
Maya keluar dari kamar Adhisti, ia baru saja selesai memberikan vitamin pada anaknya. Adhisti sudah diperbolehkan pulang sejak seminggu yang lalu, itu membuat Maya sedikit lega karena ia tidak perlu melihat tangan anaknya yang terus ditusuk jarum.
Ia menuruni anak tangga satu persatu, lalu berbelok ke arah dapur untuk menyimpan nampan berisi gelas. Terlihat sang suami tengah duduk di ruang keluarga, menonton televisi yang tengah menayangkan acara sepak bola.
Maya melangkah dan duduk di samping sang suami, ia beranikan diri untuk bertanya kepada suaminya "Yah, apa Ayah sudah yakin dengan Pak Raka?"
Pandu memalingkannya badannya menghadap sang istri. Ia mengerti kegundahan yang di alami Maya, karena dia sendiri pun merasakan hal yang sama.
"Semoga ini yang terbaik, Bun. Bunda bisa liat kan ketulusan Ibunya Pak Raka, Adhisti pun langsung dekat dengan beliau." Pandu mencoba menenangkan hati istrinya.
"Memang Umi Dahlia sangat baik, tapi Bunda masih belum bisa melepaskan Adhisti, Yah. Bunda takut Adhisti tidak bahagia."
"Kita do'akan saja, Bun. Bukannya do'a orang tua itu sangat mustajab, apa lagi do'a seorang ibu. Sudah lebih baik kita istirahat ini sudah malam."
Di dalam kamar Adhisti yang sedang berusaha memejamkan matanya terganggu oleh getaran ponsel di atas nakas. Mau tidak mau ia bangun mengambil ponselnya dan duduk bersila dengan bantal di atas pangkuannya, Terlihat jelas dari notifikasi di layar pesan yang baru saja masuk itu dari sang dosen. Perasaannya langsung menghangat, timbul rasa senang di hati Adhisti tangannya berasa sangat gatal sekali ingin membalas. Namun, ia tahan.
Sejak kejadian di rumah sakit tempo hari, perasaan Adhisti kepada Raka semakin tidak menentu. Raka semakin berani memberikan perhatian padanya, meski hanya sekedar mengirimi sebuah pesan singkat atau menelpon. Raka akan menanyakan apa yang sedang Adhisti inginkan lalu selang beberapa menit seorang pengantar makanan akan datang ke rumah. Kadang juga cheesecake atau puding bunga telang buatan Umi Dahlia yang diantarkan oleh seorang kurir, dan semua itu membuat pertahan Adhisti sedikit demi sedikit melemah.
Adhisti terus memandangi ponselnya, hatinya bimbang memikirkan Raka. Apa sudah saatnya ia membuka hati untuk seorang pria, apalagi pria itu Raka. Ia ingin tentu saja sangat ingin, akan tetapi ia takut mengecewakan Raka dan keluarganya, takut ditinggalkan oleh Raka karena penyakitnya, dan ia takut penyakitnya ini akan menurun pada anaknya kelak.
Dulu Adhisti pernah bertanya kepada dokter yang menanganinya, apakah Thalassemia Mayor bisa menular karena ia takut ayah dan bundanya akan tertular. Dokter menjawab jika thalassemia tidak menular melainkan bisa diturunkan, sejak saat itu ketakutannya mulai semakin bertambah. Ia tidak mau itu semua terjadi, cukup dirinya yang merasakan semua sakit ini jangan sampai orang yang ia sayangi ikut merasakannya apalagi anak-anaknya.
Tanpa terasa air mata Adhisti mulai menetes, meluncur bebas melewati pipi dan mendarat di bantal yang berada dipangkuannya. Membayangkannya saja sudah sangat menyesakkan, apalagi jika sampai itu semua terjadi. Tidak Adhisti tidak akan membiarkan itu semua terjadi, ia harus tetap bertahan ia harus tetap menolak Raka. Raka pantas untuk bahagia, Raka pantas mendapatkan wanita yang sehat. Bukan wanita penyakitan seperti dirinya.
Ia usap air mata yang mulai mengering di pipinya, dan mulai menekan beberapa huruf untuk membuka kunci layar ponselnya.
Pak Raka:
Assalamualaikum Adhisti.
Saya bisa meminta waktunya sebentar?
Besok jam 10 saya tunggu di taman kota.
Wassalamu'alaikum.
Adhisti hanya membaca pesan dari Raka, tidak ada niatan sedikitpun untuk membalas pesan itu. Ia harus melakukan ini agar Raka pergi dari hidupnya, ia tak mau Raka terus-menerus mengharapkannya. Maka dari itu Adhisti putuskan besok akan menemui Raka untuk memperjelas semuanya.
***
Sekitar pukul sepuluh Adhisti sudah sampai di taman kota, namun sosok Raka belum terlihat bahkan aroma parfumnya pun belum tercium di indera penciuman Adhisti.
Adhisti putuskan untuk menunggu di bangku taman yang berada di bawah pohon Akasia. Sekitar sepuluh menit Raka datang dengan wajah yang penuh senyuman sungguh membuat Adhisti tidak bisa berkutik, untuk mengedipkan mata saja rasanya enggap apalagi untuk mengalihkan pandangannya.
"Iya Pak gak apa-apa, saya juga belum lama. Ada apa bapak mengajak saya bertemu?" Adhisti berdiri dan langsung bertanya maksud sang dosen mengajak dirinya bertemu.
Raka terlihat menarik nafas panjang lalu berucap "Ayo menikah! Jika kamu setuju abi dan umiku akan datang nanti malam ke rumah untuk melamarmu secara resmi."
"Hah?" Adhisti kaget setengah mati saat sang dosen mengatakan tujuannya mengajak bertemu.
"Saya serius." Mata elang milik Raka menatap tajam kearah Adhisti.
"Bapak sehat?, bapak kayanya harus ke dokter, kebanyakan mikirin sarung sama ngajar jadi ngelantur begini ngomongnya."
Raka mengerutkan dahinya. Apa ucapannya kurang meyakinkan sampai-sampai Adhisti menganggapnya ngawur, tetapi jika bukan sekarang dia takut akan ada rival baru yang bisa datang kapan saja. Raka tidak ingin itu terjadi, Raka tidak ingin ada penyesalan lagi dalam hidupnya.
"Umi saya menginginkanmu menjadi menantunya. Makanya saya lamar kamu."
Adhisti semakin dibuat terperanga oleh ucapan Raka, sebenarnya sang dosen tengah mengajak menikah atau mengajak dia membeli bakso.
"Maaf pak tapi saya tidak bisa menikah dengan Bapak." Adhisti mencoba menolak secara halus.
"Kenapa?" Tanya Raka mulai putus asa.
"Y-yaa karena saya tidak ingin menikah dengan bapak."
"Astagfirullah! iya saya tau, tapi kenapa? Harus ada alasannya kan?"
"Kita baru kenal, Pak. Dan bapak juga belum tau saya lebih dalam."
"Itu soal mudah, kita bisa saling mengenal setelah sah. Saya rasa sudah cukup bagi saya mengenal kamu, jangan mempersulit sesuatu yang mudah Adhisti. Saya tidak ingin merendahkanmu dengan mengajak kamu berpacaran, lebih baik kita menikah."
"Tapi saya tetap tidak mau, Pak. Bapak bisa dapetin gadis yang lebih baik."
"Kalau nama saya yang tertulis di Lauhul Mahfudzmu, kamu bisa apa?" Raka terlihat mulai kesal.
Adhisti diam menunduk, ia bingung harus menjawab apa lagi. Kenapa Raka harus membawa-bawa lauhul Mahfudz segala jelas saja Adhisti tidak mengerti.
"Maaf, Pak. Sekali lagi saya tegaskan saya tidak bisa menikah dengan bapak, Pak Raka bisa mencari wanita lain. Lebih baik bapak jangan pernah mengganggu saya lagi, permisi Assalamualaikum," setelah itu Adhisti berlari pergi meninggalkan Raka yang berdiri mematung dibawah pohon Akasia yang mengugurkan bunga kuningnya saat tertiup angin.
"Waalaikumsalam."
❄️❄️❄️