Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 03



"Mba Adhisti, sudah siang, Mba. Katanya hari ini mau magang," terdengar suara Mba Sari disertai dengan ketukan bertempo.


"Iya, Mba Sari, Adhisti udah bangun kok." Suara dari balik pintu membuat Mba Sari undur diri dari depan kamar anak majikannya itu.


Adhisti rupanya sudah siap di depan kaca dengan bathrobe putih melekat di badannya, ia masih bingung memilah-milah pakaian apa yang kira-kira akan ia kenakan untuk hari pertamanya magang.


"Ini formal gak sih?" tanya Adhisti pada diri sendiri sambil memperhatikan pantulan kaca yang menampakkan gadis bercelana jeans dengan kemeja hitam, dan mulai melepaskan lagi ketika dirasa tidak cocok. "Enggak deh kayaknya."


Setelah empat pasang baju yang ia coba, akhirnya Adhisti memilih rok sepan peach diatas lutut dengan atasan blazer berwarna broken white. Adhisti mengayunkan kakinya yang terbalut sneakers berwarna abu peach keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya sebelum berangkat.


Saat menuruni tangga bisa dilihat Maya tengah menatapnya dengan senyum kagum.


"Ya Allah inikah anak yang ku lahirkan dua puluh satu tahun lalu? tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dia begitu cantik meski berbeda dengan yang lain, Kecantikannya bahkan bisa menutupi kekurangannya," gumam Maya.


Dulu saat pertama kali Maya mengetahui anaknya berbeda. Dia begitu sedih dan syok. Menangis setiap hari adalah kegiatan yang selalu ia lakukan sampai dia menyalahkan takdir kenapa harus anaknya? padahal dari keluarga besar dia ataupun sang suami tak ada yang mengidap penyakit mengerikan itu, tetapi lambat laun dia mulai menerima dan mengerti bahwa anaknya istimewa keluarganya istimewa, Tuhan tak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hambanya.


Sejak saat itu dia dan Pandu suaminya mulai semangat untuk terus menjaga dan memberikan yang terbaik untuk anak semata wayangnya.


Suara langkah kaki membuyarkan semua lamunan Maya. Anaknya sudah berada di hadapannya dengan semangat penuh. Dia lalu mengajak Adhisti ke meja makan untuk sarapan.


Adhisti menghabiskan sarapannya, meneguk air putih hingga tandas. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bangkit dari duduknya.


Bersama Ayah, Adhisti berangkat menuju Narart Company. Mobil Pajero Sport milik Ayah Adhisti membelah jalanan Ibu kota yang masih lenggang di pagi hari ini.


***


Nampak bangunan kokoh menjulang tinggi dengan lalu-lalang karyawan di sekitar bangunan itu. Meskipun jam kantor belum mulai, tetapi sudah banyak karyawan yang berdatangan. Entah mereka saking rajinnya atau saking takutnya akan potongan gaji.


Adhisti memasuki lobby kantor dengan langkah santai, ia tiba 10 menit lebih awal dari jam yang ditentukan kantor untuknya. Hari ini ia akan ada sedikit wawancara kemudian pengarahan dari bagian HRD untuk penempatannya.


"Selamat pagi, Mba." Adhisti menyapa kedua wanita yang berada di balik meja resepsionis, bermaksud menyampaikan tujuannya datang kesini.


"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?" jawab salah satu resepsionis dengan name tag Tika Wulansari.


"Begini, Mba, saya Adhisti dari Universitas Indonesia." Adhisti mulai menjelaskan semua keperluannya datang ke kantor ini secara detail.


Resepsionis bernama Tika tadi kemudian menghubungi pihak terkait dan menyuruh Adhisti untuk menunggu beberapa saat di sofa yang berada di depan meja resepsionis.


Adhisti melihat-lihat sekelilingnya, banyak karyawan yang mulai berdatangan. Ada beberapa yang terus memperhatikan ia duduk di sofa lobby, berbisik-bisik dengan melihat ke arahnya membuat Adhisti beranjak dari duduknya.


"Adhisti, Universitas Indonesia?" tanya seorang pria yang tiba-tiba menghampiri Adhisti ketika ia beranjak dari duduknya.


"I-iya, Pak." Adhisti menyambut uluran tangan pria tersebut.


"Saya Rendy sekertaris di Narart Company dan ini Bu Risa Manager di bagian business development, beliau yang akan memberitahu pekerjaanmu dan akan mengajakmu berkeliling kantor ini."


Setelah mengucapkan itu orang yang memperkenalkan diri bernama Rendy itu meninggalkannya begitu saja. Adhisti melirik wanita di sebelahnya lalu tersenyum.


"Salam kenal, Bu. Perkenalkan nama saya Adhisti," ucapnya canggung sambil mengulurkan tangan. Tanpa diduga Bu Risa yang mempunyai wajah sedikit tidak ramah itu menyambut uluran tangannya dan tersenyum.


"Saya Risa. Oke, Adhisti mari ikut saya." Adhisti mengikuti langkah Bu Risa memasuki lift.


Adhisti terus mengikuti langkah Bu Risa sambil terus mendengarkan apapun yang Bu Risa ucapkan.


"Kamu akan ditempatkan di bagian riset pasar, jadi tugas kamu nanti mencari peluang pelanggan baru dan menjaga relasi antar pelanggan atau klien, mengerti?"


"Mengerti, Bu ..." jawabnya dan setelah menjelaskan pekerjaannya Bu Risa mulai mengajaknya untuk berkeliling kantor yang sangat luas itu dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya, hingga rasa lelah mulai menyerang tubuhnya. Ingin rasanya ia meminta izin kepada Bu Risa untuk beristirahat sejenak, akan tetapi ia urungkan karena Adhisti sadar ini bukan kantor sang ayah ia tak bisa seenaknya.


***


Di pagi yang sama seorang pria yang sudah memakai kemeja berwarna navy dengan celana jeans berwarna gelap dan arloji yang bertengger manis di lengan kirinya itu tengah mengotak-atik ponselnya mencari nama seseorang untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.


Tiga kali nada sambung terdengar, hingga muncul suara seseorang di sebrang sana.


"Halo ..."


"Assalamualaikum, Ren."


"Waalaikumsalam ya ahli sarung ... angin apakah ini yang membawa seorang calon CEO menelpon saya pagi-pagi seperti ini?" jawab Rendy yang tak lain sahabat sekaligus asisten sang abi.


"Kamu sudah baca pesan saya? ingat laporkan semua apapun tentang dia, dan jangan berikan posisi yang membuat dia sampai kelelahan."


"Iya, Ka, iya. Masya Allah banget, seorang Caraka Nararya kok bisa banyak omong begini. Emang dia siapa sampe lo sebegitu perhatiannya?" Rendy mulai penasaran, sebab bertahun-tahun dia mengenal Raka belum pernah dia banyak bicara. Apa lagi ini hanya untuk seseorang yang dia sebut mahasiswinya itu mustahil, sangat tidak mungkin.


"Sejak kapan kamu menjadi orang yang ingin tau urusan orang lain?" Bukannya menjawab Raka malah balik bertanya.


"Apa salahnya? Di lihat dari fotonya saja sudah cantik apa lagi aslinya. jika dia bukan pacarmu, lebih baik gue jadiin pacar aja," pancing Rendy. Dia semakin penasaran karena Raka lebih memilih mengalihkan pembicaran alih-alih menjawab pertanyaannya.


"Jangan macam-macam kamu!" Raka mulai meninggikan nada suaranya, ia geram dengan ucapan Rendy. Siapa yang tak kenal Rendy Bimayu sang cassanova yang sudah melanglang buana di dunia persilatan. Sejak dulu Rendy bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan, sekali lirik saja wanita akan langsung menyerahkan diri. Berbeda dengan Raka yang memang sejak dulu belum pernah berdekatan dengan wanita manapun. Alhasil saat Raka sedikit saja memberikan rasa peduli pada seorang wanita Rendy dengan mudah bisa menyimpulkannya.


"Haha ... Gue makin yakin dia bukan sekedar mahasiswimu, Mas dosen. Akhirnya, anak Abi Faruq akil baligh juga. Jujur aja atau gue cari tau sendiri."


"Kau ... -"


Tok tok tok


Belum sempat Raka melanjutkan ucapannya yang hendak menyumpahi sang sahabat, terdengar suara pintu diketuk dan disusul suara cempreng sang adik menghentikan ucapan Raka.


"Mas, dipanggil tuh sama abi. Udah ditungguin di bawah buat sarapan."


"Iya, Dek ... duluan saja, nanti Mas nyusul," teriak Raka, lalu melanjutkan percakapannya dengan Rendy tentunya membahas pekerjaan dan sedikit peringatan kepada Rendy tentang Adhisti.


Raka berjalan mendekati meja makan, terlihat sang abi, umi dan adiknya tengah menyantap sarapannya masing-masing dengan khidmat. Raka langsung duduk di kursi yang biasa dia duduki.


"Masih pagi udah sibuk aja, Mas," ucap sang umi sembari menyodorkan piring sarapan milik Raka.


"Nggih, Umi ... " Hanya itu yang keluar dari mulut Raka, dia lebih memilih memulai memakan makanannya. Raka bukan orang yang pemilih soal makanan, apapun yang uminya masak akan Raka makan.


Sejak kecil, Abi Faruq selalu mendidik anak-anaknya untuk menghargai dan mensyukuri apapun yang menjadi rejeki mereka hari ini, termasuk tak memilah-milah makanan.


"Habiskan sarapannya, Mas. Setelah sarapan abi tunggu Mas Raka di teras depan, ada beberapa hal yang ingin abi bicarakan." Abi Faruq pergi terlebih dahulu ke teras depan meninggalkan anak sulungnya yang masih menyuapkan sarapannya.


Raka tak menjawab ucapan sang abi, hanya anggukan kepala yang menjadi jawaban, meski penasaran Raka tetap menghabiskan sarapannya terlebih dahulu. Setelah itu baru menyusul abinya ke teras depan.


Sesampainya di teras Raka melihat ada beberapa tumpukan map dan ada sebuah amplop coklat di atas meja, entah kenapa dia curiga dengan isi amplop cokat itu. Semoga apa yang ada dalam benaknya salah besar.


"Abi mau bicara apa?" tanya Raka setelah mendudukan diri di kursi yang bersisian dengan abinya.


"Kamu pasti sudah tau, Mas, seminggu lagi adalah tanggal keberangkatan Abi dan umimu untuk ke rumah Allah. dan Abi ingin Mas sudah mulai menengok perusahaan," Abi mulai berbicara. Entah kenapa ucapan sang abi sekarang lebih seperti angin surga yang menyejukan di telinga Raka.


Saat mendengar kata perusahaan tiba-tiba terbayang wajah cantik milik sang mahasiswi yang mungkin sekarang sudah berada di perusahaan abinya. Senyuman tipis pun terbit dari bibir pria bermata tajam itu. Hanya sedikit bahkan sang abi pun tak bisa melihatnya. Sungguh Raka adalah salah satu mahluk ciptaan Allah yang bisa menyembunyikan segala sesuatu dengan wajah datarnya.


" Nggih, Abi ... Insya Allah nanti Raka ke sana."


"Ini semua berkas-berkas penting milik perusahaan. Jaga baik-baik ya, Mas, saat Abi nggak ada." Abi Faruq menyerahkan setumpuk map itu kepada Raka dengan senyum lega, namun belum sempat Raka menarik tangan abinya sudah menyodorkan sebuah amplop coklat yang di curigai Raka.


"Dan ini ada titipan dari Ustaz Anwar untuk Mas."


***