia sudah kehabisan kata-kata, Bodohnya dia melupakan aturan di kantor yang dia buat sendiri hanya demi seorang Tisyabina Adhisti Rahandika.


Di rumah sakit Adhisti mulai membuka matanya ketika sang dosen sudah pulang, badannya sungguh sangat lemas bagai tidak memiliki tulang.


Ia hanya bisa menggerakkan kepalanya untuk melihat sekitar, tampak ruangan yang sangat asing baginya. Namun, aroma yang ia cium sudah bersahabat baik dengannya, aroma rumah sakit dan obat-obatan memiliki cirikhas tersendiri.


Di pandanginya sang ibu yang sudah terlelap di sofa, sedangkan sang ayah tidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya. Adhisti meneteskan air matanya sungguh dia sudah lelah, dia tak tega harus terus menyiksa dan merepotkan kedua orang tuanya.


Tuhan andai boleh aku meminta ajaklah pulang aku sekarang, aku sudah tak sanggup melihat raut kesedihan di wajah kedua orang tuaku, tubuhku pun sudah lelah selalu ditusuk jarum-jarum yang menyakitiku setiap saat. Semangat hidupku sudah tergerus habis oleh rasa lelah ini.


❄️❄️❄️


Subuh kali ini berbeda, biasanya Raka yang akan mengimami salat, tetapi sampai matahari mengintip dia tidak kunjung menunjukan batang hidungnya. Bukan hanya Adelia yang bingung, seluruh pekerja rumah pun heran tumben sekali anak sulung dari majikannya ini tidak melaksanakan salat Subuh di musola kecil rumahnya.


Pemuda itu baru keluar dari kamar sekitar pukul delapan pagi, melangkahkan kaki keluar rumah untuk menyalakan mobilnya. Sang adik sampai berlari karena takut ditinggalkan sang kakak.


"Mas, kenapa sih aneh banget hari ini?" tanya Delia saat sudah mendudukan diri di kursi samping kemudi, Raka diam tak menjawab ucapan adiknya.


"Ih di tanya diem aja, aku tau kok ... Mas pasti ngehindarin aku gara-gara takut di tanya soal Mba Adhisti iya'kan ngaku gak?"  Delia terus mengoceh hingga Raka tidak tahan lagi.


Kesunyian itu berlangsung selama sisa perjalanan mereka, hingga sampai di kampus Delia mencium tangan kakaknya kemudian turun dari mobil. Raka tidak ikut turun, dia melajukan kembali kendaraannya menuju Narart Company.


Raka bergegas ke ruangan Rendy,  pria bermata hanzel dan bertubuh tinggi itu tak ada di sana. Ia mencari ke sana kemari hingga berakhir di ruang rapat,  suara pria yang sedang menutup rapat terdengar menggema sampai di luar ruangan.


Raka menunggu hingga sang pemilik suara keluar, lalu ia tarik begitu saja. Ia abaikan semua tatapan karyawan yang menatapnya heran.


"Astaghfirullah ...." Rendy kaget melihat tangannya ditarik oleh seseorang.


"Gak perlu main tarik bisa? udah dateng telat, gak mimpin rapat sekarang dateng maen tarik. Lu pikir gue layangan ditarik-tarik." Rendy mulai emosi.


Harusnya hari ini memang Raka yang memimpin rapat, tetapi ketika subuh Raka mengiriminya pesan untuk menggantikannya memimpin rapat karena dia belum siap.


"Kita ke rumah sakit sekarang, perasaanku gak enak, Ren," ujar Raka.


"Gak ada yang namanya rumah sakit, masuk ruang direktur sekarang dan beresin kerjaan lo!" Rendy geram. Dia tau Raka pasti mencemaskan Adhisti, tetapi kantor ini juga tanggung jawabnya. Bagaimana jika Abi Faruq pulang dan Raka masih belum menguasai medan. Bisa-bisa dia yang di ceramahi.


"Setelah kerjaan beres baru kita ke rumah sakit, tenang aja di sana ada orang tuanya . Insya Allah dia gak akan apa-apa." Rendy akhirnya memberikan solusi.


Jam makan siang digunakan dua pria itu untuk pergi ke rumah sakit, memuaskan rasa penasaran Raka yang selalu bilang perasaannya tidak enak.


Di dalam lift, dia melirik seorang wanita cantik yang menggunakan dress selutut di balut snelli putih yang menandakan dia seorang dokter itu terkesan sangat anggun. Rambutnya di biarkan tergerai membuat mata Rendy tidak bisa berpaling untuk terus menatapnya. Insting pemangsanya langsung bekerja, namun takdir belum berpihak padanya Lift sudah terbuka sebelum Rendy memulai aksinya dan mereka melangkah berlainan arah.


Raka membuka pintu ruang rawat inap Adhisti di sambut dengan suara ibu dari sang gadis.


Selang transfusi darah masih menempel di lengannya, semangkuk bubur terlihat masih belum tersentuh di atas meja. Apakah ini yang Bu Maya lakukan sejak tadi membujuk Adhisti untuk makan. Raka terus berfikir kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


Akhirnya dia memberanikan diri mendekati ranjang gadis itu. Tatapan mata mereka bertemu, ada sedikit getaran aneh di hati Raka saat dia menatap manik mata indah milik Adhisti.


"Bapak ngapain ke sini?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir pucat Adhisti.


Rendy di depan pintu sungguh ingin tertawa, mendengar pertanyaan yang di ucapkan Adhisti. Bagaimana tidak, Raka sudah uring-uringan sejak pagi menghawatirkan gadis itu, sedangkan yang di khawatirkannya malah bersikap seperti ini. Ah sepertinya Raka harus berjuang ekstra.


"Saya ke sini hanya kebetulan saja," ucap Raka, ia langsung mengambil alih bubur dari tangan Bu Maya. "Lebih baik kamu segera makan. Atau kamu menunggu saya untuk menyuapi kamu?"


Pupil mata Adhisti melebar, dia kaget dengan ucapan sang dosen. Bukan hanya Adhisti, tetapi Rendy dan Maya pun tidak kalah terkejutnya.


"Mungkin kamu tidak seberuntung orang lain, tapi orang lain belum tentu sekuat kamu. Kenapa harus kamu? karena kamu mampu," lanjut Raka.


❄️❄️❄️