Tisyabina Adhisti

Tisyabina Adhisti
Adhisti 35



"Umi ...." gumam Adhisti lirih.


Ia tak mengerti maksud dari Umi Dahlia memberinya beberapa merk alat tes kehamilan, ia merasa tubuhnya baik-baik saja. Tidak ada rasa mual atau keluhan apapun yang menjuru ke ciri-ciri kehamilan, bahkan tubuhnya sangat sehat.


"Coba dulu satu ya, Nduk," ucap Umi Dahlia.


"Ta-tapi, Mi. Adhisti gak hamil,"


"Apa bulan ini kamu sudah datang bulan, Nduk?"


Adhisti menggeleng, dia memang sering telat datang bulan bahkan sampai dua bulan. Namun, ia selalu berpikir bahwa itu memang efek kondisinya. Semenjak Raka memutuskan untuk berhenti mengikuti program kehamilan dan tak ingin membahas soal anak, Adhisti seperti sudah tidak perduli lagi tentang siklus menstruasinya.


"Makanya ayo coba dulu, Sayang." Umi Dahlia terlihat berbinar, tetapi berbeda dengan Adhisti yang sangat takut mengecewakan sang mertua.


"Adhisti gak merasakan perubahan apapun dalam tubuh Adhisti, Umi. Apa masih perlu alat ini?" Mata wanita itu terus menatap setumpuk alat tes kehamilan yang masih utuh di dalam kantor plastik.


"Mungkin kamu memang tidak, Nduk, tetapi suamimu yang merasakannya."


Adhisti tatap wanita paruh baya dengan wajah yang sangat bercahaya dan meneduhkan di depannya, ia semakin tidak mengerti dengan ucapan-ucapan itu.


"Maksudnya, Umi?"


"Raka yang menanggung semua kesusahan yang harusnya kamu rasakan, Nduk. Apa kamu ingat semua perubahan sikapnya? Bahkan suamimu tak bisa makan apapun dan terus mengeluh pusing serta mual?"


Adhisti melebarkan pupil matanya, ia baru ingat semua itu. Hanya buah dan air teh tawar panas yang bisa masuk ke dalam perut Raka hampir seminggu ini.


"Coba ya, Nduk. Kata orang lebih efektif di gunakan saat bangun tidur, tetapi tidak ada salahnya kita coba sekarang," bujuk Umi Dahlia.


Adhisti menurutnya, ia mengambil satu buah alat itu dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Hampir lima menit Adhisti berada di dalam, hingga ketukan di pintu yang di iringi suara Umi Dahlia membuat Adhisti keluar dengan mata berkaca-kaca.


"I-ini Umi hasilnya," Adhisti menjulurkan tangan yang menggenggam sebuah tespek dengan gemetar.


"Alhamdulillah ya Allah." Umi Dahlia langsung memeluk erat Adhisti dan melantunkan doa-doa agar menantu dan calon cucunya mendapatkan kesehatan, keberkahan serta keselamatan.


"Kenapa sedih, Nduk?" tanya Umi Dahlia saat melihat raut wajah Adhisti yang seperti orang kebingungan dengan air mata yang terus mengalir.


"Ba-bagaimana jika Mas Raka tau, Umi? Ba-bagaimana jika Mas Raka marah lagi? Aku takut Mas Raka mengambil calon anakku, Umi." Sungguh Adhisti sangat bahagia, akan tetapi raut wajah penuh kemarahan dan ucapan suaminya tiba-tiba memenuhi pikirannya.


Umi Dahlia kembali memeluk tubuh mungil menantunya. "Tidak akan pernah, Sayang. Raka tidak akan mungkin tega melakukan itu, jika Raka sampai berani melakukannya Umi dan Abi yang akan melindungi kamu dan calon anakmu, Nduk. Kamu tenang saja, jangan banyak pikiran sekarang yang terpenting adalah kesehatan kamu dan calon cucu Oma ini." Umi Dahlia mengusap perut rata Adhisti dengan penuh sayang.


"Kamu mau pergi ke dokter kandungan sekarang atau besok saja, Nduk?"


"Bagaimana kalo besok saja, Umi?"


"Baik, besok Umi akan menemanimu periksa ya, Nduk. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja, ya, jangan turun ke bawah untuk membantu Umi, jangan sampe kecapean ya, Nduk." Adhisti sangat bersyukur bisa memiliki mertua yang sangat menyayanginya, ia hanya bisa mengucapkan maaf dan terima kasih kepada Umi Dahlia.


Setelah kepergian sang mertua, Adhisti yang masih belum menyangka dirinya hamil kembali masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa kantong pelastik yang masih berisi beberapa bungkus tespek yang berbeda merk.


Hanya butuh waktu beberapa detik dan semua tespek itu memberikan jawaban atas keraguan Adhisti. Adhisti masih bingung dan dilema air mata terus mengalir deras, ia peluk perut rata miliknya. Bagaimana ia memberitahu suaminya tentang kehamilan ini? Apa reaksi Raka jika tahu dirinya hamil? Apa ia akan bahagia atau malah langsung menyuruh Adhisti mengugurkan kandungannya?


Adhisti menggelengkan kepalanya, ia mencoba membuang semua pemikiran jelek tentang sang suami. Wanita itu lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan membiarkan tespek-tespek itu tergeletak begitu saja di wastafel kamar mandi.


❄️❄️❄️


Pria berkemeja hitam memasuki kamar saat jam menunjukkan pukul setengah enam sore, Raka gegas membersihkan diri dan ingin segera ikut bergulung dalam selimut ketika melihat sang istri yang masih terlelap.


Namun, semua keinginannya sirna begitu saja saat ia melihat beberapa tespek di wastafel dengan dua garis merah dan tulisan yes. Raka bukan orang bodoh yang tak mengerti arti tanda dan tulisan itu, ia segera memakai kembali kemejanya dan berlalu pergi sambil membawa alat tes kehamilan itu.


Tujuannya adalah kembali ke NarArt, sepanjang jalan pikirannya di penuhi oleh pikiran-pikiran buruk akan apa yang terjadi kepada istrinya. Ia sempatkan mampir ke masjid untuk melaksanakan salat Magrib, barulah ia menemui Rendy yang masih bergulung dengan semua data dan berkas-berkas.


"Assalamualaikum," ucap Raka.


"Waalaikumsalam, lah lo ngapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?" Rendy heran, ia amati seluruh penampilan sahabatnya. Tak ada yang berubah kecuali raut wajahnya yang keruh bagaikan air banjir bandang.


Raka langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia sugar surai hitam miliknya kebelakang. "Sekarang aku harus bagaimana, Ren?"


"Maksud lo?" Rendy mengerti ada yang tidak beres dengan Raka, ia hentikan pekerjaannya dan ikut duduk di sofa panjang bersama Raka.


"Aku bermaksud melindunginya, tapi aku malah mengajaknya sedikit demi sedikit ke arah kematian." Setitik air jatuh dari mata elangnya.


"Lo ngomong yang jelas." Rendy mulai khawatir, baru kali ini ia melihat Raka menangis.


"Adhisti hamil," tutur Raka, sambil menaruh beberapa hasil tes kehamilan itu di atas meja.


"Alhamdulillah dong, lo harusnya bersyukur berarti dia bibit pilihan yang kuat, terbukti meski lo sering nahan, bibit lo tetep pengen tumbuh. Jangan sampe lo apa-apain calon ponakan gue, awas lo! Percaya aja sama Allah, gak ada yang impossible buat Allah." Rendy mengerti ketakutan Raka, tetapi ia percaya Adhisti dan Raka pasti bisa melewati ini semua.


"Aku tidak akan tega membunuh anakku sendiri, Ren, akan tetapi aku tidak siap dengan yang akan terjadi kedepannya."


"Siap gak siap lo kudu siap, Ka. Inget lo kuat Adhisti juga akan kuat, semua tergantung di lo. Yang penting lo harus rutin cek kondisi Adhisti, konsultasi, tanya bener-bener sama dokter kandungan yang nanganin Adhisti apa aja yang harus di perhatikan. Tanya apa yang sedang Adhisti inginkan dan rasakan, lo harus lebih peka. Jadilah suami siaga, Kak, gue percaya lo berdua bisa ngelewatin ini semua."


Obrolan mereka terganggu oleh suara dering panggilan masuk dari ponsel Raka, pria itu menghela napas dalam ketika nama Habibatie yang muncul dalam layar ponsel.


"Assalamualaikum, By." Raka buat suaranya sebiasa mungkin agar Adhisti tak khawatir dan banyak pikiran.


"Iya, By. Sebentar lagi aku pulang, ini masih membahas pekerjaan dengan Rendy."


"Waalaikumsalam, By." Setelah panggilan terputus Raka kembali menyandarkan kepalanya.


"Hadapi, Ka. Gue tau dalam lubuk hati lo yang paling dalam, lo pasti orang yang paling bahagia atas kabar ini. Sana balik temuin bini lo, bilang kalo lo nerima kehamilannya."


❄️❄️❄️